Ibarat sebuah tenggat waktu yang kian mendekat, kita kini berada di posisi H-2 menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1437 H. Sebagai pemilik sekaligus penulis di blog Blank's Stories ini, aku merasa momen ini adalah waktu yang paling tepat untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca sekalian.
Sebab, untuk menyambut bulan yang agung, idealnya batin kita juga harus kembali bersih. Setidaknya, kita berikhtiar untuk saling menggugurkan dosa antar-sesama manusia, meskipun tentu kita tidak akan pernah bisa menjadi makhluk yang sepenuhnya suci dari khilaf.
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan. Lembaran Al-Qur'an dan hadis telah banyak mengupas betapa melimpahnya keberkahan dan pelipatan pahala di dalamnya. Saking istimewanya bulan ini, di salah satu malamnya terdapat sebuah waktu yang nilainya dijuluki lebih baik daripada seribu bulan.
Oleh karena itu, jika dalam deretan artikel, opini, puisi, atau catatan harian di blog ini ada untaian kata yang sempat menyinggung perasaan, atau mungkin ada pemikiranku yang kurang sependapat dengan sudut pandang pembaca, dari lubuk hati yang paling dalam, aku memohon maaf lahir dan batin.
Tradisi Menjelang Puasa di Kampung Halaman
Tepat hari ini, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman tercinta di Buatan II, Siak. Karena sepeda motor pribadiku belum lama ini hilang, perjalanan pulang kali ini terpaksa harus menumpang kendaraan bersama Haryati.
Setibanya di kampung, aku langsung bergegas menuju ke kediaman Mak Ngah. Di sana, keluarga besar kami sudah berkumpul untuk menyelenggarakan rangkaian tradisi tahunan menyambut puasa: mulai dari acara makan bersama, pembacaan surah Yasin, hingga ziarah ke makam keluarga.
Di momen itulah, aku kembali merasakan betapa hangatnya sambutan dari orang-orang tercinta. Suasana seketika berubah menjadi sangat emosional dan air mata pun tumpah saat prosesi saling bermaaf-maafan dimulai. Suasananya benar-benar khidmat, mirip seperti momentum hari raya Idulfitri.
Hikmah di Balik Kalimat Penghibur Keluarga
Lucunya—sekaligus bagian yang membuat dadaku agak sesak—di tengah momen bermaaf-maafan yang penuh air mata itu, pihak keluarga justru kompak membahas musibah hilangnya motorku kemarin.
"Udahlah nak, nantik Allah ganti samo yang lebih baek," ucap mereka menenangkan dengan logat melayu yang khas.
Mendengar kalimat penghibur itu, sejujurnya ada rasa dilema di dalam hati. Di satu sisi, aku sedang sekuat tenaga mencoba mengikhlaskan dan melupakan musibah tersebut. Namun di sisi lain, ketika diingatkan kembali di tengah forum keluarga, rasa bersalah dan sedih itu mendadak mencuat lagi ke permukaan. Aku terharu karena di tengah kesulitan ekonomi yang sedang melanda, keluarga justru menjadi benteng pertama yang menguatkan mentalku.
Menjelang hari pertama puasa, aku memilih untuk menghabiskan seluruh waktu berkualitas (quality time) ini bersama keluarga di kampung. Sudah cukup lama rasanya aku tidak pulang, dan atmosfer kehangatan rumah seperti inilah yang paling kurindukan di perantauan kos.
Akhir kata, selamat menunaikan ibadah puasa bagi kita semua.
Marhaban yaa Ramadhan.
Minal Aidin Wal Faidzin,
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Buatan II, Siak — 4 Juni 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar