Menembus status sebagai mahasiswa semester akhir sering kali membawa tekanan psikologis tersendiri. Di satu sisi, ada tanggung jawab akademis besar bernama skripsi yang harus segera dituntaskan. Namun di sisi lain, musuh terbesar bernama rasa malas dan penundaan kerap kali menjadi tembok besar yang sulit untuk diruntuhkan.
Malam ini, aku mencoba meluangkan waktu untuk sekadar mencari-cari inspirasi judul skripsi di internet. Niat awalnya adalah berselancar mencari permasalahan penelitian yang tepat dan relevan untuk jurusanku. Namun realitasnya, pencarian judul itu hanya bertahan sebentar saja. Selebihnya? Waktuku justru habis untuk menonton YouTube, mengunduh beberapa file film, dan jika sempat, melipir membaca artikel di blog milik orang lain. Istilahnya: sambil menyelam minum sirup Marjan.
Entah mengapa, fokusku untuk serius menggarap judul penelitian ini belum sepenuhnya bulat. Pikiranku masih terbagi karena harus menyelesaikan beberapa mata kuliah sisa yang sempat tertunda di semester-semester sebelumnya.
Tamparan Realitas dan Penyesalan yang Datang di Akhir
Di saat aku masih tertatih-tatih mencari arah, aku menyadari bahwa kawan-kawan seangkatan di kampus STMIK Amik Riau mungkin sedang berada di fase yang jauh lebih maju. Sebagian dari mereka sedang berdarah-darah menyelesaikan bab-bab akhir skripsi, dan sebagian lainnya bahkan sudah bersiap mengenakan baju rapi untuk momen yudisium dan wisuda.
Melihat pemandangan itu, bohong rasanya jika tidak ada percikan rasa iri di dalam hati. Ada perasaan sedih melihat mereka bisa menyelesaikan masa studi dengan cepat dan mulus. Namun, ketika merenung lebih dalam, aku sadar bahwa ini adalah konsekuensi logis dari tindakanku sendiri sekitar dua tahun yang lalu.
Masa di mana aku sering bolos, tidak disiplin, dan mendadak "gaib" dari ruang perkuliahan. Benarlah kata pepatah, bahwa penyesalan itu selalu datang di akhir cerita. Meskipun demikian, aku menolak untuk menyerah pada keadaan. Tidak ada kata terlambat untuk berbenah, asalkan sisa perjalanan ini diikuti dengan komitmen yang serius dan tindakan nyata.
Padatnya Agenda Organisasi dan Tanggung Jawab Keuangan
Memasuki semester baru ini, ritme hidup aku dipastikan akan berjalan sangat padat. Ada dua agenda besar organisasi internal kampus yang menuntut perhatian penuh dariku:
Open Recruitment (OpRec) WANAPALHI: Rangkaian perekrutan anggota baru untuk organisasi pencinta alam yang memerlukan persiapan matang.
Penyusunan Kepengurusan UKM KERTAS: Restrukturisasi dan pembentukan pengurus baru demi keberlangsungan roda organisasi.
Selain urusan kampus dan organisasi, kehidupan domestik keluarga juga akan semakin berwarna. Bibiku saat ini sedang mengandung dan diperkirakan akan melahirkan pada bulan Oktober nanti. Hari-hari ke depan akan terasa semakin sibuk, melelahkan, namun aku yakin akan berjalan dengan sangat menarik.
Satu hal yang menjadi catatan krusial: di tengah padatnya aktivitas luar, aku sudah tidak boleh lagi membiarkan grafik perkuliahanku hancur tahun ini. Taruhannya terlalu besar. Jika akademikku kembali berantakan, tamatlah riwayatku. Aku harus menanggung dan mencari biaya kuliah sendiri secara mandiri tanpa bantuan orang tua.
Mencicil Langkah Menuju Gelar Sarjana
Langkah kecil untuk berubah itu harus dimulai dari sekarang. Agenda besok pagi sudah terjadwal rapi. Aku berencana untuk pergi ke bank demi menyelesaikan pembayaran administrasi Ujian Laboratorium. Ini adalah bentuk komitmenku untuk mulai mencicil tahap demi tahap, persyaratan demi persyaratan, menuju gerbang kelulusan. Semoga setiap proses ujian ke depan diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah SWT.
Selesai urusan perbankan, aktivitas akan langsung dilanjutkan dengan mengantarkan surat proposal kerja sama ke kantor PMI Pusat (Palang Merah Indonesia) daerah, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan eksternal OpRec WANAPALHI.
Mata sudah mulai terasa berat dan mengantuk. Hari esok menuntut energi yang besar. So, good night, all!
Pekanbaru, 21 September 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar