Cerita • Perjalanan • Puisi

Nemani Bapak MCU: Cerita Bolak-Balik Panam, Kenangan Sekre, dan Drama Turnamen Pingpong

Sabtu, 6 Agustus 2016 dimulai dengan ritme yang lebih cepat dari biasanya. Pagi itu aku sengaja bangun lebih awal demi menunaikan sebuah tugas penting: menemani Bapak menjalani rangkaian Medical Check Up (MCU) di Rumah Sakit Aulia Hospital, Panam. Pemeriksaan kesehatan ini menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi Bapak demi kelancaran pengajuan kontrak baru di perusahaan tempat beliau bekerja.

Kami bertolak dari rumah sekitar pukul 07.00 WIB pagi dan baru tiba di rumah sakit menjelang pukul 09.00 WIB. Melihat antrean yang cukup panjang, Bapak berucap kepadaku, "Pegilah main dulu, kalau ditunggu lamo." Karena mendapat "lampu hijau" dan tahu prosesnya akan memakan waktu, aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu luang tersebut dengan melipir ke kampus STMIK Amik Riau. Agendanya sederhana: melihat situasi sekretariat organisasi sekaligus menjemput bet tenis meja (pingpong) milikku.

Nostalgia Singkat di Sekretariat Kampus

Setibanya di halaman depan sekretariat, pandanganku langsung disambut oleh kehadiran dua ekor anak anjing yang menggemaskan. Aku baru ingat, mereka adalah anak-anak dari Momo—anjing peliharaan yang biasa berjaga di area sekretariat. Lucunya, begitu aku melangkah masuk halaman, Momo malah menggonggong lantang ke arahku. Sambil tertawa dalam hati, aku menyadari mungkin Momo sudah pangling atau lupa dengan aroma tubuhku karena aku sudah cukup lama tidak berkunjung ke sekretariat sejak momen buka puasa bersama beberapa bulan lalu.

Suasana di dalam sekretariat terasa sangat sunyi. Hanya ada Opung yang tampak sedang terlelap tidur. Merasa segan untuk mengusik istirahatnya yang mungkin masih didera rasa lelah, aku memilih bergerak senyap. Aku langsung mengambil bet pingpong di tempat penyimpanan, lalu bergegas pergi.

Saat melewati gerbang kampus, aku menyadari ada beberapa perubahan fasilitas yang baru. Kini sudah ada sosok satpam baru yang berjaga di pos, serta portal kampus yang sengaja ditambah menjadi dua jalur terpisah untuk akses keluar dan masuk kendaraan. Kampus rupanya perlahan mulai berbenah.

Mampir ke Cipta Karya: Salah Kira dan Sarapan Dobel

Dari kampus, aku memacu sepeda motor menuju ke rumah kontrakanku yang berada di Jalan Cipta Karya. Setibanya di sana, suasana rumah Oom yang berada dekat dari rumah tampak tertutup rapat. Mengira mereka semua sudah berangkat beraktivitas dan bekerja, aku mengurungkan niat untuk mengetuk pintu. Sialnya, aku lupa membawa kunci rumah. Karena desakan alam yang tidak bisa ditunda, beruntung kamar mandi di sana terletak di bagian luar rumah.

Selesai menuntaskan urusan buang air besar (BAB), aku duduk bersantai di atas motor sambil menyalakan pemutar musik di ponsel. Tak disangka, alunan musik tersebut rupanya memicu suara pintu rumah Oom yang mendadak terbuka dari dalam. Ternyata dugaanku meleset; mereka bukannya pergi bekerja, melainkan masih terlelap tidur.

"Eh Eko, bilo sampai?" tanya Oom dengan wajah terkejut khas orang baru bangun tidur. "Baru Om, Eko kiro oom kejo," jawabku canggung.

Oom langsung mengajakku masuk ke dalam rumah. Setelah kujelaskan bahwa kedatanganku ke Panam adalah untuk mengantarkan Bapak MCU, Oom justru langsung mengajakku untuk sarapan bersama. Meski perut sebenarnya sudah diisi sejak dari rumah di kampung, rasa sungkan untuk menolak kebaikan keluarga—ditambah cacing di perut yang tampaknya mulai lapar lagi—membuatku melahap hidangan sarapan kedua pagi itu dengan sukacita.

Makan Siang Bersama Bapak dan Kekecewaan Oom

Sekitar jam 11.00 siang, rasa kantuk yang hebat menyerang akibat kekenyangan. Akupun tertidur pulas di ruang tengah rumah Oom hingga azan zuhur berkumandang. Selesai menunaikan ibadah salat, ponselku berdering. Bapak menelepon dan memberi kabar bahwa rangkaian tes kesehatannya telah rampung dan meminta untuk segera dijemput.

Sebelum berpamitan, Oom sempat berpesan agar nanti siang kami berdua kembali ke rumahnya untuk makan siang bersama. Namun, sesampainya di RS Aulia Hospital, Bapak ternyata sudah langsung mengarahkanku ke salah satu rumah makan yang berada di area rumah sakit. Di sana, Bapak sedang berkumpul dan makan bersama kawan-kawan sejawatnya yang juga baru selesai menjalani MCU. Kami pun akhirnya makan siang di sana.

Selesai makan, kami berdua kembali ke Cipta Karya untuk berpamitan dengan Oom sebelum bertolak pulang ke kampung. Setibanya di sana, raut kekecewaan tidak bisa disembunyikan dari wajah Oom ketika mendengar kami sudah makan di luar. Rupanya, Oom diam-diam sudah terlanjur membelikan makanan bungkus yang cukup banyak untuk menu makan siang kami. Ada rasa bersalah, namun apa dikata nasi sudah menjadi bubur. Sementara Bapak dan Oom larut dalam obrolan panjang, aku meminta izin keluar sebentar untuk membeli pulsa.

Drama Pizza dan Ketinggalan Turnamen Kampung

Kunjungan Bapak di Cipta Karya tidak berlangsung lama karena kami harus segera mengejar waktu untuk pulang ke kampung halaman di Buatan II. Hari itu, jadwal turnamen tenis meja agustusan yang kuceritakan di catatan sebelumnya akan segera dimulai pada pukul 16.00 WIB. Celakanya, di tengah kejaran waktu yang mepet, aku baru teringat ada amanah penting dari adik-adik di rumah yang berpesan untuk dibelikan oleh-oleh pizza dari kota.

Proses mengantre dan membeli pizza otomatis memotong durasi perjalanan kami. Setibanya kami di rumah di kampung, aku langsung bergerak cepat melakukan persiapan kilat dan langsung memacu motor menuju lokasi perlombaan tenis meja dengan membawa bet kesayangan yang tadi pagi kujemput di sekretariat kampus.

Namun, dewi fortuna tampaknya belum berpihak pada jadwalku hari itu. Setibanya aku di area pertandingan, lapangan sudah tampak lengang. Pihak panitia perlombaan ternyata sudah membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing karena waktu pelaksanaan sudah lewat. Rencana untuk ikut bertanding mengharumkan nama dusun pun terpaksa kandas gara-gara urusan pizza dan waktu yang meleset.

Hari yang melelahkan, penuh salah paham, gagal tanding pimpong, tapi setidaknya membawa pulang sekotak pizza hangat dan kabar baik bahwa proses MCU Bapak berjalan dengan lancar.

Pekanbaru — Buatan II, Agustus 2016

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar