Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 8

ilustrasi-pesan-cinta-ayah-untuk-anak
Untaian Catatan untuk Aisyah Tercinta

Hidup ini, jika kita kuliti esensinya secara jujur, sebenarnya hanyalah sebuah proses perpindahan dari satu masalah menuju rentetan masalah berikutnya.

Catatan ini aku ketik tepat pada tanggal 17 Juni 2022. Sebuah wejangan awal yang sengaja Abi titipkan di lembaran Blank's Stories ini, khusus untukmu jika kelak engkau sudah tumbuh dewasa, Anakku.

Nanti ketika engkau sudah besar dan mulai mengarungi dunia yang luas, jangan pernah sekalipun terkejut atau heran ketika melihat ada banyak masalah yang datang menghampiri hidupmu. Kamu harus tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tangguh dalam menghadapinya, Nak.

Ingatlah baik-baik pesan Abi ini: setiap masalah yang tercipta di dunia ini pasti sudah satu paket dengan solusi ataupun jalan keluarnya. Jangan pernah takut, jangan pernah gentar. Sebab, tumpukan masalah itulah yang sebenarnya memegang peran besar untuk menempa dan mendewasakan sudut pandangmu sebagai manusia.

Engkau harus belajar sejak dini tentang bagaimana cara memanajemen masalah dengan baik. Kemampuan itu teramat penting, Nak. Jika kamu tidak melatih diri untuk mengatasi dan mengurai masalahmu sendiri, kepalamu bisa terasa mau pecah karena tumpukan beban pikiran. Dalam setiap prosesnya, perbanyaklah ruang sabar di dalam dada, karena benteng kesabaran itulah yang terbukti ampuh mampu meringankan beban jiwamu saat berada di situasi tersulit.


Usia 2 Bulan: Celoteh Lucu Aisyah dan Doa Warisan Sifat

Saat ini, usiamu sudah menginjak 2 bulan jalan 3 bulan. Engkau sudah mulai pandai melemparkan senyuman manis dan sudah sangat seru untuk diajak bercanda. Abi sering sekali meluangkan waktu untuk mengajakmu mengobrol secara intens.

Meskipun jujur Abi belum tahu pasti apa makna dari susunan bahasa yang ingin kamu katakan, Abi selalu merasa bahagia setiap kali mendengar engkau berbunyi, seolah-olah sedang asyik berceloteh membalas ucapan Abi.

Nanti kalau sudah besar, Abi harap kamu jangan tumbuh menjadi anak yang terlalu cerewet ya, Nak. Cukup Umimu saja yang memonopoli sifat cerewet itu di rumah kita. Kebayang kan kalau kalian berdua sama-sama cerewet di dalam rumah? Bisa agak pusing dan berdenging juga telinga Abi mendengarnya nanti.

"Di luar candaan itu, Abi sangat berharap kelak engkau bisa mewarisi sifat penyabar yang ada pada diri Abi, sekaligus mewarisi paras cantik, imut, dan menawan yang dimiliki oleh Umimu. Tapi kalau Abi perhatikan sejak kecil, wajahmu memang sudah terlihat sangat cantik, Nak. Garis wajahmu tampak dominan mewarisi struktur wajah Abi, sedangkan lengkung senyummu murni mewarisi manisnya senyuman Umi. Engkau benar-benar sebuah perpaduan karya seni yang indah dari kami berdua."


Penawar Lelah Sepulang Mengajar di Sekolah

Jujur, Abi sudah sangat tidak sabar menantikan momen di mana engkau sudah pandai berbicara secara fasih. Abi ingin sekali bisa mengobrol banyak hal denganmu, sebuah obrolan dua arah di mana kita berdua bisa saling mengerti bahasa satu sama lain. Kalau untuk kondisi sekarang, Abi kan sifatnya murni baru bisa menerka-nerka saja apa arti dari kode dan keinginan yang ingin kamu sampaikan melalui tangisan atau gerakan tubuhmu.

Sepanjang dua bulan kehadiranmu di rahim bumi ini, engkau sudah mengalirkan tumpukan kebahagiaan yang teramat besar di dalam diri Abi. Setiap kali Abi melangkah pulang ke rumah selepas menunaikan kewajiban mengajar di sekolah—dengan membawa tumpukan beban kerja, lelah fisik, serta masalah-masalah eksternal lainnya—begitu mata ini memandang wajah kecilmu, seakan-akan seluruh tumpukan masalah pelik tersebut seketika hilang runtuh tak berbekas, Nak. Engkau adalah obat penenang terbaik bagi Abi.


Perjuangan Estafet ASIP Menjelang Akhir Kontrak Kerja Umi

Kehidupan harian kita saat ini masih diwarnai dengan ritme mobilitas yang lumayan padat. Menjelang Umimu menyelesaikan dan menghabiskan sisa kontrak kerjanya sebagai guru di bulan Juni ini, engkau masih harus rela kami antar dan jemput setiap harinya dari rumah kontrakan menuju ke rumah nenekmu di Jalan Hibrida.

Begitulah rutinitas wajib yang harus Abi dan Umimu tempuh setiap harinya demi memastikan keselamatanmu selama kami bertugas di sekolah. Bahkan, di sela-sela padatnya jam kerja mengajar, kami harus saling estafet dan bergantian untuk mengantarkan stok ASI perah (ASIP) yang dipompa oleh Umi di sekolah untuk dibawa pulang ke rumah nenek.

Terkadang, jika jadwal mengajar Abi sedang penuh dan banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, Umimu sendirian yang akan berkendara mengantarkan stok susu tersebut demi kelancaran konsumsimu. InsyaAllah, setelah masa kontrak kerja Umi resmi berakhir di penghujung bulan Juni ini, engkau dan Umi akan memiliki waktu penuh untuk menghabiskan waktu seharian bersama-sama di dalam rumah tanpa harus lelah bolak-balik lagi.

Abi cukupkan dulu bait-bait pesan cinta untuk pertengahan tahun ini ya, Nak. Sampai jumpa di lembaran pesan penuh petualangan berikutnya. Abi sayang kamu.


Pekanbaru, 17 Juni 2022

Oleh: Abi Aisyah

Komentar

Posting Komentar