Cerita • Perjalanan • Puisi

Realitas Pasca-Wisuda: Perjuangan Berburu Kerja, Rasa Malu Numpang Orang Tua, dan Filosofi Survival Island

Ibaratnya lagi nungguin panggilan kerja

Fase setelah memakai toga dan menerima ijazah sering kali digambarkan sebagai momen akhir dari sebuah perjuangan. Namun bagi sebagian besar lulusan baru, wisuda sebenarnya hanyalah gerbang pembuka menuju medan pertempuran yang sesungguhnya.

Setelah euforia wisuda ini mereda, agenda utamanya jelas: melamar kerja. Kalau urusan melamar "kamu", ya entaran dulu—aku harus fokus mencari modal untuk membuka usaha mandiri, sekaligus belajar merasakan bagaimana cara menghadapi dunia kerja yang terkenal keras dan tidak kenal kompromi.

Saat ini, aku sedang berada di fase konstan mengirimkan berkas lamaran. Beberapa tempat sudah aku coba ketuk pintunya, mulai dari memasukkan berkas fisik ke PT Tekun Jaya Security dan SMK Taruna Satria, hingga mendaftar secara online di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Prinsipku saat ini sangat sederhana: lowongan apa saja yang terlihat sedang buka, di situ pula lamaranku akan meluncur masuk. Aku tidak peduli lagi apakah jenis pekerjaannya sejurusan dengan latar belakang kuliahku atau tidak. Masukkan saja dulu. Sebab, aku meyakini satu hal: kita tidak akan pernah tahu di pintu sebelah mana rezeki kita telah disiapkan oleh-Nya. Tugas manusia hanyalah terus berusaha dan tak putus-putus berdoa.

Menjaga Waras di Tengah Masa Tunggu: Dari Blog hingga Pixel Art

Harus aku akui, fase menunggu panggilan kerja adalah masa-masa yang paling rentan memicu stres. Untuk menjaga agar pikiran tetap waras dan produktif, aku menyusun rutinitas harian yang seimbang di rumah. Keseharianku kini diisi dengan merawat blog ini, membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, serta sesekali melarikan diri ke dunia game.

Belakangan ini, aku sedang asyik memainkan sebuah game baru berjudul Survival Island. Gampelay-nya mengusung genre RPG dengan kualitas grafik bergaya pixel. Walau tampilannya sederhana, menurutku game ini seru sekali. Di sana, kita diajarkan secara simulasi tentang bagaimana cara bertahan hidup memanfaatkan sumber daya yang terbatas. Sebuah analogi yang terasa sangat pas dengan kondisiku di dunia nyata saat ini.

Selain itu, aktivitas bermain game tentu belum lengkap tanpa Mobile Legends: Bang Bang. Entah racun apa yang disuntikkan oleh pengembang ke dalam game satu ini, yang jelas ia selalu sukses menjadi pelarian instan yang adiktif di kala jenuh melanda.

Rutinitas Pagi: Membangun Kedisiplinan Diri

Agar mental dan fisikku tidak lembek karena terlalu lama menganggur di rumah, aku sengaja memperketat jadwal harian sejak mata ini terbuka di pagi hari.

Begitu ibadah shalat subuh selesai ditunaikan, aku langsung memakai sepatu dan bergegas lari jogging mengitari lingkungan sekitar. Aktivitas fisik ini sengaja aku rutinkan demi menjaga stamina tubuh agar tidak gampang kecapaian.

Sepulang jogging, aku menikmati sarapan pagi, lalu berlanjut menyelesaikan berbagai pekerjaan domestik di rumah untuk meringankan beban orang tua. Setelah semua urusan rumah beres, barulah aku duduk tenang menghadap layar untuk browsing mencari informasi lowongan terbaru, atau sekadar menulis sedikit demi sedikit di blog ini. Langkah kecil ini sengaja aku ambil demi terus mengasah kemampuan menulis agar jemariku tetap terbiasa menari di atas keyboard. Bak kata pepatah bijak, "Alah bisa karena biasa."

Harga Diri Pria Menjelang Usia 25 Tahun

Di balik semua rutinitas tersebut, ada satu doa besar yang terus aku gaungkan ke langit setiap harinya: semoga hilal panggilan kerja itu segera datang.

Bagi seorang pria, masih menengadahkan tangan meminta uang jajan kepada orang tua di umur yang sebentar lagi menginjak 25 tahun adalah sebuah tamparan bagi harga diri. Rasanya sudah tidak etis lagi. Jujur, ada rasa malu yang teramat besar yang bergejolak di dalam dada ini jika terus-menerus menjadi beban.

Di usia seperempat abad seperti sekarang, sudah garis takdirnya akulah yang seharusnya berdiri tegak memberikan nafkah serta kebahagiaan untuk orang tua dan adik-adikku di rumah.

Pada akhirnya, porsi manusia hanyalah bergerak melakukan usaha maksimal lalu mengiringinya dengan untaian doa. Selebihnya, aku pasrahkan seluruh hasil akhirnya kepada Sang Maha Tahu, Sang Maha Pemberi Rezeki, dan Yang Maha Kaya. Allahu Rabbi.

Pekanbaru, 22 Januari 2019

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar