Selasa, 19 Oktober 2021
Ada getaran rasa yang tidak menentu, sebuah kombinasi antara haru, bahagia, sekaligus rasa tanggung jawab yang mendadak membuncah di dalam dada ketika seorang pria mendengar kabar bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.
Catatan ini aku tulis khusus pada tanggal 19 Oktober 2021. Sebuah surat terbuka dari masa lalu yang aku titipkan di lembaran Blank's Stories, khusus untukmu, anakku tersayang.
Saat jemari Abi menari di atas papan kunci laptop malam ini, Umimu tercinta sedang berada pada usia kehamilan bulan ketiga menjelang bulan keempat. Kau tahu, Nak? Betapa bahagianya hati kami berdua ketika pertama kali mendapat kepastian bahwa Umimu sedang mengandung dirimu. Rasanya waktu berjalan begitu lambat karena kami sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dan mendekapmu di dunia nyata.
Menyaksikan Perjuangan Berat Umi di Trimester Pertama
Sebelum sampai di titik bulan keempat ini, Umimu baru saja melewati masa-masa yang sangat sulit pada fase trimester pertama kehamilannya. Harus aku akui, trimester pertama itu terasa teramat berat bagi fisik dan mental Umi.
Ada banyak momen di mana aku selaku suaminya—yang kelak akan kamu panggil Abi—merasa tidak tega setiap kali menyaksikan kondisi Umimu. Bayangkan saja, ia baru saja selesai menyantap makanannya dengan lahap, namun beberapa menit kemudian makanan itu harus muntah lagi semuanya. Badannya sering kali didera rasa sakit, dan bagian pinggangnya terus-menerus terasa pegal dan linu.
Melihat pemandangan itu, aku membatin di dalam hati: mungkin jika rasa sakit dan kelelahan fisik itu didelegasikan dan dialami oleh Abi sendiri, Abimu yang lemah ini tidak akan sanggup menahan rasa sakitnya. Namun, Umimu dengan begitu luar biasa tegak berdiri memikulnya demi dirimu, Nak.
Anakku tersayang, doa kami tidak pernah putus agar engkau senantisan tumbuh dengan sehat dan sempurna di dalam rahim sana. Tepat pada tanggal 23 September 2021 kemarin, Abi dan Umi bergegas pergi melakukan pemeriksaan USG (Ultrasonografi) untuk melihat bagaimana perkembangan pertamamu.
"Saat dokter Belfiza memeriksa layar dan berkata dengan senyum bahwa kondisi engkau di dalam sana sangat sehat, aku seketika menoleh dan melihat gurat wajah Umimu. Detik itu, wajah Umi terlihat sangat bahagia dan lega luar biasa. Tumpukan rasa lelahnya selama berminggu-minggu seolah menguap begitu saja."
Teka-Teki Sebuah Nama dan Permohonan Maaf Seorang Abi
Nak, untuk saat ini, Umimu memiliki firasat yang sangat kuat di dalam hatinya bahwa engkau yang sedang tumbuh di dalam perutnya adalah seorang anak perempuan. Bahkan, Umi sudah menyiapkan sebuah nama indah yang penuh berkah untukmu kelak, yaitu 'Aisyah.
Namun bagi Abi pribadi, apa pun jenis kelaminmu nanti—apakah engkau ditakdirkan lahir sebagai seorang anak laki-laki ataupun anak perempuan—Abi hanya berharap dan berdoa agar engkau selalu diberikan kesehatan tanpa kurang suatu apa pun.
Di dalam ruang jujur surat ini, maafkan Abi ya, Nak. Maafkan Abi jika mungkin selama engkau berada di dalam kandungan, engkau sempat merasa lapar dan di saat yang bersamaan Abi belum mampu memenuhinya dengan cepat. Terkadang, Abi terlalu sibuk dan tersita waktu oleh urusan pekerjaan di sekolah, sehingga ketika Umi mulai merasa lapar, dia belum bisa langsung mendapatkan makanan terbaik untuk menutrisi dirimu di dalam sana.
Membimbingmu Lewat Untaian Doa dan Tilawah Al-Qur'an
Sembari menunggu waktu persalinan itu tiba, untuk saat ini modal utama yang bisa kami berikan adalah membimbing dan menyapamu lewat untaian doa serta lantunan tilawah ayat-ayat suci Al-Qur'an setiap harinya.
Harapan terbesar Abi dan Umi kelak ketika engkau sudah tumbuh besar, engkau bisa menjelma menjadi anak yang sholeh/sholehah. Sosok anak berbakti yang memiliki keberanian untuk mengingatkan Abi dan Umi ketika kami kedapatan berbuat khilaf dan salah. Dan atas izin Allah, InsyaAllah engkau pula yang nanti akan menjadi wasilah atau sebab yang menggandeng tangan Abi dan Umi agar bisa melangkah masuk bersama ke dalam Surga Allah SWT.
Untuk sekarang, mungkin hanya bait-bait pesan ini yang bisa Abi sampaikan untukmu ya, Nak. Abi simpan sisa ceritanya, dan janji akan Abi lanjutkan kembali di lembaran catatan selanjutnya.
Pekanbaru, 19 Oktober 2021
Baca Kelanjutannya: >> Kepada Anakku Tersayang Part 2 <<
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Komentar
Posting Komentar