Jumat, 31 Maret 2026
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Setelah sekian lama halaman utama blog ini tidak menyapa kalian, akhirnya jemari ini kembali tergerak untuk mengetik. Kesibukan dunia pendidikan dan aktivitas harian sebagai pendidik terkadang membuat draf cerita teronggok begitu saja di sudut memori. Namun, sebuah perjalanan berharga rasanya terlalu egois jika hanya disimpan sendiri tanpa diabadikan dalam bentuk tulisan.
Kali ini, aku ingin membawa kalian menembus ruang waktu, mengenang kembali sebuah perjalanan spiritual dan rekreasi yang penuh kehangatan: Rihlah Guru-Guru Al Kindi ke Sumatera Barat pada tanggal 8 hingga 10 Februari 2024 lalu. Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi atau reward yang luar biasa dari Yayasan Al Fatih Pekanbaru atas dedikasi para guru dalam mendidik generasi penerus bangsa.
Awal Perjalanan: Membelah Malam dari Pekanbaru
Perjalanan dimulai pada malam hari tanggal 8 Februari, tepat setelah berkumandangnya adzan Isya. Ada antusiasme yang membuncah di wajah setiap ustadz dan ustadzah. Demi kenyamanan mobilitas selama safar, panitia membagi armada menjadi dua kelompok besar. Para ustadzah dan Bunda-bunda RA Al Kindi menggunakan bus pariwisata yang nyaman dengan total rombongan sekitar 29 orang.
Sementara itu, kami para ustadz mendapat mandat untuk mengendarai mobil Xenia operasional sekolah. Formasi di dalam mobil mini-MPV kami terbilang sangat solid dan penuh tawa: Ust. Affan memegang kemudi sebagai driver andalan, ditemani oleh Pak Afdhal, Ust. Muslim, Ust. Asri, dan aku sendiri (Ust. Eko) yang duduk manis menikmati perjalanan sembari sesekali menjaga obrolan agar sang driver tidak mengantuk.
Membelah jalanan lintas Riau-Sumbar di kala malam selalu menyuguhkan sensasi tersendiri. Deru mesin beradu dengan pekatnya malam dan kelokan khas daerah perbatasan, membawa kami semakin dekat menuju ranah Minang.
|
| Mobil Xenia Sekolah |
|
| Tidak terlalu jelas busnya |
Hari Pertama: Pesona Pantai Barat Sumatera
1. Kedamaian Subuh di Masjid Al Hakim, Padang
Sinar fajar tanggal 9 Februari menyambut kedatangan kami di Kota Padang. Destinasi pertama yang kami tuju adalah Masjid Al Hakim yang berdiri megah di tepi Pantai Padang. Menatap arsitektur masjid yang sekilas menyerupai Taj Mahal dengan latar belakang deburan ombak samudra adalah pengalaman yang menenangkan jiwa.
Di sini, kami melaksanakan sholat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan mengikuti kajian ba'da Subuh yang sejuk. Setelah rohani disegarkan oleh ilmu, kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di pelataran masjid sembari melakukan briefing singkat mengenai rute perjalanan hari itu. Momen kebersamaan ini tentu tidak luput dari bidikan kamera sebagai kenang-kenangan awal.
|
| Kajian Ba'da Subuh |
|
| Foto Bersama di area Masjid Al Hakim Padang |
2. Jejak Legenda di Pantai Air Manis (Aie Manih)
Usai sarapan pagi, roda kendaraan kembali berputar menuju Pantai Air Manis. Pantai ini sangat legendaris berkat kisah Malin Kundang. Di lokasi ini, rombongan kami semakin lengkap karena Tim Pak Abrar sekeluarga turut bergabung.
Menyaksikan langsung replika batu Malin Kundang yang bersujud menghadap bumi mengingatkan kita semua akan pentingnya berbakti kepada orang tua—sebuah pesan moral yang sering kami ajarkan pula kepada para siswa di sekolah. Angin laut yang berembus kencang dan hamparan pasir luas membuat suasana rihlah terasa semakin hangat.
|
| Foto Bersama di Area Pantai Aie Manih |
|
| Situs Malin Kundang |
|
| Situs Malin Kundang |
3. Singgah di Masjid Raya Sumatera Barat
Dari pesisir pantai, perjalanan berlanjut ke ikon wisata religi utama, yaitu Masjid Raya Sumatera Barat. Struktur atapnya yang mengadopsi bentuk bentangan kain saat pemindahan batu Hajar Aswad oleh Nabi Muhammad SAW terlihat begitu jenius dan megah.
Karena posisi kami sedang dalam keadaan safar (perjalanan jauh), kami memanfaatkan keringanan syariat dengan melaksanakan sholat Jama' Qashar Zuhur dan Ashar di dalam ruang utama masjid yang sejuk dan luas. Setelah menunaikan kewajiban dan menyantap makan siang, agenda berikutnya sudah menanti.
4. Pengalaman Seru Naik Kereta Api Menuju Pariaman
Salah satu agenda paling unik dalam rihlah kali ini adalah menaiki kereta api lokal menuju Pariaman. Stasiun kereta terletak tidak jauh dari kompleks Masjid Raya. Bagi aku pribadi, ini adalah pengalaman perdana merasakan sensasi naik kereta api!
Rombongan sempat terbagi dalam beberapa tim logistik. Anak-anak Pak Abrar ikut bersama kami di dalam gerbong kereta, sementara Pak Abrar mengendarai mobilnya langsung menuju Pariaman. Supir bus rombongan ustadzah juga kami arahkan untuk langsung meluncur ke titik kumpul berikutnya di Pantai Gandoriah.
Perjalanan di atas rel memakan waktu hampir dua jam. Kereta sempat tertahan agak lama di salah satu stasiun perantara karena alasan operasional teknis, namun hal itu tidak mengurangi keseruan kami yang asyik bercengkerama di dalam gerbong.
|
| Ticket yang sudah di booking |
|
| Menunggu kereta Api sampai |
|
| Di Dalam Kereta Api |
5. Senja Syahdu di Pantai Gandoriah
Kami tiba di Pariaman tepat saat matahari mulai condong ke barat. Pantai Gandoriah menyambut kami dengan hembusan angin sore yang menyegarkan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Pak Afdhal, Ust. Affan, dan aku memutuskan untuk langsung menceburkan diri dan mandi di laut.
Sementara kami asyik berenang menikmati ombak sore, rekan-rekan ustadz dan ustadzah lainnya memilih untuk bersantai di tepi pantai sembari menikmati aneka kuliner khas Pariaman yang menggugah selera.
|
| Bersantai di Pantai |
Malam di Bukittinggi: Kehangatan Teh Talua
Ketika malam mulai merayap, rombongan bergerak naik menuju kota sejuk Bukittinggi. Kami langsung menuju Hotel SAKATO yang telah dipesan jauh-jauh hari sebagai tempat melepas lelah. Lokasi hotel ini sangat strategis karena berada tidak jauh dari ikon ikonik Jam Gadang.
Setelah melakukan Jama' Qashar Maghrib dan Isya di masjid terdekat, sebagian besar rombongan memilih untuk langsung beristirahat di kamar masing-masing demi menjaga stamina esok hari. Namun, malam di Bukittinggi rasanya kurang lengkap tanpa wisata kuliner malam. Aku diajak oleh Pak Afdhal and Ust. Muslim untuk keluar berburu kuliner lokal. Pilihan kami jatuh pada warung Teh Talua Abang Ucok. Menikmati segelas teh telur hangat yang legit di tengah udara malam Bukittinggi yang menusuk tulang adalah cara terbaik untuk menutup hari pertama.
|
| Teh Talua Sedapnyooo |
|
| Hotel Sukato |
Hari Kedua: Eksplorasi Alam dan Edukasi
1. Mengitari Jam Gadang dan Taman Margasatwa
Sabtu pagi tanggal 10 Februari dimulai dengan sarapan bersama untuk mengisi energi. Destinasi pertama kami hari itu adalah kawasan pelataran Jam Gadang. Kami berjalan kaki dari hotel sembari menikmati udara pagi yang bersih dan segar.
Puas berfoto di ikon kota Bukittinggi tersebut, perjalanan dilanjutkan menuju Kebun Binatang Bukittinggi (Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan). Melihat aneka satwa dan mengitari area perbukitan yang hijau memberikan kesegaran tersendiri bagi kami yang sehari-hari disibukkan dengan rutinitas akademis di Sekolah Al Kindi. Mengingat cuaca yang perlahan mulai terik menjelang siang, beberapa rekan memilih pulang ke hotel menggunakan moda transportasi tradisional delman dan angkot.
2. Hamparan Hijau Padang Mengatas (Padang Mangateh)
Perjalanan berlanjut menuju Padang Mengatas, sebuah area peternakan sapi berskala besar yang sering dijuluki sebagai "New Zealand-nya Indonesia". Berdiri di atas hamparan padang rumput yang hijau sejauh mata memandang, dengan latar belakang gunung yang kokoh, membuat kami tak henti-hentinya mengagumi kebesaran ciptaan Allah SWT.
3. Penutup yang Menyegarkan di Kapalo Banda
Destinasi terakhir sebelum kami bertolak kembali ke bumi Lancang Kuning adalah Kapalo Banda. Tempat wisata air alami ini menjadi lokasi ideal untuk membersihkan diri sekaligus menikmati makan siang bersama di tepi aliran air yang jernih. Suasana alam yang asri menjadi penutup yang sempurna bagi rangkaian rihlah kami.
Akhir Perjalanan: Kembali ke Pekanbaru
Usai dari Kapalo Banda, seluruh armada bersiap untuk menempuh perjalanan pulang menuju Pekanbaru. Rasa lelah yang mendera setelah dua hari penuh menjelajahi keindahan alam Sumatera Barat membuat sebagian besar dari kami terlelap di dalam mobil operasional sekolah sepanjang jalur pulang.
Tiga hari dua malam yang penuh tawa, canda, dan cerita telah usai. Rihlah ini bukan sekadar perjalanan rekreasi biasa, melainkan momentum berharga untuk mempererat tali ukhuwah dan menyegarkan kembali semangat perjuangan para guru Al Kindi dalam dunia dakwah pendidikan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya aku ucapkan kepada Yayasan Al Fatih Pekanbaru yang telah memfasilitasi perjalanan luar biasa ini. Semoga dedikasi dan kebersamaan ini terus terjaga, dan sampai jumpa di rihlah-rihlah penuh keberkahan berikutnya!
Salam takzim dan semangat rihlah,
Prima Eko Putra
Komentar
Posting Komentar