Cerita • Perjalanan • Puisi

Selamat Jalan Bunda: Catatan Puisi Elegi Duka Cita dan Arti Mengikhlaskan Kepergian Ibu

Rabu, 24 Juni 2020

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Kehilangan orang tercinta, terutama seorang Ibu, adalah salah satu ujian terberat dalam fase kehidupan seorang manusia. Ibu adalah madrasah pertama, pelindung, dan sosok yang doanya paling didengar oleh langit. Ketika takdir memanggilnya pulang, seolah-olah separuh dunia dan sumber keberkahan hidup kita ikut runtuh bersamanya.

Sajak elegi ini kutulis pada Juni 2020 lalu di Bukit Barisan, Tenayan Raya. Ibu dari Thifa dan Fatih yang merupakan sepupuku. Sebuah gubahan kata untuk merekam rasa duka, kepasrahan, sekaligus upaya untuk saling menguatkan di dalam internal keluarga ketika badai perpisahan itu datang melanda. Selamat merenungkan untaian bait berikut ini.

Tersebar berita duka dalam keluarga
Sang bunda telah mendahului kita
Bertemu dengan Sang Pencipta
Meninggalkan segala yang dicinta

Isak tangis haru dari sang anak
Tinggallah mereka bersama si Bapak
Tangis sedu tanda usai berteriak
Teriak dalam tangis berontak

"Sudah lah nak" berkata Si Bapak
"Kami belum rela" jawab anak
"Allah sayang bundamu
Itu mengapa bunda dijemput dahulu"
Sudahlah nak hapus air matamu
Yang lalu biarlah berlalu
Tetap lanjutkan hidupmu
Dengan begitu bangga bundamu
Selamat Jalan Bunda

Oleh: Prima Eko Putra | Bukit Barisan, Tenayan Raya

Melanjutkan Hidup: Bentuk Bakti Terbaik Setelah Kepergian Ibu

Rasa belum rela dan air mata yang tumpah adalah hal yang sangat manusiawi saat kita melepas kepergian sang Ibu. Namun, seperti yang dipesankan oleh sosok Bapak di dalam bait sajak di atas, larut dalam kesedihan yang berlarut-larut bukanlah jalan keluar yang bijak. Kita harus percaya penuh bahwa Allah SWT jauh lebih menyayangi beliau, dan menjemputnya lebih awal adalah akhir dari segala lelahnya di dunia.

Cara terbaik untuk membuat mendiang Ibu tersenyum bangga di alam sana adalah dengan tetap melanjutkan hidup dengan penuh ketegaran, menjaga amanah dan kedisiplinan yang pernah beliau ajarkan, serta menjadi anak yang sholeh. Sebab, amalan utama yang tidak akan pernah terputus bagi orang tua yang telah mendahului kita adalah untaian doa tulus yang terus mengalir dari anak-anaknya yang sholeh. Semoga sajak pengingat dari Tenayan Raya ini bisa memberikan sedikit kekuatan bagi siapa saja yang sedang merindukan pelukan hangat seorang Ibu.

Salam takzim dalam untaian doa,
Prima Eko Putra (Blank)

Komentar

Posting Komentar