Senin, 4 Juni 2018
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Dunia pendidikan harian sering kali menghadapkan kita pada potret realitas yang miris sekaligus menggelitik. Sebagai pendidik, ada kalanya rasa gelisah itu tidak cukup hanya disimpan di dalam dada, melainkan harus ditumpahkan menjadi bait-bait pengingat. Sajak kritik sosial yang kutulis di STMIK Amik Riau pada Juni 2018 silam ini adalah sebuah refleksi jujur mengenai fenomena krisis akhlak pada sebagian anak-anak generasi masa kini.
Tokoh "Atan" dalam puisi ini adalah simbol tamparan keras bagi kita semua—baik guru maupun orang tua—tentang bagaimana gawai dan pergaulan bebas pelan-pelan mulai mengikis adab ketimuran. Selamat merenungkan untaian bait berikut ini.
Di mulut sudah mengepul asap putih
Hafalan Pancasila belum lagi fasih
Dikhitan belum, pandai sudah berkasih
Nasihat diberi hanya mendelik
Tanpa sadar badan lagi kecik
Orang-tua dikibuli dasar licik
Apa sudah tak diajarkan bertingkah laku?
Mak Bapak tak pernah ajarkan itu
Buat macam biasa padahal tabu
Hari-hari tekan-tekan si petak
Dah penat Mak Bapak teriak
Jangankan bergerak, tengok pun tidak
Kena marah sikit jiwa nak berontak
Jalan sengak macam freeman berlagak
Dah lah Tan, pergi jauh sebelum kusepak
STMIK Amik Riau, 4 Juni 2018
Esensi Krisis Akhlak: Dampak Negatif "Si Petak" Gawai pada Anak
Jika kita bedah baris demi baris, sajak di atas menyoroti tiga masalah utama anak zaman sekarang. Pertama, hilangnya batas usia kelayakan perilaku, di mana anak usia sekolah dasar sudah berani merokok dan mengenal gaya pacaran kedewasaan. Kedua, fenomena kecanduan gawai yang diistilahkan sebagai "si petak". Keterikatan emosional anak pada layar HP membuat komunikasi interpersonal dengan orang tua menjadi rusak parah; jangankan mematuhi perintah, menengok saat dipanggil pun enggan.
Ketiga adalah munculnya mentalitas pemberontak atau "jalan sengak macam preman". Ketika ditegur atau diberikan sedikit konsekuensi disiplin, ego anak-anak ini langsung bergejolak melawan arus aturan. Menghadapi tantangan generasi ini, perbaikan akhlak tidak bisa lagi dibebankan hanya pada satu pihak. Dibutuhkan sinergi yang kokoh antara keteladanan di rumah (Mak Bapak) serta sistem pengawasan yang konsisten di lingkungan sekolah.
Salam refleksi dari ruang edukasi,
Prima Eko Putra (Blank)
Komentar
Posting Komentar