Cerita • Perjalanan • Puisi

Babak Baru Blank's Stories: Kisah Pernikahan, Drama HP Hilang, dan Awal Menjadi Kepala Keluarga

Tepat pada tanggal 5 Juni 2021 kemarin, sebuah babak baru dalam kehidupanku resmi dimulai. Aku melangsungkan akad sekaligus resepsi pernikahan. Jarak antara hari bahagia itu hingga lahirnya postingan blog ini memakan waktu sekitar dua pekan. Ada rentetan alasan personal—dan beberapa drama tak terduga—yang membuat jemari ini baru sempat menari lagi di atas keyboard.

Drama H-5: Kehilangan HP dan Berpindahnya Fokus

Alasan pertama yang membuat segalanya terasa berjalan begitu cepat dan emosional adalah hilangnya ponsel Samsung Galaxy A21S milikku pada hari Senin, tepat lima hari sebelum acara (H-5). Ponsel tersebut raib diambil orang.

Akibat kejadian itu, jalur komunikasiku terputus total. Aku kehilangan kontak dan tidak sempat mengabarkan serta mengundang teman-teman dekat—mulai dari sahabat masa SMP, SMK, hingga kawan-kawan masa kuliah. Aku tahu banyak dari mereka yang menantikan undangan ini, namun di tengah hiruk-pikuk mengurus administrasi pernikahan dan pikiran yang bercabang akibat musibah kehilangan HP, situasi saat itu benar-benar menguras energi. Melalui catatan ini, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh teman-teman yang tidak sempat kukabari.

Dilema Aturan Satgas COVID-19 dan Hangatnya Keluarga Besar

Selain urusan komunikasi, pelaksanaan resepsi di tengah situasi pandemi juga menjadi sumber dilema yang luar biasa. Aturan dari Satgas COVID-19 saat itu sangat ketat dan membatasi ruang gerak acara. Bahkan hingga H-4, keputusan apakah acara bisa berjalan sesuai rencana atau harus ditunda masih berada di area abu-abu. Padahal, seluruh akomodasi mulai dari Wedding Organizer (WO), katering, hingga sewa gedung sudah dipesan dan dibayar penuh. Ketidakpastian itu sempat membuat dada terasa sesak.

Namun, perlahan awan mendung itu terkikis oleh kehangatan keluarga. Dua hari sebelum acara (H-2), Bapak dan Ibuku sudah mendarat di Pekanbaru. Disusul pada H-1, rombongan keluarga besar dari Teluk Mesjid juga tiba. Rumah kami mendadak ramai dan penuh riuh tawa. Untungnya, rumah tersebut cukup lapang untuk menyambut hangatnya keluarga besar kami.

Pada pagi hari H, rombongan dari Buatan II menyusul tiba sambil membawa sarapan untuk kami yang berada di Pekanbaru. Mereka sebenarnya sudah sampai sejak H-1, namun memilih titik kumpul di kediaman Kak Tuti, kakak sepupuku.

Tepat jam 8 pagi, aku sudah bersiap dengan pakaian rapi. Instruksi dari Pak KUA sangat jelas: pengantin pria wajib standby di lokasi sebelum jam 9 pagi. Demi menjaga kedisiplinan, aku sudah menginjakkan kaki di kediaman calon istri sejak pukul setengah 9 pagi.

Detik-Detik Ijab Kabul: Sebuah Tanggung Jawab yang Berpindah

Sebelum hari H, aku sudah melatih lafal ijab kabul ini berkali-kali di dalam kamar, sembari tak putus-putus mengetuk pintu langit memohon kemudahan kepada Allah Ta'ala. Alhamdulillah, saat momen sakral itu tiba, kalimat sakral tersebut meluncur lancar dari lisanku tanpa hambatan:

“Aku terima nikahnya Fitri Ramadhani dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebentuk cincin emas tunai.”

Begitu kata "SAH" terdengar bergemuruh dari para saksi dan keluarga, seketika itu pula statusku berubah menjadi seorang suami. Segala beban tanggung jawab yang selama ini dipikul oleh ayahnya, kini resmi berpindah sepenuhnya ke atas pundakku.

Acara resepsi setelahnya berjalan mengalir apa adanya. Penuh dengan jabat tangan, hidangan makanan, jepretan kamera fotografer, dan senyuman dari mertua serta ipar. Hari itu, kami berdua—dan kedua belah keluarga—adalah insan yang sedang mereguk kebahagiaan bersama.

Ada cerita lucu saat jarum jam menyentuh angka 4 sore. Karena merasa tamu sudah habis, aku dan istri memutuskan untuk menyudahi acara dan berganti mengenakan pakaian kasual biasa. Eh, ternyata pada jam 5 sore hingga malam hari, beberapa teman justru baru berdatangan. Alhasil, jadilah mereka berfoto bersama kami yang sudah tampil "polos" tanpa baju megah pengantin.

Menata Hidup Baru dari Titik Nol

Kehidupan setelah menikah jelas 180 derajat berbeda dengan saat masih melajang. Aku tidak bisa lagi bertindak sesuka hati atau egois menuruti keinginan pribadi. Setiap keputusan yang diambil kini wajib melibatkan skala prioritas bersama. Selama dua pekan terakhir, aku sengaja mengambil jeda untuk fokus beradaptasi dengan pola hidup baru, lingkungan baru, serta cara pandang baru. Salah satu adaptasi kecilnya: aku sudah tidak bisa lagi pulang larut malam dari sekolah hanya demi menuruti waktu santai (me time) sendiri. Aku kini punya amanah, ada anak orang yang harus kujaga dan nafkahi.

Untuk sementara waktu, kami memilih tinggal di kediaman mertua terlebih dahulu demi merekatkan tali silaturahmi dan mengakrabkan diri dengan lingkungan keluarga istri. Mungkin sekitar satu bulan ke depan, sebelum akhirnya kami akan melangkah mandiri mencari rumah kontrakan sendiri untuk membangun bahtera rumah tangga benar-benar dari titik nol.

Oiya, di sepanjang tulisan ini aku belum mengenalkan secara resmi nama pendamping hidupku. Namanya Fitri Ramadhani, sosok yang insyaAllah akan menemani sisa usiaku di dunia ini. Semoga pernikahan kami senantiasa dijaga dalam ikatan yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Pekanbaru, 16 Juni 2021

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)


Komentar

Posting Komentar