Sabtu, 20 Juli 2019
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Ada kalanya hidayah dan inspirasi datang di momen-momen yang paling tidak terduga. Dua hari yang lalu, tepatnya di sela-sela waktu luang, aku iseng-iseng membuat coretan kecil di atas selembar kertas setelah membaca dan merenungkan makna mendalam dari Al-Qur'an Surah Yasin ayat ke-65. Siapa sangka, dari coretan polosan tersebut, seketika terlintas di dalam benakku untuk merilis sebuah untaian sajak reflektif.
Sajak ini merupakan potret tamparan keras bagi jiwaku pribadi, sekaligus pengingat tentang hari di mana seluruh kepalsuan dunia akan runtuh dan kebenaran mutlak akan disidang di hadapan Sang Khalik. Selamat merenungkan bait-bait sajak berikut ini.
Berada di Padang Mahsyar dengan matahari di atas kepala sejengkal tangan
Tak sempat lagi nak tengok kiri kanan
Manusia semua ketakutan
Mulut dikunci bicaralah seluruh badan
Saat itu ruh kan merasa gemetaran
Mengingat di dunia, apa yang telah dilakukan?
Jika tidak, tak dapat dicari banyak alasan
Kaki tangan bersaksi tentang kebenaran
Kebenaran tentang apa yang kita lakukan.
Jika neraka, di situ semua penyesalan
Jika surga, nikmati dengan nyaman
Itu hadiah jika bisa mempertahankan iman.
At: Al Kindi Islamic School, 18 Juli 2019
Refleksi Surah Yasin Ayat 65: Hari Ketika Mulut Dikunci
Sajak di atas lahir sebagai bentuk restrospeksi terhadap firman Allah SWT yang berbunyi: "Al-yauma nakhtimu 'ala afwahihim wa tukallimuna aidihim wa tasyhadu arjuluhum bima kanu yaksibun." Hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
Di dunia, kita mungkin sangat mahir bersilat lidah, menyusun berbagai alasan logis untuk membenarkan tindakan yang salah, atau membuat topeng kepalsuan di hadapan manusia. Namun, di panggung Mahsyar kelak, organ lisan yang selama ini kita gunakan untuk berbicara akan dikunci rapat-rapat. Anggota tubuh lain seperti tangan dan kakilah yang mengambil alih peran untuk bersaksi jujur tanpa bisa disuap atau dimanipulasi.
Ujung dari teater persidangan agung tersebut hanya menyisakan dua jalur takdir: penyesalan yang kekal di dalam neraka atau kenyamanan abadi di dalam surga. Semua itu murni bergantung pada sejauh mana konsistensi kita dalam mempertahankan benteng iman dan amal sholeh selama jatah hidup di dunia masih dikandung badan. Semoga coretan singkat dari sudut sekolah Al Kindi ini mampu menjadi alarm spiritual bagi kita semua.
Salam kontemplasi iman,
Blank
Komentar
Posting Komentar