Pernahkah kamu duduk termenung di depan laptop, jemari sudah berada di atas keyboard, namun pikiranmu mendadak kosong melompong? Banyak orang bilang menulis itu mudah—cukup tuangkan saja apa yang sedang berputar di dalam kepala. Namun dalam realitasnya, terkadang ada sebuah fase di mana beban pikiran terlalu penuh, hingga untuk merangkai satu kalimat sederhana saja rasanya membutuhkan energi yang teramat besar.
Malam ini, di dalam keheningan ruang Sekretariat WANAPALHI, saya kembali merasakan kebuntuan itu. Di luar ruangan, suara riuh obrolan kawan-kawan masih terdengar asyik saling bersahutan. Sementara di dalam sekre, suasananya jauh lebih tenang, hanya menyisakan saya, Faisal, dan Bang Fandi yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Saya mencoba menundukkan wajah, membiarkan jemari ini berpindah dari satu tuts ke tuts lainnya secara acak, hanya demi mengeluarkan apa yang benar-benar ingin saya katakan saat ini.
Ketika Isi Kepala Hampir Pecah: Skripsi dan Tanggung Jawab Organisasi
Saya mencoba melayangkan ingatan jauh ke depan, berharap bisa menjemput segelintir inspirasi untuk bahan tulisan blog. Namun, lamunan itu seketika terhenti tepat di depan layar laptop yang menyala. Pikiran saya justru berbelok arah, menyeret paksa ingatan saya pada rentetan tanggung jawab nyata yang kian hari kian mendekat.
Pertama, tentang bayang-bayang skripsi. Sebuah kewajiban akademis akhir yang bahkan hingga detik ini, saya belum tahu pasti apa judul penelitian dan masalah yang akan saya angkat.
Kedua, tentang tanggung jawab di organisasi WANAPALHI. Agenda program kerja sudah menanti di depan mata, namun rancangan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang menjadi tugas saya belum tersentuh sedikit pun.
Apakah ini efek domino dari masa liburan kuliah yang terlalu panjang, sehingga menyisakan rasa malas yang akut? Entahlah. Faktanya, ada banyak sekali hal yang berkecamuk di dalam kepala saya. Selama ini, saya hanya memilih untuk memakai "topeng" tegar—berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa di depan orang lain. Padahal di balik itu semua, isi kepala saya rasanya sudah hampir mau pecah memikirkannya. Saya sempat berpikir, andai saja ada satu masalah yang hilang dari pundak ini, mungkin batin saya bisa sedikit lebih tenang.
Validasi Perasaan: Merasa Lemah di Tengah Tekanan
Mungkin semua mahasiswa tingkat akhir atau aktivis organisasi pernah mengalami fase buntu seperti ini. Hanya saja, terkadang muncul rasa tidak percaya diri yang membuat saya merasa menjadi orang yang paling lemah dan tak sanggup menghadapi kenyataan. Bagi sebagian orang, urusan judul skripsi atau dokumen RAB proker mungkin dinilai sebagai masalah sepele yang bisa diselesaikan dalam semalam. Namun bagi sebagian orang lainnya, tumpukan urusan tersebut bisa menjadi beban yang teramat berat karena datang secara bertubi-tubi di waktu yang bersamaan.
Saya berani menuangkan curahan hati yang jujur ini di sini, karena saya tahu pembaca blog Blank's Stories belumlah seberapa. Tentu tidak semua detail konflik saya tumpahkan di lembaran ini, karena ada batasan hal-hal yang sifatnya terlalu pribadi untuk konsumsi publik. Namun, menulis secara implisit seperti ini adalah cara saya untuk melepaskan katup tekanan di dalam dada.
Nasihat Bapak: Hadapi, Jangan Pernah Lari
Di tengah keputusasaan malam itu, ingatan saya mendadak kembali pada satu petuah lama yang pernah dilontarkan oleh Bapak. Beliau pernah berpesan dengan sangat tegas:
"Apapun masalah yang terjadi di dalam hidupmu, jangan pernah sesekali kamu lari. Hadapi. Karena jika kita memilih lari, masalah itu tidak akan pernah hilang. Justru sebaliknya, dia berpotensi menimbulkan tumpukan masalah baru yang jauh lebih rumit buat kita ke depannya."
Kalimat dari Bapak malam itu menjadi tamparan sekaligus jangkar yang menahan ego saya agar tidak menyerah pada keadaan.
Cukup untuk malam ini. Catatan sederhana yang mungkin terasa bodoh dan tidak penting bagi orang lain ini akhirnya berhasil saya selesaikan. Anggap saja ini adalah ruang terapi personal. Ini sangat penting bagi saya, agar isi di dalam kepala ini mendapatkan ruang untuk bernapas dan tidak meledak begitu saja.
Pekanbaru, 31 Januari 2017
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Yah... ketahuan aku loh kalau curhatnya di sini, sebab aku bca :p hehehe...
BalasHapusAku juga lagi nyekripsi :D
Nulias terus... mau curhatan atau apapun itu nggak perlu dipikirnya bentuknya dulu. tetap lakukan apa yang disukai sambil nyekripsi. Moga bahagia menyertai kita :D
Sebetulnya,hanya perlu dikerjakan. .
Hapus