Ahad, 9 Agustus 2020
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Menjadi seorang penulis bukan sekadar tentang merangkai huruf demi huruf di atas kertas atau layar gawai. Ada sebuah tanggung jawab moral, estetika, dan teknik yang berjalan beriringan di balik setiap baris kalimat yang tercipta. Jika kau mengklaim dirimu adalah seorang penulis, atau setidaknya sedang melangkah di jalan sunyi kepenulisan, maka kau pasti akan sangat akrab dengan beberapa pilar dasar berikut ini.
1. Rumusan Dasar 5W + 1H
Kau pasti sangat paham dengan konsep 5W+1H (What, Who, Where, When, Why, dan How). Ini merupakan teori dasar yang wajib dikuasai oleh para penulis. Dengan merumuskan keenam elemen ini di awal, setidaknya seorang penulis sudah berhasil mengamankan fondasi data atau kerangka bahan baku yang ingin digunakan dalam tulisannya agar tidak keluar jalur.
2. Metode Logika Induksi dan Deduksi
Kau pasti paham cara kerja pola pikir Induksi dan Deduksi. Dua metode ini adalah cara logis dalam mengambil atau mengemukakan kesimpulan di dalam sebuah paragraf. Induksi bergerak dari fakta-fakta khusus menuju kesimpulan umum, sedangkan deduksi menjabarkan gagasan utama terlebih dahulu baru diikuti penjelasan khusus. Jika dalam tulisanmu sama sekali tidak ditemukan logika induksi atau deduksinya, entahlah, aku kira itu belum bisa disebut karya sastra, melainkan hanya sebatas coretan acak tanpa arah.
3. Seni Menjembatani Kata Melalui Bridging
Kau pasti sudah sangat familiar dengan istilah Bridging. Istilah ini merujuk pada kalimat-kalimat transisi yang digunakan oleh penulis untuk mengalihkan topik pembahasan secara halus dari satu paragraf ke paragraf berikutnya. Tak mungkin rasanya menghasilkan tulisan yang mengalir nyaman tanpa menggunakan teknik bridging yang rapi, karena tanpanya, pembaca akan merasa melompat kaget saat membaca ide baru.
4. Kekayaan Perbendaharaan Diksi dan Rima
Kau juga pasti paham betul dengan kuasa sebuah Diksi. Seorang penulis idealnya harus memiliki perbendaharaan kata yang melimpah di dalam kepalanya. Kosakata itulah yang akan membuat pilihan kata dalam tulisan menjadi bervariasi, bernyawa, dan mampu menyulap topik yang membosankan menjadi sangat menarik untuk disimak. Tak ubahnya dengan diksi, permainan Rima juga jangan diabaikan. Jika penggunaan diksi tepat, rima akhiran kalimat yang dihasilkan pun bisa terdengar sangat hebat dan puitis.
5. Keseimbangan Sampiran dan Isi
Dalam ranah sastra tradisional atau tulisan bergaya pantun, struktur Sampiran dan Isi juga tidak boleh dilupakan begitu saja. Kehadiran sampiran bukan sekadar pemanis baris, melainkan bisa menjadi instrumen pembuat pesan yang sangat bagus sebelum inti sari atau amanat tulisan benar-benar disampaikan kepada pembaca.
Kesimpulan: Sebuah Refleksi Diri
Akhir kata, kunci terbesar dari dunia literasi ini sangat sederhana: jika kau adalah seorang penulis, maka tugas utamanya adalah terus menulis. Karena jika jemarimu berhenti bergerak dan kau tidak lagi melahirkan karya, maka sedalam apa pun teorimu, kau bukanlah seorang penulis lagi.
Enough for today. Mari terus mengasah rasa lewat kata.
Salam literasi dari balik meja kerja,
Blank
Komentar
Posting Komentar