Karya sastra sering kali lahir dari sebuah kejujuran dalam melihat realitas sosial yang carut-marut di sekeliling kita. Ketika hukum alam mulai dilanggar, norma sosial diabaikan, dan keserakahan manusia diletakkan di atas segalanya, maka bait-bait puisi hadir sebagai alarm pengingat yang lantang.
Puisi berikut ini merupakan sebuah refleksi sekaligus protes terbuka terhadap berbagai ketimpangan hidup—mulai dari pengrusakan ekosistem bumi, egoisme di ruang publik, praktik korupsi yang mendarah daging, hingga hilangnya empati terhadap sesama yang memicu datangnya murka alam.
Jangan lagi tebang hutan itu
Jangan lagi kotori sungai itu
Jangan lagi serak sampah itu
Jangan lagi langgar lampu lalu lintas
Jangan lagi kebut-kebutan di jalan
Jangan lagi egois berkendaraan
Jangan lagi makan uang rakyat
Jangan lagi ada suap-menyuap
Jangan lagi sembunyikan kebohongan
Jangan lagi menindas yang kecil
Jangan lagi hancurkan kepercayaan orang
Jangan lagi pentingkan diri sendiri
Dunia ini sudah semakin kacau
Yang kaya makin kaya
Yang miskin makin miskin
Yang pintar membodohi si bodoh
Yang bodoh tetap dengan kebodohan
Kebohongan sudah mendarah daging
Bagaimana tidak, orang tua itu yang ajari anaknya
Bagaimana bencana tak datang
Pohon yang berikan nafas ditebang
Sampah dengan rasa tanpa dosa dibuang sembarang
Otak mereka dulu mungkin ada, sekarang hilang
Penguasa yang punya banyak uang yang menang
Kita sendiri yang ingin Tuhan berang
Diturunkanlah bencana bandang
Dan gempa pun datang
Tsunami pun tak ketinggalan ikut menerjang
Bumi ini tinggal menunggu waktu untuk hancur perlahan
Pekanbaru, 16 April 2016
Makna di Balik Bait Puisi
Melalui baris demi baris yang ditulis tanpa basa-basi, puisi ini menguliti realitas bahwa bencana alam yang melanda sejatinya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan akumulasi dari dosa-dosa manusia terhadap ekosistem dan sesamanya. Ketika kejujuran mulai luntur sejak dari lingkup terkecil (keluarga) dan keadilan bisa dibeli dengan uang oleh penguasa, bumi ini seolah sedang berjalan perlahan menuju kehancurannya sendiri jika manusia tidak segera tersadar.
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar