Pada hari Senin, 11 April 2016 yang lalu, kampus STMIK Amik Riau mendapatkan kunjungan penting dari jajaran Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Provinsi Riau. Kehadiran tim BAWASLU ini bertujuan untuk menyelenggarakan seminar edukatif mengenai pentingnya peran aktif mahasiswa dalam menyukseskan serta membantu pengawasan jalannya agenda Pemilihan Umum (Pemilu).
Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, seminar ini menghadirkan tiga orang pemateri yang kompeten di bidangnya, yaitu Pak Rusidi Rusdin, S.Ag, M.Pd.I, Bu Fitri Heriyanti, S.IP, dan Pak Edy Syariffudin, S.Ag.
Acara ini dihadiri oleh 20 orang perwakilan mahasiswa. Mengingat di STMIK Amik Riau terdapat empat Organisasi Kemahasiswaan resmi (BEM, BLM, FOSKOM, dan WANAPALHI), Pak Dwi Haryono, M.Kom selaku Pembantu Ketua III Bidang Kemahasiswaan menginstruksikan agar masing-masing organisasi mengirimkan 5 orang delegasinya.
Jalannya seminar berlangsung cukup seru dan dinamis. Selain mendengarkan pemaparan materi dan sharing pengalaman dari para komisioner BAWASLU, kami para mahasiswa juga mendapatkan wawasan baru mengenai regulasi dan proses kerja teknis pemilu. Adanya sesi tanya jawab interaktif membuat forum berjalan dua arah dan hidup.
Refleksi Politik: Pemimpin Hari Ini adalah Buah Pilihan Masa Lalu
Mengikuti seminar ini membuatku merenung tentang pentingnya pemahaman politik bagi generasi muda. Tanpa kita sadari, setiap warga negara yang menggunakan hak suaranya dalam pemilu sebenarnya sudah terlibat dalam aktivitas politik praktis.
Realitas pemerintahan yang kita rasakan saat ini, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, merupakan hasil langsung dari keputusan kolektif kita pada bilik suara di pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para pemimpin jika kinerja mereka belum sesuai harapan, sebab kitalah yang memberi mereka mandat.
Sebagai solusinya, jika menghendaki adanya perubahan ke arah yang lebih baik di masa depan, kita harus menjadi pemilih yang cerdas (smart voter). Di era digital saat ini, akses internet sudah sangat mudah. Kita bisa meluangkan waktu untuk melacak latar belakang, rekam jejak, dan kompetensi para calon pemimpin sebelum menentukan pilihan. Cerdaskan diri sendiri sebelum mencerdaskan bangsa.
Sorotan untuk Hak Pilih Mahasiswa Rantau: Kritik dan Solusi
Melalui catatan di blog ini, aku juga ingin menyampaikan sebuah saran dan keresahan yang sering dihadapi oleh dunia kemahasiswaan. Banyak mahasiswa yang berstatus sebagai anak perantauan dan tinggal jauh dari kampung halaman. Kondisi geografis ini sering kali menjadi kendala teknis yang membuat mereka kesulitan untuk pulang saat hari pemungutan suara.
Pihak penyelenggara pemilu (KPU dan BAWASLU) dituntut untuk lebih memahami hambatan ini dan menyediakan solusi taktis yang ramah bagi pemilih pemula di perantauan, agar angka golongan putih (golput) terpaksa di kalangan mahasiswa bisa ditekan.
Namun di sisi lain, kritik ini juga berlaku untuk para mahasiswanya. Sebagai kaum intelektual yang merantau, kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh atau apatis terhadap lingkungan sekitar. Hanya karena berstatus anak kos, jangan sampai kita malas untuk mengurus dokumen administratif penting seperti surat pindah memilih atau surat keterangan domisili. Keberadaan hak suara kita terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.
Harapan ke Depan
Semoga dengan masifnya agenda kunjungan BAWASLU ke STMIK Amik Riau maupun universitas lainnya, dapat berhasil memantik nalar kritis mahasiswa terhadap jalannya pesta demokrasi.
Setelah mendapatkan pembekalan ilmu lewat seminar ini, mahasiswa diharapkan tidak lagi bersikap cuek. Jika menemui adanya indikasi pelanggaran atau kecurangan di lapangan, sampaikan laporan tersebut secara resmi ke pihak BAWASLU. Sangat percuma rasanya menyerap ilmu di dalam ruang seminar jika tidak diimplementasikan secara nyata di kehidupan bermasyarakat.
Pekanbaru, 16 April 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar