Jumat di minggu pertama bulan April 2016 menjadi momen kepulangan ke kampung halaman di Buatan II, Siak, yang tidak akan pernah saya lupakan. Sore itu, Ibu dan Bapak sedang duduk berkumpul di ruang tengah untuk membahas kelanjutan pendidikan adik bungsu saya, 'Ariq Fakhrizan. Rencananya, adik akan melanjutkan sekolah ke Islamic Center Siak, sebuah lembaga pendidikan dengan sistem pondok pesantren.
Sembari membolak-balik brosur dan mengalkulasi rincian biaya pendaftaran serta uang masuk, muncul angka sekitar 1,5 juta rupiah yang harus dipersiapkan. Setelah sempat terdiam cukup lama dan larut dalam pikirannya, Bapak tiba-tiba menoleh dan melayangkan sebuah pertanyaan langsung kepada saya.
"Eko, ado setahun lagi Ko?" (Eko, ada setahun lagi kuliahnya?)
Pertanyaan singkat dari Bapak siang itu seketika menjadi kalimat paling sulit untuk saya jawab. Pikiran saya mendadak kalut mengingat realitas di kampus; masih banyak mata kuliah yang belum saya ambil, dan tidak sedikit pula kelas yang harus saya ulang. Namun, melihat sorot mata penuh harap itu, saya mencoba menguatkan hati dan meyakinkan beliau.
"InsyaAllah Pak, tahun depan selesai. Ngapo gitu, Pak?" jawab saya mencoba bertanya basa-basi, meski dalam hati saya sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
"Kalau tahun depan belum tamat, Bapak tak sanggup lagi do." Seketika kalimat itu menghantam dada saya dengan sangat telak. Rasanya perih luar biasa. Kalimat sederhana namun sarat beban itu menjadi sinyal mutlak bahwa mau tidak mau, siap tidak siap, tahun depan saya sudah harus mengenakan toga wisuda. Namun, bagaimana dengan kondisi perkuliahan saya saat itu?
Tamparan Evaluasi Diri dan Flashback Masa Lalu
Malam harinya di kamar, pikiran saya mendadak terlempar ke masa-masa ke belakang (flashback). Saya merenungi betapa banyaknya waktu yang sudah saya sia-siakan selama masa kuliah ini. Mengingat kembali lembaran absensi yang kosong, waktu yang habis untuk sekadar bermain-main, dan... ah, sudahlah, ada beberapa kelalaian masa muda yang rasanya tidak perlu saya ceritakan secara mendetail di sini.
Dengan pernyataan yang terlanjur saya sampaikan kepada Bapak siang tadi, artinya saya telah mengikat janji suci—baik kepada diri sendiri maupun kepada orang tua—untuk menyelesaikan studi tahun depan.
Kondisi ini kian terasa mendesak karena adik-adik saya yang lain juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk sekolah dan kuliah. Di saat yang sama, Bapak sedang berjuang melewati masa-masa sulit dalam pekerjaannya. Anjloknya harga minyak dunia saat itu berimbas pada rumor bahwa perusahaan tempat Bapak bekerja terancam akan ditutup.
Logika saya langsung berputar liar memikirkan nasib kelanjutan kuliah saya. Saat itu saya sudah menginjak semester 8, sebuah fase di mana seorang mahasiswa idealnya sudah harus lulus dan menyandang gelar sarjana. Tapi realitasnya saat itu, saya masih tertatih-tatih di belakang.
Doa, Harapan, dan Penebusan Salah
Menyadari posisi sebagai anak laki-laki tertua, ada rasa bersalah yang mendalam di dalam hati. Di usia sekarang, seharusnya biaya kuliah saya dan sekolah adik-adik sudah menjadi bagian dari tanggung jawab dan keringat saya sendiri untuk meringankan beban orang tua.
Melalui tulisan ini, saya hanya bisa mengetuk pintu langit dan memohon maaf yang sebesar-besarnya. Maafkan Eko, Pak, belum bisa membantu perekonomian keluarga secara langsung. Setidaknya, jalan terdekat yang bisa Eko lakukan untuk membantu saat ini adalah dengan belajar lebih keras dan menyelesaikan kuliah ini secepat mungkin.
Semoga langkah kaki ini ke depannya senantiasa diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam menyelesaikan sisa studi, dan semoga Bapak selalu dilimpahkan kesehatan serta rezeki yang luas dan berkah dari arah yang tidak disangka-sangka. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Buatan II, Siak — 10 April 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar