Cerita • Perjalanan • Puisi

Refleksi Usia 22 Tahun: Antara Ekspektasi, Rasa Bersalah, dan Tekad untuk Berubah

Woohoo, sudah lama rasanya aku tidak menyempatkan diri untuk menulis di blog ini.

Alhamdulillah, lini masa kehidupanku akhirnya kembali berhasil melewati tanggal 6 Mei untuk yang ke-22 kalinya. Tepat pada tanggal 6 Mei kemarin, usiaku resmi bertambah. Namun, di tengah momentum bertambahnya usia ini, ada sebuah gejolak batin yang membuatku terduduk dan merenung: apakah kualitas diriku juga ikut meningkat seiring bertambahnya angka usia?

Harus kuakui secara jujur, belakangan ini aku merasa ada penurunan dalam kualitas kedisiplinan dan karakter diri. Harapan-harapan besar yang dulu sempat menggebu-gebu kini rasanya meleset, digantikan oleh rasa malas yang luar biasa hebat. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiranku, dan entah faktor apa yang membuatku berada di titik ini. Jika boleh menilai diri sendiri secara objektif, rasanya arah hidupku belakangan ini sedang berjalan menuju titik kritis.

Tamparan Ekspektasi dan Realitas di Usia Dewasa

Rutinitas ibadah salat dan mengaji yang sempat ingin kuperbaiki, kini kembali mengendur. Ditambah lagi dengan siklus tidur malam (insomnia) yang tidak kunjung membaik, serta hilangnya motivasi untuk belajar dan menyelesaikan urusan kuliah.

Momen ulang tahun ini seketika melemparkan ingatanku pada peristiwa 22 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali dilahirkan ke dunia ini. Aku lahir dengan membawa sejuta doa dan harapan dari kedua orang tua. Mereka berharap agar kelak aku bisa menjelma menjadi sosok anak yang dapat diandalkan, menjadi seorang abang tertua yang berguna bagi adik-adiknya, serta menjadi tulang punggung yang kokoh bagi keluarga.

Semua untaian doa kebaikan telah mengalir deras dari orang tua, keluarga besar, adik-adik, hingga kawan-kawan seperjuangan. Kini, kuncinya hanya tinggal ada pada diriku sendiri: apakah aku memiliki keberanian dan konsistensi untuk mengubah tabiat buruk ini atau tidak.

Permohonan Maaf dan Harapan untuk Berdikari

Melalui catatan harian di blog ini, aku ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang  kusayangi. Maaf, karena sampai di usia ini Eko belum bisa menjadi sosok ideal seperti yang kalian harapkan. Eko belum bisa berbuat banyak untuk membalas budi.

Ada rasa sesak ketika menyadari bahwa di usia kepala dua ini, uang jajan harian masih harus meminta dan bergantung pada keringat Bapak dan Ibu di kampung. Aku merasa belum mampu hidup mandiri, dan realitas itu terasa cukup mengecewakan. Seharusnya, di usia transisi menuju kedewasaan penuh seperti sekarang, aku sudah bisa bekerja, mencari penghasilan sendiri, dan berdikari.

Namun, penyesalan tanpa tindakan tidak akan mengubah keadaan. Langkah terdekat yang bisa kulakukan sekarang adalah bangkit dan mulai membenahi diri secara perlahan tapi pasti. Terima kasih banyak untuk semua orang yang masih sudi menyelipkan doa dan dukungannya untukku hingga hari ini. Perjalanan baru untuk berubah dimulai dari sekarang.

Pekanbaru, 8 Mei 2016

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

  1. Wah... sama... juni lalu aku juga 22. Berarti aku ndak perlu panggil kamu mas deh kalau gitu :D

    BalasHapus

Posting Komentar