Alhamdulillah, sebuah kabar bahagia sekaligus pencapaian kecil berhasil ditorehkan oleh blog sederhana ini. Di penghujung bulan September 2016, Blank's Stories secara resmi telah berhasil menyentuh angka 10.000 Viewers.
Untuk sebuah blog personal yang isinya potongan cerita acak dan jauh dari kata sempurna ini, aku membutuhkan waktu hampir dua tahun lamanya demi bisa mengumpulkan angka kunjungan tersebut. Angka ini tentu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan blog-blog papan atas, namun bagiku pribadi, pencapaian ini sudah lebih dari cukup untuk membakar kembali semangat menulis yang sempat timbul tenggelam.
Sebenarnya, jika egoku hanya sekadar mengejar angka statistik, aku bisa saja menggunakan trik curang atau memasang script manipulasi viewer untuk mendapatkan 10.000 kunjungan dalam sekejap. Namun, aku memilih berbalik ke niat awal: blog ini didirikan sebagai wadah murni untuk belajar menulis, bukan untuk mengejar metrik semu.
Bagiku, esensi dari sebuah blog pribadi adalah menjadi diri sendiri dan berani jujur dalam menuangkan rasa. Jika dalam perkara sekecil statistik blog saja kita sudah berani berbuat curang, bagaimana jadinya nanti ketika kita diamanahi sebuah tanggung jawab yang jauh lebih besar? Tindakan-tindakan kecil yang manipulatif seperti itulah yang kerap menjadi cikal bakal mental koruptor di masa depan—ceileh, berat betul bahasanya ya.
Dilema Belajar CSS dan Perjuangan Melawan Malas
Di samping merayakan pencapaian ini, aku sebenarnya memiliki ambisi lain untuk blog ini. Aku sempat berniat kuat untuk mempelajari bahasa pemrograman Cascading Style Sheets (CSS) secara mendalam, agar bisa merombak dan mempercantik tampilan template blog ini secara mandiri.
Namun, apa lah daya, niat sering kali hanya tertahan di batas angan-angan. Rasa malas yang akut berbalut tumpukan kesibukan aktivitas kampus membuat langkah awal itu tidak pernah benar-benar terlaksana. Aku bahkan sempat mengunduh beberapa buku panduan berformat PDF tentang tutorial CSS, namun file-file tersebut hingga kini hanya berakhir menjadi penghuni memori penyimpanan tanpa pernah kusentuh atau baca sedikit pun.
Melihat kegagalan belajar otodidak ini, aku mulai berpikir bahwa mungkin aku memang harus mulai keluar dari zona nyaman. Bergabung ke dalam sebuah komunitas blogger atau kelompok belajar pemrograman tampaknya menjadi solusi yang bagus, agar ada ekosistem yang saling mendukung dan mentor yang siap membimbing ke arah yang lebih baik.
Romantika Begadang di Kantin Kampus
Saat jemariku menari di atas papan ketik untuk merangkai postingan ini, jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.59 WIB dini hari. Aku sedang duduk menyendiri di area kantin kampus STMIK Amik Riau, ditemani embusan angin malam yang terasa kian menusuk tulang akibat sisa guyuran air hujan di luar.
Malam ini, aku memanfaatkan jaringan wifi.id kampus untuk tetap bisa terhubung secara daring. Situasi sekretariat organisasi WANAPALHI sedang kosong melompong karena kawan-kawan seperjuangan sedang pergi keluar untuk sebuah urusan. Daripada aku harus berdiam diri sendirian di dalam sekre yang sepi, aku memilih melipir ke kantin untuk berselancar di dunia maya.
Aku sengaja memanfaatkan momentum kesunyian malam ini untuk terus melatih konsistensi penulisan. Tujuannya sederhana: agar jemari dan pikiran ini terbiasa memproduksi karya. Meskipun platformnya hanya sekelas blog pribadi, bagiku itu bukan sebuah masalah. Yang terpenting adalah esensi untuk terus konsisten menulis, menulis, dan menulis. Walaupun aku sadar kualitas tulisanku saat ini masih jauh dari kata berbobot dan aku pun belum sepenuhnya paham mengenai teknik-teknik jurnalistik atau kepenulisan yang baku.
Dua tahun, sepuluh ribu pasang mata, dan sebuah janji untuk tidak menyerah pada rasa malas. Perjalanan Blank's Stories masih panjang. Terima kasih untuk Anda semua yang telah sudi mampir dan membaca jejak langkah kakiku di sini.
Pekanbaru, 25 September 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar