Well, well, well. Ada kelanjutan cerita tentang pendidikan adik bungsuku, 'Ariq Fakhrizan. Pada catatan sebelumnya, aku sempat bercerita tentang rencana dan persiapan pendaftarannya untuk masuk ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor 14. Namun, rencana tinggal rencana, karena skenario di lapangan ternyata berjalan dengan penuh drama.
Hari ini, sekitar pukul 14.30 WIB, adik bungsuku tiba-tiba sudah melangkah kembali ke rumah. Mengapa dia bisa pulang secepat itu?
Ceritanya, sekitar pukul 10.00 WIB pagi tadi, teman sekamarnya di pondok—yang kebetulan juga berasal dari kampung yang sama, Buatan II—menelepon orang tuanya sambil menangis. Dia mengaku sudah tidak sanggup lagi menahan rindu rumah (homesick) dan meminta untuk segera dijemput pulang.
Rupanya, kejadian itu langsung memengaruhi mental adik bungsuku. Karena melihat teman sekampungnya memutuskan pulang, ia pun seketika goyah dan ikut-ikutan ingin pulang ke rumah. Ya, namanya juga anak-anak, emosinya masih sangat labil dan kecenderungan untuk ikut-ikutan teman masih sangat kuat.
Sisi Lain di Rumah: Kedahsyatan Kasih Sayang Ibu dan Bapak
Namun, di balik cerita kepulangan adik, ada potret mengharukan tentang bagaimana perasaan orang tua kami yang sebenarnya sejak hari pertama melepas si bungsu pergi.
Semenjak kami mengantarnya ke pondok tempo hari, sore harinya menjelang waktu berbuka puasa, Ibu mendadak menangis tersedu-sedu. Ibu benar-benar kehilangan selera makan. Pikirannya langsung melayang mengkhawatirkan si bungsu di sana: Bagaimana menu berbukanya? Bagaimana mandinya? Nyenyakkah tidurnya? Jam berapa dia bangun sahur? Bahkan hingga larut malam menjelang tidur pun, Ibu masih didera kesedihan yang mendalam. Aku, Bapak, dan Ayi sudah berulang kali membujuk Ibu untuk makan nasi sedikit saja agar fisiknya tidak ambruk. Namun begitulah seorang ibu, malam itu beliau sama sekali tidak menyentuh nasi dan hanya meminum setengah gelas air putih saat berbuka. Semangat hidupnya seolah menguap begitu saja.
Lain Ibu, lain pula cerita Bapak. Di hadapan kami, Bapak berusaha tampil sebagai sosok lelaki yang kuat, tegar, dan tebal muka. Namun, tubuh tidak bisa berbohong. Sesaat setelah berbuka puasa, pertahanan fisik Bapak runtuh dan beliau langsung terserang demam tinggi.
Aku tahu persis, demam itu murni karena pikiran Bapak yang teramat mengkhawatirkan si bungsu. Bapak yang biasanya sangat jarang jatuh sakit karena selalu disiplin menjaga kesehatan, malam itu tampak lunglai seolah ada separuh jiwanya yang hilang. Begitulah dahsyatnya ikatan batin orang tua.
Keputusan Akhir dan Kembalinya Semangat Rumah
Seperti yang sempat kusinggung sebelumnya, adik bungsuku ini memang terbiasa dimanja di rumah. Itulah faktor utamanya; ia belum siap mental untuk berada jauh dari pelukan orang tua.
Melihat kondisi fisik dan psikologis yang sama-sama tidak sehat, Ibu akhirnya menelepon Bapak yang sedang berada di tempat kerja untuk meminta persetujuan.
"Yo biolah dio balik, daripada sakit lak budak tu disano," (Ya sudahlah, biarkan saja dia pulang, daripada nanti dia malah jatuh sakit di sana).
Akhirnya, keputusan bulat diambil. Adik pun ikut menumpang mobil jemputan orang tua temannya untuk kembali ke rumah. Dengan kepulangan ini, niat dan cita-cita untuk bersekolah di pondok pesantren resmi dibatalkan. Si bungsu memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di dalam kampung kami saja.
Menariknya, begitu adik menapakkan kakinya kembali di dalam rumah, aura wajah Ibu langsung berubah drastis. Ibu mendadak menjadi sangat bersemangat, ceria, dan kembali lahap menyantap hidangan—berbeda 180 derajat dengan kondisinya sehari sebelumnya. Sungguh ajaib, kekuatan dan semangat seorang ibu ternyata memang murni terletak pada keberadaan anak-anaknya.
Memetik Hikmah
Pada akhirnya, kami sekeluarga memilih untuk berlapang dada menerima keputusan ini. Biarlah urusan pesantren ini menjadi pengalaman berharga bagi si bungsu. Menjadi anak yang saleh dan berbakti pada dasarnya tidak melulu harus menempuh pendidikan di dalam pondok pesantren; di mana pun tempat sekolahnya, semua kembali pada bagaimana cara kita mendidik, mengarahkan, dan memberikan contoh yang baik di dalam lingkaran keluarga.
Semoga kejadian singkat ini juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi adik agar ke depannya ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang, mandiri, serta tidak terburu-buru mengambil keputusan besar hanya karena ikut-ikutan teman sebaya.
Buatan II, Siak — 10 Juni 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar