Cerita • Perjalanan • Puisi

Kau Mengenalku? Sebuah Sajak Kontemplasi tentang Sisi Lain Kepribadian Manusia

Jumat, 6 Maret 2020

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Pernahkah kita benar-benar duduk diam, menatap cermin, dan bertanya pada bayangan di depan kita: "Siapa sebenarnya diriku ini?" Sering kali, kita terjebak dalam penilaian orang lain yang hanya melihat permukaan luar saja. Padahal, di dalam diri setiap manusia, ada samudra emosi, rahasia, dan kepribadian berlapis yang tidak semua orang mampu memahaminya.

Catatan sajak kontemplatif yang kutulis di Tenayan Raya pada Maret 2020 lalu ini adalah sebuah upaya jujur untuk memetakan ego, topeng, dan esensi diri yang sebenarnya. Selamat membaca seuntai bait refleksi berikut ini.

Kau mengenalku?
Aku bukan seperti apa yang kau lihat
Aku bisa saja menjadi apa yang orang lain ingin lihat
Aku bisa saja pura-pura ceria ketika kau sedang butuh ceria
Aku bisa saja pura-pura sedih jika musibah menimpamu
Aku bisa saja jadi penjahat, apabila aku benci padamu
Aku bisa saja jadi malaikat kalau kau sangat baik padaku
Aku sangat mahir dalam pendekatan, tantang saja siapa yang kau suruh kudekati

Tapi jangan berharap akan instan, bahkan pendekatanku memakan waktu berbulan-bulan dan bertahun-tahun
Aku sangat sabar dengan apa yang aku citakan
Dan aku mudah saja marah kalau hatiku kau panas-panasi
Aku sangat suka anak kecil, jangan kau dekatkan aku dengan anak kecil
Aku sangat usil, dengan keusilanku aku bisa membuat orang marah dalam dua hari
Aku menyukai manusia, bagiku disetiap diri orang lain ada pelajaran yang bisa diambil
Hikmah dan pengajarannya
Aku suka kepada semua perempuan, karena mereka memang untuk disayang, bukan untuk dibenci
Aku akan sangat malas saat kecewa
Aku takut berhadapan dengan preman, bukan karena tak pandai kelahi, aku tak pandai beradu tatap
Yang ada malah aku mengajaknya damai.
Tapi ketahuilah aku membela apa yang menjadi tanggung jawabku.

Tenayan Raya, Maret 2020

Esensi di Balik Sajak: Menemukan Hikmah di Setiap Jiwa

Bagi aku pribadi, manusia adalah buku pelajaran yang berjalan. Di setiap interaksi, watak usil, kesabaran dalam mengejar cita-cita, hingga keputusan untuk memilih jalur damai saat berhadapan dengan konflik (bahkan dengan preman sekalipun), semuanya adalah bagian dari proses pendewasaan karakter.

Kunci utamanya ada pada baris akhir sajak tersebut: tanggung jawab. Di balik semua kelemahan, topeng adaptasi sosial, dan rasa malas yang melanda saat kecewa, komitmen mutlak untuk berdiri tegap membela apa yang menjadi tanggung jawab kita adalah identitas sejati yang membedakan siapa kita yang sebenarnya di dunia ini.

Salam kontemplasi dari sudut ruang,
Blank

Komentar

Posting Komentar