"Ingat lima perkara, sebelum lima perkara..."
Bagi generasi yang tumbuh di era 90-an dan 2000-an, penggalan lirik lagu dari grup nasyid legendaris asal Malaysia, Raihan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Untaian rima tersebut bukan sekadar lirik lagu religi biasa, melainkan sebuah sari pati dari hadis Rasulullah SAW yang mengingatkan kita tentang betapa berharganya waktu dan kesempatan sebelum semuanya terlambat.
Melalui catatan harian ini, aku ingin mengajak diriku pribadi dan para pembaca sekalian untuk sejenak menundukkan kepala, merenungkan kembali kelima perkara besar tersebut di tengah pusaran kesibukan duniawi kita.
1. Sehat Sebelum Sakit
Menjaga kesehatan sering kali terdengar sebagai nasihat yang sangat sepele, namun kenyataannya teramat sulit untuk konsisten kita lakukan. Kita baru benar-benar menghargai nikmat sehat ketika tubuh sudah terbaring lemah. Biaya pengobatan medis hari ini sangat mahal, dan yang paling berat adalah rasa bersalah karena kita pasti akan merepotkan orang-orang tercinta di sekitar kita.
Mengenai pola hidup sehat, aku teringat sebuah kisah di zaman Nabi Muhammad SAW. Kala itu, ada seorang tabib dari luar daerah yang terheran-heran karena tidak ada satu pun penduduk madinah yang datang berobat kepadanya. Rahasianya ternyata sederhana: mereka dengan disiplin menerapkan tata cara hidup sehat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Beberapa sunah dan kebiasaan sehat tersebut di antaranya:
Merutinkan ibadah puasa sunah Senin dan Kamis.
Menunaikan puasa sunah Ayyamul Bidh di setiap pertengahan bulan hijriah.
Mengunyah makanan dengan baik hingga 33 kali sebelum ditelan agar meringankan kerja lambung.
Membiasakan makan menggunakan tiga jari (untuk porsi tertentu).
Menjaga adab makan dan minum dengan tidak melakukannya sambil berdiri.
Mengutamakan posisi jongkok saat buang air besar demi kelancaran pencernaan.
2. Muda Sebelum Tua
Masa muda adalah fase kehidupan yang paling krusial sekaligus labil. Di fase inilah kita sangat mudah terombang-ambing dan ikut-ikutan oleh arus kebiasaan lingkungan sekitar. Sering kali kita mendengar semboyan yang menyesatkan: "Selagi muda puas-puasin nakal, nanti kalau sudah tua baru bertobat." Padahal, tidak ada yang bisa menjamin umur manusia sampai tua. Banyak orang yang meratapi hari tuanya dengan penuh penyesalan karena masa mudanya dihabiskan untuk merusak diri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Mari kita balik semboyan tersebut menjadi sebuah prinsip yang kuat: "Tidak nakal sampai tua."
3. Kaya Sebelum Miskin
Makna kaya sejati tidak melulu diukur dari nominal harta atau isi rekening bank. Diberikannya kita anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan normal adalah sebuah kekayaan materiil yang tiada taranya. Pertanyaannya, sudahkah kita mempergunakan tangan, kaki, mata, dan telinga ini untuk menjemput kebaikan?
Ketika kita melihat saudara kita yang diuji dengan kelumpuhan atau penyakit stroke, di situlah kita diingatkan untuk bersyukur. Setidaknya, jika saat ini kita masih diberi kesempatan hidup dan tubuh yang bugar, perbaikilah kualitas amal dan perbanyaklah bersedekah. Sekaya apa pun kita di dunia, semua itu murni hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.
4. Lapang Sebelum Sempit
Di sela-sela padatnya rutinitas pekerjaan atau waktu istirahat makan siang, sempatkanlah waktu luang kita untuk bersimpuh menghadap-Nya. Beribadah atau berdoa itu sebenarnya hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja—durasi yang teramat singkat. Namun ironisnya, jika kita selalu memelihara kebiasaan menunda-nunda waktu, durasi 5 menit tersebut akan terasa menjelma menjadi beban yang sangat berat di dada.
5. Hidup Sebelum Mati
Misteri terbesar dalam hidup adalah kematian. Kita tidak pernah tahu kapan, di mana, dan dalam keadaan apa ajal akan menjemput kita. Bisa jadi nanti sore saat perjalanan pulang kerja di jalan raya, bisa jadi nanti malam saat kita terlelap tidur, atau mungkin esok pagi. Karena ketiadaan tahu tersebut, mempersiapkan bekal amal shaleh untuk kehidupan akhirat adalah satu-satunya tugas terpenting kita selama masih bernapas di dunia.
Tulisan ini sama sekali tidak ditulis dengan maksud untuk menggurui siapapun. Catatan ini murni lahir sebagai cermin bagi diriku sendiri, sekaligus pengingat hangat antar-sesama musafir kehidupan. Sebab, satu hal yang pasti dalam hukum alam:
"Penyesalan selalu datang terlambat, dan penyesalan di kemudian hari tidak akan pernah ada gunanya."
Pekanbaru, 27 Januari 2019
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar