Ada satu ketakutan terbesar dalam hidupku yang selalu aku hindari: melihat Ibu menangis karena ulahku sendiri. Dan sayangnya, ketakutan itu baru saja mewujud menjadi kenyataan pahit. Seketika ingatanku terlempar pada sebuah peringatan spiritual yang begitu berat, tentang betapa besarnya dosa seorang anak yang membuat ibunya sakit hati hingga meneteskan air mata. Rasa takut dan bersalah langsung berkecamuk hebat di dalam dada.
Semua bermula dari ketidakpekaanku. Hari itu, aku hanya berniat untuk bercanda dengan adikku, Ayi. Namun, aku tidak menyadari bahwa ia sedang berada dalam kondisi suasana hati yang tidak ingin diganggu. Candaanku ditanggapi dengan amarah, hingga ia refleks memukulku.
Melihat keributan antar anak-anaknya tersebut, pertahanan batin Ibu rupanya runtuh. Beliau yang selama ini memendam keinginan mendalam agar anak-anaknya selalu hidup rukun, tiba-tiba berucap dengan suara bergetar:
"Biolah Ibu pegi daripada nengok kalian kelai macam ni," (Biarlah Ibu pergi daripada melihat kalian bertengkar seperti ini).
Kata-kata itu meluncur bersamaan dengan tangan Ibu yang meraih jilbab, bersiap untuk melangkah keluar rumah. Sentakan itu membuatku dan Ayi panik. Kami segera menahan langkah beliau. Ibu kemudian masuk ke dalam kamar dan menumpahkan tangisnya di atas tempat tidur.
Penyesalan Mendalam di Ruang Kamar
Melihat Ibu terisak, pikiranku mendadak kalut. Ada ketakutan yang teramat sangat jika Allah murka dan mencabut nyawaku di detik itu juga dalam keadaan telah menyakiti hati orang tua. Aku langsung bersimpuh di samping Ibu, memeluknya erat, dan mencoba membujuknya.
"Maafkan Eko, Bu..." Kalimat itu aku ucapkan berulang-ulang di sela-sela tangis kami yang pecah di dalam kamar, berbaur dengan untaian istighfar yang tak putus kurapalkan. Ada rasa sesak yang luar biasa melihat air mata mengalir dari mata sosok yang melahirkan kita.
Kebiasaanku menjahili adik-adik memang sudah berlangsung lama. Selama ini, aku sering tidak paham mengapa mereka bisa begitu cepat naik pitam. Mungkin cara bercandaku yang memang salah, kurang menempatkan waktu yang pas, atau egoku yang terlalu dominan. Aku teringat suatu masa di mana Ibu pernah menegur kami dengan lembut namun sarat makna: "Tak bisa kalian becakap lemah lembut, macam anak orang lain tu?" Rupanya, teguran-teguran kecil itu adalah tumpukan rasa kesal yang selama ini Ibu simpan rapat-rapat demi menjaga kedamaian rumah, dan hari ini seluruh bendungan emosi itu runtuh tak tersisa.
Ketegaran Bapak sebagai Penengah
Di tengah suasana yang masih diliputi keharuan, Bapak melangkah masuk ke dalam rumah sepulang kerja. Beliau terheran-heran melihat mataku dan Ibu yang sembap karena habis menangis.
"Kenapo?? Eko sakit? Ibu sakit?" tanya Bapak dengan nada cemas.
Aku mencoba meyakinkan Bapak bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi. Namun, insting seorang kepala keluarga tidak bisa dibohongi; Bapak tahu ada sesuatu yang sedang tidak beres. Beliau kemudian memanggilku keluar dari kamar.
"Kalau Ibu sedang nangis, biarkan dia sendirian dulu," ucap Bapak menasihati dengan tenang.
Mendengar suara kebapakan itu, aku langsung berhamburan memeluk Bapak dan menumpahkan kembali rasa bersalahku. "Maafkan Eko Pak, gara-gara Eko Ibu nangis..."
Bapak dengan kelapangan dadanya yang luar biasa hanya menepuk pundakku sambil menenangkan, "Dahlah, kan dah minta maaf kan?"
Dalam hati, aku bersyukur sekaligus kagum luar biasa pada figur Bapak. Beliau adalah sosok yang sangat mandiri dan luar biasa dalam mengendalikan emosi. Aku tidak bisa membayangkan jika Bapak adalah tipe orang tua yang ringan tangan atau gampang naik pitam, mungkin malam itu aku sudah habis menerima amarahnya. Ketegasan yang dibalut ketenangan dari Bapak malam itu menjadi pelajaran berharga tersendiri bagiku.
Sebuah Janji dan Harapan
Kejadian hari ini menjadi tamparan keras bagi kedewasaanku sebagai anak tertua. Ruang keluarga harus kembali dihangatkan dengan tutur kata yang lembut, bukan dengan ego candaan yang berlebihan.
Ibu, Bapak, maafkan segala kekhilafan Eko.
Buatan II, Siak — 8 Agustus 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Subhanallah....
BalasHapusMasyaAllah....
Sekian banyak blog yang ana baca, ini yang paling menyentuh dihati dan membuat ana menitikkan air mata.����
sedih, mase tu, tak nak diulang lah
Hapus