![]() |
| Wajahnya terlihat gugup saat pendaftaran |
Pagi itu diawali dengan sebuah sesal. Aku terlewat menunaikan ibadah salat Subuh—Astaghfirullahal 'Azhiim. Semua karena mata ini enggan terpejam sepanjang malam akibat pikiran yang melayang memikirkan seseorang. Lamunan itu baru buyar saat Ibu mengetuk pintu kamar dan membangunkanku. Hari itu, agenda besar keluarga kami telah menanti: kami akan mengantarkan si bungsu untuk mendaftarkan diri masuk ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor 14 yang berlokasi di Kecamatan Sungai Mandau, Siak.
Setelah bersiap dengan penampilan sederhana ala Blank, kami segera bersiap bertolak. Segala peralatan dan logistik adik sebenarnya sudah kami kemas sejak malam hari, jadi pagi itu kami tinggal berangkat. Perjalanan ini ditempuh dengan menggunakan dua sepeda motor; aku membonceng si bungsu, sementara Ayi membonceng Ibu.
Pengalaman Pertama Menembus Buatan I dan Sungai Mandau
Untuk menuju ke sana, kami mengambil rute memotong lewat Kampung Buatan I. Lucunya, seumur-umur hidup dan tinggal di Buatan II, baru kali ini aku benar-benar menginjakkan kaki dan melewati kawasan Buatan I. Selama ini aku tidak pernah tahu persis di mana letak geografis desa tetangga tersebut.
Kami sengaja memilih jalur belakang karena menurut saran Bapak, jalurnya jauh lebih teduh dari sengatan matahari. Petunjuk jalan sepenuhnya mengandalkan ingatan si bungsu. Setibanya di dermaga penyeberangan, kami langsung menaikkan sepeda motor ke atas sampan untuk menyeberangi sungai menuju Kecamatan Sungai Mandau.
Sesampainya di kompleks Kampus Gontor 14, kami langsung mengarah ke meja sekretariat pendaftaran. Di sinilah peranku sebagai anak laki-laki tertua diuji. Aku yang mengambil alih tugas untuk mengisi seluruh formulir administrasi. Sebagai anak sulung, aku sadar harus mulai belajar dan paham mengenai urusan-urusan seperti ini. Kelak, insyaallah, pundak akulah yang akan menjadi pengganti Bapak sebagai tulang punggung keluarga. Aamiin.
Fase Ujian Lisan dan Karantina Asrama
Setelah seluruh berkas administrasi rampung diserahkan, adik langsung diarahkan untuk mengikuti ujian atau tes lisan. Materi yang diujikan meliputi pembacaan doa-doa harian, hafalan ayat-ayat pendek Al-Qur'an, serta pemahaman ilmu tajwid. Sepanjang tes berlangsung, aku optimis adik bisa melaluinya dengan baik karena dasar-dasar tersebut sudah sering diajarkan dan dibiasakan di rumah.
Menurut penjelasan Ustadz penguji, tes lisan ini bertujuan untuk menentukan pengelompokan kelas belajar. Pemikiranku saat itu, sistem ini sangat bagus. Jika ada santri yang kemampuannya masih kurang, mereka akan dikelompokkan dengan santri yang sudah mahir agar bisa saling memotivasi dan belajar bersama.
Selesai ujian lisan, adik langsung diantarkan menuju asrama untuk memulai masa karantina. Di kampusku, STMIK Amik Riau, fase ini mirip seperti PKK (Pengenalan Kehidupan Kampus) alias masa ospek. Sebelum kami melangkah pulang, Ibu dengan teliti memeriksa kembali seluruh barang bawaan adik di dalam lemari; memastikan tidak ada keperluan yang tertinggal sembari sesekali menyelipkan nasihat-nasihat penuh makna. Setelah semua dipastikan aman, tibalah saatnya bagi kami untuk pulang dan merelakan si bungsu belajar hidup mandiri di dalam pondok.
Detik-Detik Perpisahan yang Mengharu Biru
Momen berpamitan menjadi detik-detik yang paling berat. Kami saling berpelukan erat sebagai isyarat salam perpisahan. Belum jauh kaki kami melangkah meninggalkan area asrama, pertahanan batin Ibu runtuh. Air mata beliau mulai menitik, seakan belum rela melepas anak bungsunya hidup berdikari tanpa pengawasan langsung.
Melihat Ibu menangis, aku langsung memalingkan muka ke arah lain. Gila saja, jika aku terus menatap wajah Ibu saat itu, bisa dipastikan pertahananku juga ikut jebol dan ikut menangis di sana. Sejak kecil, kami memang dididik oleh orang tua dengan penuh cinta dan kelembutan, tak heran jika hati kami menjadi sangat sensitif dan perasa terhadap momen-momen mengharukan seperti ini.
Saat itu, di kepala Ibu pasti sudah berkecamuk banyak kekhawatiran: Bagaimana nanti dia berbuka puasa? Nyenyakkah tidurnya? Bagaimana urusan mandinya? Wajar saja Ibu risau, adik bungsuku ini memang terkenal agak berantakan di rumah. Habis mandi, handuk basah sering diletakkan sembarangan, dan bangun tidur pun kasur jarang dirapikan sendiri. Menyerahkan anak dengan tabiat sekecil itu ke lingkungan pesantren yang super disiplin tentu memicu kecemasan tersendiri bagi seorang ibu.
Setelah tangis Ibu perlahan reda, barulah kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, doa terbaik terusku panjatkan. Semoga langkah awal ini bisa menempa adik menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri, disiplin, dan rajin mendirikan salat, selaras dengan apa yang selalu diimpikan oleh orang tua.
Sungai Mandau, Juni 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar
Posting Komentar