Cerita • Perjalanan • Puisi

Ujian yang Belum Usai: Catatan Kecelakaan di Jalan Purwodadi dan Kelanjutan Teguran-Nya

Welcome June. Selamat datang bulan Juni.

Pada catatan harian yang kutulis tepat di penghujung bulan Mei kemarin (baca disini), aku sempat bercerita bahwa belakangan ini hidupku sedang sangat akrab dikepung oleh rentetan masalah. Ternyata, rangkaian ujian tersebut belum sepenuhnya selesai. Skenario hidup kembali menguji mental dan fisikku.

Tepat pada Selasa malam, 31 Mei 2016 yang lalu, seusai pulang dari bermain futsal bersama kawan-kawan di lapangan D5 Futsal, Jalan Delima, sebuah insiden tak terduga kembali terjadi. Malam itu, aku terpaksa pulang dengan membonceng sepeda motor milik Masrukin—maklum saja, sepeda motor pribadiku kan baru saja "disedekahkan" alias hilang digondol maling beberapa hari sebelumnya.

Kronologi Insiden di Depan Masjid Babul Iman

Kami memutuskan untuk bertolak pulang lebih awal mendahului rombongan kawan-kawan yang lain. Namun, sesampainya di kawasan Purwodadi, tepat di depan Masjid Babul Iman, kami mengalami kecelakaan (accident). Sepeda motor yang kami kendarai tidak sempat mengelak dan menabrak sepeda motor pengendara lain yang hendak berbelok memotong jalan menuju ke arah Gang Guru II.

Benturan malam itu tidak terhindarkan. Alhamdulillah, kondisi Masrukin tidak mengalami luka apa pun. Sementara aku sendiri, harus menerima remuk dan lecet di bagian tulang kering kaki kiri serta bagian siku tangan kiri.

Kondisi berbeda dialami oleh pengendara yang kami tabrak. Penumpang perempuannya terlihat baik-baik saja, namun si pengendara pria mengalami luka yang cukup serius di bagian kaki. Dengan sigap, Masrukin langsung membantu mengevakuasi korban pria tersebut untuk segera dilarikan ke Klinik "Bunda" terdekat agar mendapatkan penanganan medis. Beruntung, setelah melalui proses komunikasi yang baik, kesalahpahaman di jalan raya ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan damai.

Refleksi Diri: Ketika Teguran Datang Bertubi-tubi

Kembali lagi ke refleksi personalku. Mengalami rentetan musibah yang datang beruntun dalam waktu singkat—mulai dari ganti rugi bumper mobil orang, kehilangan motor, kematian massal ikan lele di kolam sekretariat, hingga puncaknya kecelakaan fisik malam ini—jelas bukanlah sebuah kebetulan semata.

Aku meyakini ini adalah bentuk peringatan nyata berikutnya yang dikirimkan oleh Allah SWT kepadaku. Mengapa peringatan ini datang lagi? Mungkin karena Allah melihat hatiku masih keras, belum menunjukkan perubahan perangai yang berarti, dan belum kunjung mengambil langkah konkret untuk kembali ke jalan-Nya setelah diberi rentetan masalah sebelumnya.

Melalui tulisan ini, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar ego ini bisa melunak. Semoga aku diberi kekuatan, kelapangan dada, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi dalam menghadapi setiap ujian hidup yang datang, sehingga aku tidak abai dan bisa memetik hikmah terdalam di balik semua skenario berdarah-darah ini.

Pekanbaru, 1 Juni 2016

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar