![]() |
| Walimahan Ustz Fika dan Taufik |
Oleh: Ust Eko aka Blank
Menghadiri acara pernikahan atau walimahan rekan kerja selalu punya cerita tersendiri. Di hari Ahad, 17 Mei kemarin, kami rombongan perwakilan guru-guru Al Kindi melakukan perjalanan seru menuju kediaman Ustadzah Fika di wilayah Tapung Hilir.
Perjalanan kali ini bukan sekadar silaturahmi biasa, tapi juga menjadi momen penuh tantangan dan pengalaman pertama bagiku pribadi.
Memulai Perjalanan dengan 7 Rombongan Mobil
Kami berangkat dari sekolah sekitar pukul 09.30 WIB. Rombongan kami terbagi ke dalam 7 armada mobil, di antaranya mobil Pak Abrar, Ust Affan, Pak Fauzi, Xenia milik sekolah, mobil BR-V milik Azzuhra, serta mobil rental yang dibawa oleh Ustadzah Surya dkk. Sementara itu, Pak Doni dan keluarga berangkat dengan rombongan terpisah.
Secara keseluruhan, tim yang berangkat tidak terlalu ramai—mungkin sekitar 15 orang Ustadzah Al Kindi, 7 orang Ustadz, Pak Abrar, Pak Rizki, Pak Rahman, aku beserta keluarga, Ust Affan dan keluarga, serta Pak Doni sekeluarga.
First Time! Pengalaman Pertama Menyetir Mobil Matic di Jalan Tol
Perjalanan ini sejujurnya membuat aku agak deg-degan. Pasalnya, ini adalah pengalaman pertamaku membawa mobil matic. Biasanya, aku selalu menggunakan mobil dengan persneling manual. Menyetir mobil matic untuk pertama kali rasanya memang agak canggung dan butuh penyesuaian.
Tidak hanya itu, ini juga menjadi pengalaman pertamaku menyetir melewati jalan tol. Biasanya aku hanya duduk manis sebagai penumpang di kursi belakang, tapi kali ini aku harus fokus penuh memegang kemudi sebagai supir. Sebuah tantangan baru yang seru!
Drama di Perjalanan: Tertinggal dari Rombongan Lain
Sebagai supir yang masih "amatiran" dengan mobil matic, rombongan mobilku sukses menjadi yang paling akhir sampai di lokasi. Sepanjang jalan, kami harus berhenti di tiga titik:
Alfamart: Berhenti pertama untuk membeli snack perjalanan (dan ya, sekarang belanja di sana memang sudah tidak menyediakan plastik belanjaan lagi).
Masjid Al Husna Muara Fajar: Kami harus menepi karena anakku pup. Walaupun memakai diapers, tetap saja baunya tercium dan demi kenyamanan, kami harus segera menggantinya.
SPBU Kandis Selatan: Berhenti ketiga untuk mengisi BBM.
Nah, karena harus mengisi bensin dulu setelah keluar tol, rombongan lain langsung berbelok ke arah kanan. Sementara mobil kami terpaksa belok ke kiri mencari pom bensin terdekat. Akibat jeda waktu ini, saat kami tiba di rumah Ustadzah Fika, rombongan yang lain ternyata sudah selesai makan.
Selamat Menempuh Hidup Baru, Ustadzah Fika!
![]() |
| Tahniah dzah Fika |
Saat kami sampai, kedua pengantin sudah duduk manis di pelaminan. Kebetulan mereka juga bersiap-siap untuk ganti baju sholat dan berganti ke gaun pengantin kedua. Alhasil, kami hanya sempat berjumpa sebentar dengan Ustadzah Fika dan suami.
Setelah menikmati hidangan dan semangkuk bakso yang segar, kami menyempatkan diri untuk sholat di musholla dekat rumah mempelai. Karena saat bersiap pulang hanya ada suami Ustadzah Fika di luar, kami pun berpamitan kepadanya.
Tahniah untuk Ustadzah Fika dan suami, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin.
Pulang ke Sekolah dan Ujian Kesabaran Ustadz Gustian
Saat perjalanan pulang, rombongan sudah terpisah-pisah. Lagi-lagi, mobil kami menjadi yang paling terakhir sampai di sekolah sekitar pukul 16.00 lewat karena ritme menyetirku yang masih santai.
Setibanya di sekolah, aku langsung mengajak Ustadz Gustian untuk mengembalikan mobil BR-V milik Azzuhra yang kami pinjam kemarin. Namun, cerita belum selesai di sini. Qodarullah, sepulang mengantar mobil, motor Ustadz Gustian mengalami bocor ban di Jalan Melati.
Ternyata cairan tubeless-nya sudah habis dan lubang bocornya cukup besar, sehingga harus diganti dengan ban dalam. Apesnya, baru berjalan sekitar 5 menit setelah diganti, bannya bocor lagi!
Kami terpaksa mendorong motor kurang lebih sejauh 200 meter sebelum akhirnya menemukan bengkel lain. Alhamdulillah, setelah ditambal ulang, motornya kembali aman. Kami pun baru sampai kembali ke sekolah sekitar jam 19.00 malam.
Subhanallah untuk Ustadz Gustian, yang sabar ya Stad! Hehe.
Sekian cerita perjalanan walimahan penuh warna kali ini. Sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya!



