Cerita • Perjalanan • Puisi

Mengapa Kami Menepi ke Alam? Sebuah Puisi Refleksi Jiwa sang Petualang

Menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dan bisingnya perkotaan sering kali disalahartikan sebagai tindakan mengasingkan diri dari dunia sosial. Padahal, bagi para penggiat alam bebas, melangkah kaki masuk ke dalam lebatnya hutan dan mendaki sunyinya gunung adalah sebuah cara untuk menemukan kembali arti kehidupan yang murni.

Untaian bait puisi berikut ini menyuarakan alasan jujur mengapa alam bebas selalu menjadi rumah kedua yang paling dirindukan, tempat di mana raga beristirahat dan jiwa dibersihkan dari penatnya rutinitas duniawi.

Kami jauh dari keramaian bukan ingin mengasingkan diri
Kami mencari tempat dimana nafas kami jadi berharga
Nafas yang kami keluarkan lebih bersih daripada nafas yang kalian hirup

Teman kami hanyalah bebatuan ini
Teman kami hanyalah pepohonan ini
Hiburan kami hanyalah suara aliran sungai
Hiburan kami hanyalah tiupan angin sejuk dan dingin

Api unggun hanya penerang sementara
Pengantar tidur nyenyak kami
Tapi saat kami kembali kami tetap bisa setara dengan kalian

Kami bisa teriak tanpa mengganggu yang lain
Kami bisa gila gila akan cerita aneh
Ah sudahlah kalian akan faham jika disini bersama kami

Empat Balai, Kampar — 20 Februari 2016

Makna di Balik Bait Puisi

Lewat untaian kata yang sederhana namun sarat makna, puisi ini menegaskan bahwa alam tidak pernah menghakimi manusia. Di sana, di antara saksi bisu berupa pepohonan, bebatuan, dan gemercik aliran sungai, manusia bisa menjadi dirinya sendiri seutuhnya tanpa perlu memakai topeng kepura-puraan.

Dan ketika tiba saatnya para petualang ini harus turun kembali ke peradaban kota, mereka pulang membawa jiwa yang baru, energi yang penuh, dan kesiapan untuk kembali melangkah setara dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar