Cerita • Perjalanan • Puisi

Ketakutan Mengetahui Penyakit dan Rentetan Ujian yang Menuntun Jalan Pulang

Bagi sebagian orang, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala (medical check-up) adalah hal yang wajib dilakukan demi pencegahan dini. Namun, aku pribadi memiliki sudut pandang yang berbeda, atau mungkin bisa dibilang pemikiranku yang masih sempit. Aku cenderung menghindari cek kesehatan karena khawatir hasilnya akan mengganggu kondisi psikologis dan kedamaian pikiranku.

Bayangkan seseorang yang biasanya ceria, lalu tiba-tiba divonis mengidap penyakit berat seperti kanker. Bagaimanapun ia berusaha tetap terlihat bahagia di luar, vonis tersebut pasti akan menjadi beban mental yang besar di dalam kepalanya. Penyakit itu akan selalu membayangi setiap jengkal pikirannya.

Aku tahu kita bisa berbeda perspektif dalam hal ini. Banyak orang melakukan cek kesehatan agar bisa lebih berhati-hati, menjaga pola makan, atau membatasi aktivitas fisik agar tidak terlalu kelelahan. Itu adalah langkah yang bijak. Namun bagiku yang berjiwa bebas, menyukai petualangan, dan gemar menyantap makanan apa saja (kecuali beberapa jenis sayuran yang memang kurang kusukai), pembatasan ruang gerak dan pola makan adalah hal yang cukup berat.

Ketika "Vonis" Itu Datang di Tengah Gejala Fisik

Ketakutanku akhirnya mendapati ujiannya sendiri baru-baru ini. Saat menjalani sebuah sesi terapi, sang terapis memberi tahu bahwa aku menunjukkan gejala diabetes. Entahlah, apakah itu benar atau tidak, namun jika dirunut kembali, ada beberapa kebiasaan buruk yang memang mengarah ke sana.

Selain masalah insomnia kronis yang membuatku sangat sering begadang, aku juga sangat menggemari makanan dan minuman manis. Akibatnya, belakangan ini kondisi fisikku sering menurun, seperti sering mengalami pandangan berkunang-kunang dan menggelap sesaat ketika hendak berdiri dari posisi duduk.

Sebelum mengetahui diagnosis tersebut, pikiranku terasa sangat plong dan ceria seperti biasanya. Namun, begitu bayangan penyakit itu masuk ke telinga, pikiran tersebut mulai sering melintas dan mengganggu ketenangan. Itulah mengapa, terkadang ada rasa bahwa "lebih baik tidak tahu sama sekali."

Rentetan Masalah yang Datang Bertubi-tubi

Ujian fisik tersebut ternyata belum seberapa. Di waktu yang hampir bersamaan, kehidupanku seolah dikepung oleh rentetan masalah keduniawian yang datang bertubi-tubi dalam waktu satu minggu:

  • Senin, 23 Mei 2016: Aku tidak sengaja menyenggol mobil orang lain hingga bumpernya penyok, dan aku harus menanggung biaya ganti rugi sebesar 800 ribu rupiah.

  • Rabu, 25 Mei 2016: Belum selesai urusan ganti rugi mobil, ujian lebih berat datang. Sepeda motor Satria FU milikku hilang. Sebuah tamparan yang membuat kepala rasanya mau pecah.

  • Akhir Mei 2016: Di tengah kalutnya pikiran, masalah kecil lain ikut muncul. Seluruh ikan lele yang kami pelihara di kolam belakang Sekretariat WANAPALHI mendadak mati secara serempak. Padahal, meski stok pelet habis sejak tiga hari lalu dan diganti dengan nasi, rasanya tidak mungkin mereka mati bersamaan hanya karena kelaparan. Pasti ada kontaminasi virus atau kuman lain di air kolam.

Alarm Langit untuk Kembali Pulang

Melihat semua kejadian yang datang beruntun ini, aku tertegun dan bertanya pada diri sendiri: Ada apa dengan hidupku? Mengapa masalah-masalah ini terasa begitu akrab menghampiri?

Setelah merenung jauh ke dalam lubuk hati, aku tersadar bahwa belakangan ini aku sudah berjalan terlalu jauh dan menjauh dari Allah SWT. Rutinitas ibadah salat sudah mulai jarang didirikan, dan rasa syukur di dalam hati pun mulai mengikis. Rentetan kehilangan dan musibah ini seketika terasa seperti cara halus dari Allah untuk menegur dan memanggilku agar kembali mengingat-Nya.

Ironisnya, bahkan setelah mendapatkan tamparan bertubi-tubi ini, egoku terkadang masih keras dan belum menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik secara instan. Namun, batinku tahu bahwa ini adalah garis batasnya. Sudah saatnya aku menyudahi masa-masa tersesat ini dan melangkah kembali ke jalur yang benar.

Semoga rentetan ujian dan kehilangan yang Allah berikan di penghujung bulan Mei ini tidak membuatku kufur, melainkan menjadi sarana penggugur dosa dan batu loncatan untuk meningkatkan kualitas keimanan serta ketakwaanku ke depan. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Pekanbaru, 31 Mei 2016

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar