Cerita • Perjalanan • Puisi

Puisi Menanti Kelahiran Anak Pertama: "Aisyah Namanya" (Kisah Haru Menjadi Ayah Baru)

ilustrasi-gendong-anak

Menjadi seorang ayah adalah perjalanan emosional yang luar biasa. Dari momen pertama melihat dua garis biru di testpack, hingga mendengar tangisan pertama si buah hati di ruang persalinan, setiap detiknya adalah keajaiban yang tak terlupakan.

Sebagai bentuk rasa syukur dan kenangan abadi, coretan puisi ini ditulis untuk merekam jejak rasa haru, cemas, hingga kebahagiaan tak terkira saat menyambut kelahiran putri pertama kami tercinta, Aisyah.

Berikut adalah bait-bait untaian kata yang lahir dari hati seorang ayah perdana:

Aisyah Namanya

Karya: Prima Eko Putra

Terasa badan akan terbang melintasi angkasa 
Saat kulihat istri sodorkan garis dua tandanya 
Bangga terasa akan punya anak pertama 
Nanti akan jadi ayah perdana

Tegak punggung yakin jawab setiap tanya “Kapan punya anak?” 
Tinggal kujawab saja “Tahun depan” dengan nada bahagia Dan bangga 
Apa aku terlalu angkuh? 
Bukan, tapi terlalu bahagia

Simpanan sudah lama disisihkan 
Sebagai bekal istri lahiran 
Kesana kemari bidan ditanyakan 
Tempat terbaik mesti difikirkan

April tanggal mulai dekat 
Jantung pula ikut rasa deg degan 
Was was sekaligus cemas 
Kembang kempis dada keluarkan nafas

Dua belas April waktu nan dinanti 
Menanti kehadiran si buah hati 
Hati senang bak setengah mati 
Mati matian berjuang sakit tiada arti

Lemas, letih, sakit tapi bahagia 
Airmata jatuh tapi bibir senyum ria 
Kutatap istri, ibu serta mertua bahagia 
Sekali lagi airmata jatuh bibir senyum ria

Aisyah namanya 
Cantik anaknya 
Manis senyumnya 
Aku ayahnya

Tenayan Raya, 16 Mei 2025

Makna di Balik Puisi Kado Kelahiran Anak

Setiap bait di atas adalah saksi bisu persiapan kami menyambut 12 April. Mulai dari menabung untuk biaya persalinan, survei bidan terbaik, hingga momen mendebarkan di ruang bersalin saat melihat perjuangan luar biasa seorang ibu melahirkan nyawa baru ke dunia. Rasa lelah dan air mata seketika berubah menjadi senyum ria yang magis.

Semoga puisi ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa besarnya berkah sebuah keluarga, dan betapa indahnya amanah menjadi orang tua.

Komentar

Posting Komentar