Cerita • Perjalanan • Puisi

Catatan Agustus: Jeda Kuliah, Dinamika Keluarga, dan Geliat Kemerdekaan di Buatan II

Berhubung saat ini masih dalam suasana libur semester perkuliahan, rutinitas harianku kembali berputar di lingkaran domestik rumah. Kegiatan sehari-hari palingan hanya berkisar antara membantu pekerjaan Ibu dan Bapak, menonton, makan, tidur, bermain, dan tentu saja tidak ketinggalan: mengganggu adik-adik.

Keinginan untuk segera bertolak kembali ke Pekanbaru sebenarnya sudah ada, namun realitasnya saat ini aku belum bisa melangkah ke sana. Faktor utamanya adalah kendala dana. Bapak baru saja habis masa kontrak kerjanya di perusahaan dan saat ini sedang berada dalam masa tunggu untuk pengajuan kontrak yang baru. Selama masa transisi tanpa pemasukan ini, mau tidak mau kami sekeluarga harus memutar otak dan berkomitmen untuk hidup super hemat.

Selain masalah biaya, kondisi kesehatan Ibu juga sedang menurun akhir-akhir ini. Beliau sering mengeluhkan kakinya yang terasa sangat dingin, kemungkinan terkena gejala rematik. Kondisi fisik Ibu yang kurang sehat inilah yang memantapkan keputusanku untuk tetap tinggal lebih lama di kampung demi mendampingi beliau.

Sisi Lain Liburan: Berat Badan yang Bertambah dan Cerita Asmara Baru

Menariknya, selama menghabiskan waktu di rumah, berat badanku justru menunjukkan grafik kenaikan alias agak ndut. Mengapa bisa begitu? Mungkin karena selama di kampung, psikologisku terbebas sejenak dari penatnya beban pikiran di Pekanbaru—mulai dari bayang-bayang tugas kuliah, urusan dompet yang menipis, draf judul skripsi yang belum rampung, hingga tumpukan beban akhir semester lainnya. Ditambah lagi, pola makan di rumah jauh lebih teratur dengan porsi yang kadang melimpah.

Di samping itu, ada satu kabar bahagia yang melengkapi perjalananku di fase ini. Alhamdulillah, aku baru saja memulai lembaran asmara baru bersama seorang gadis bernama Resti Mulyati. Dia adalah adik tingkat (junior)ku di kampus STMIK Amik Riau, sekaligus rekan satu bendera di organisasi yang kami besarkan bersama, yaitu UKM KERTAS.

Jarak usia kami terpaut empat tahun. Di mataku, dia adalah sosok yang sangat cantik, absolutely. Mengingat usianya yang masih terhitung remaja, sifatnya terkadang masih kekanak-kanakan dan tentu masih membutuhkan banyak bimbingan serta arahan dalam berpikir. Bagiku itu tidak menjadi masalah; selama ia terbuka untuk diarahkan, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membimbingnya ke arah kedewasaan.

Semarak Perlombaan HUT RI di Kampung Halaman

Waktu bergulir begitu cepat dan tanpa terasa kita sudah menapak di bulan Agustus, bulannya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Atmosfer perayaan sudah mulai terasa di mana-mana dengan bermunculannya berbagai macam perlombaan khas agustusan.

Di Kampung Buatan II sendiri, panitia setempat tengah gencar menyelenggarakan berbagai turnamen olahraga untuk memeriahkan HUT RI, mulai dari sepak bola dangdut yang jenaka, catur, tenis meja, bola voli, hingga futsal.

Sebagai warga lokal yang baik, aku tentu tidak ingin ketinggalan untuk berpartisipasi aktif. Kali ini, aku mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta di cabang lomba catur. Keikutsertaan ini bukan karena aku seorang ahli atau master catur, melainkan murni demi meramaikan pesta rakyat di kampung halaman. Kalau nanti ternyata bisa menang, ya itu bonus dan Alhamdulillah namanya.

Selain catur, sebenarnya ada rencana untuk ikut bertanding di cabang tenis meja. Namun, kepastiannya masih mengambang karena tim dari Buatan II saat ini masih kekurangan personel untuk kategori ganda. Artinya, aku masih harus menunggu dan mencari pasangan duet yang pas di atas meja pimpong. Mudah-mudahan dalam waktu dekat pasangannya dapat, sehingga aku bisa ikut turun bertanding mengharumkan nama RT atau dusun.

Agustus selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan tawa di tengah himpitan ujian hidup. Mari kita nikmati prosesnya.

Buatan II, Siak — 5 Agustus 2016

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar