Cerita • Perjalanan • Puisi

Home Sweet Home: Cerita Mudik Libur Kuliah di Tepi Sungai Siak dan Tamparan Kesadaran tentang Shalat

Setelah berdarah-darah menyelesaikan tumpukan lembar Ujian Akhir Semester (UAS) di kampus, momen yang paling dinanti oleh setiap anak rantau akhirnya tiba: libur kuliah dan pulang kampung. Kemarin sore, saya akhirnya menginjakkan kaki kembali di Buatan II, kampung halaman tercinta. Maklum saja, sudah cukup lama saya tidak pulang, hingga rasa rindu pada rumah dan keluarga rasanya sudah membesar dan membuncah di dalam dada.

Ada kebahagiaan sederhana yang tak ternilai saat bisa kembali berkumpul, melihat langsung keadaan Ibu, Bapak, adik-adik, serta atmosfer rumah yang selalu menenangkan. Sesaat setelah sampai di gerbang kampung, saya tidak sengaja berpapasan dengan Bapak di simpang Masjid Assa'adah—masjid megah yang menjadi kebanggaan warga Kampung Buatan II. Rupanya, Bapak baru saja pulang membeli sebuah lampu LED untuk dipasang di ruang tengah, biar lebih hemat listrik, katanya.

Pelukan Rumah dan Sebuah Refleksi Niat Ibadah

Sesampainya di rumah, saya langsung merebahkan badan untuk melepas penat perjalanan. Tidak lama setelah saya berbaring, Ibu keluar dari kamar dengan mukena yang masih mengenang—rupanya beliau baru saja selesai menunaikan ibadah shalat. Setelah saya diberi waktu istirahat sekitar 15 menit, Ibu langsung menyuruh saya untuk segera mengambil wudhu dan shalat.

Sejujurnya, momen ini menghadirkan sebuah tamparan kesadaran yang cukup mendalam bagi batin saya. Di masa-masa sibuk perkuliahan kemarin, saya harus mengakui bahwa saya sudah cukup lama abai dan melalaikan kewajiban shalat. Dan ketika di rumah, saya mendadak patuh karena ada rasa sungkan atau takut terkena "ceramah" dari orang tua jika ketahuan tidak shalat.

Namun, tentu saja bukan itu poin utamanya. Pikiran saya langsung merenung: seolah-olah saya mendirikan shalat hanya karena takut kepada manusia (orang tua), padahal hakikatnya, ibadah shalat itu harusnya didasari atas rasa takwa dan takut kita kepada Allah SWT. Sebuah pengingat kecil yang langsung menembus jantung pertahanan ego saya sore itu.

Suasana Sore di Pinggir Sungai Siak

Selesai menunaikan shalat dan menikmati hidangan masakan Ibu, saya memilih melangkah keluar rumah sebentar. Kebetulan, posisi rumah kami terletak persis di pinggiran Sungai Siak, jadi berjalan kaki di sekitar sini selalu efektif untuk menyegarkan pikiran.

Suasana sore di Buatan II ternyata masih sama seperti saat saya tinggalkan dulu. Area di sekitar kantor Kepala Kampung tampak ramai dipadati oleh para remaja setempat. Usut punya usut, ternyata area kantor desa sekarang sudah difasilitasi jaringan wifi gratis, sehingga menjadi titik kumpul baru bagi anak-anak muda di sana.

Sembari berjalan-jalan, saya juga memanfaatkan momen ini untuk melakukan "survei" kecil-kecilan. Saya mencari spot pohon yang pas dan kokoh di pinggir sungai untuk membentangkan hammock. Rencananya, saya ingin bersantai menikmati angin sore Sungai Siak sambil berselancar di dunia maya. Namun, niat itu tampaknya harus saya tunda dulu, karena sisa kelelahan fisik malam itu memaksa raga ini untuk segera kembali ke tempat tidur.

Mengumpulkan Tenaga untuk Hari Esok

Sekembalinya ke rumah, saya langsung bersiap untuk istirahat total. Agenda untuk hari esok dipastikan akan cukup menyita waktu, karena saya harus mencuci tumpukan pakaian kotor yang dibawa dari kosan serta membersihkan beberapa peralatan organisasi yang sudah berdebu. Setidaknya, tidur malam yang nyenyak kali ini bisa memulihkan kembali energi saya secara penuh.

So, welcome back to my home sweet home.

Buatan II, 4 Februari 2017

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar