Bagi sebagian orang, malam hari adalah waktu terbaik untuk mengistirahatkan raga setelah seharian penuh bergelut dengan rutinitas. Namun, bagi sebagian lainnya, keheningan malam justru menjadi ruang paling bising di mana pikiran-pikiran bercampur baur, memicu insomnia, dan menghadirkan kembali bayang-bayang penyesalan masa lalu.
Teks berikut ini adalah sebuah puisi orisinal yang ditulis pada tahun 2015. Sebuah karya yang lahir dari sebuah malam yang sunyi di Pekanbaru, merekam dengan sangat jujur bagaimana sebuah kebohongan di masa lalu bisa menjelma menjadi beban pikiran yang amat berat, hingga merenggut hak mata untuk terpejam.
Puisi: Insomnia
Bukan aku tak bisa tidur dimalam setenang ini
Bukan pula jangkrik dan kipas angin ini
Mataku ini berat walau ringan
Hanya saja fikiran terbang melayang ingin semua masalah hilang
Masalah yang kuawali dengan kedustaan
Maka sang dusta itu gentayangan bagai setan
Andai saja jujur dari awal kukatakan
Tapi apa daya waktu tak bisa terulang
Sudah seharian ini mata tanpa pejam
Jika kau tahu, waktu istirahatku ini sangat panjang
Hanya ingin tidur sejenak istirahatkan badan
Badan dimana raga telah kehilangan
— Prima Eko Putra Pekanbaru, 2015
Bedah Makna: Beban Psikologis di Balik Kehilangan Kejujuran
Jika kita bedah bait demi bait, puisi ini menggunakan metafora yang sangat kuat dan dekat dengan realitas kehidupan psikologis manusia (highly relatable).
Pada bait pertama, penulis menggambarkan kontras antara kondisi lingkungan luar yang sangat tenang (hanya ditemani suara jangkrik dan deru kipas angin) dengan kondisi internal pikiran yang justru sedang berkecamuk hebat. Ungkapan "mataku ini berat walau ringan" secara gamblang melukiskan fase kelelahan fisik yang akut, namun gagal dibawa tidur karena otak menolak untuk berhenti berpikir.
Titik balik atau akar masalah dari gangguan tidur ini baru diungkapkan pada bait kedua. Penulis secara berani mengakui bahwa tumpukan masalah yang dihadapi bersumber dari sebuah "kedustaan" di masa lalu. Baris "Maka sang dusta itu gentayangan bagai setan" adalah personifikasi yang sangat cerdas; menggambarkan bagaimana rasa bersalah akibat tidak berkata jujur akan terus menghantui alam bawah sadar seseorang, memicu kecemasan (anxiety), dan menjadi dinding penghalang untuk mendapatkan ketenangan batin.
Hingga pada bait penutup, kita dihadapkan pada dampak fisik yang merusak dari siklus tidur yang berantakan tersebut. Rasa lelah yang teramat sangat menuntut raga untuk beristirahat, namun batin yang telanjur kehilangan kedamaian membuat tidur menjadi sebuah kemewahan yang sulit digapai. Pesan moral dari puisi tahun 2015 ini sangat tegas: kejujuran di awal—sekalipun itu pahit—jauh lebih menyelamatkan jiwa daripada sebuah dusta yang harus dibayar mahal dengan kesehatan mental di kemudian hari.
Komentar
Posting Komentar