Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 4

 Sabtu, 26 Februari 2022

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kehidupan selalu punya cara tersendiri untuk memberikan kita ruang jeda dan berpikir. Sabtu pagi, 26 Februari 2022, saat aku kembali duduk merangkai kata untuk menyapamu di dalam rahim, getaran suara mesin cuci di belakang rumah menjadi latar keheningan. Abi sedang duduk tenang, menunggu mesin cuci menyelesaikan tugasnya membilas tumpukan pakaian kami, Nak.

Hari ini, Abi dan Umi mendapatkan waktu libur yang tidak terduga. Pihak Yayasan sekolah tempat kami mengabdi memutuskan untuk meliburkan seluruh guru. Kebijakan ini diambil karena melihat banyaknya rekan guru yang sedang tumbang dan sakit. Kami diberikan waktu untuk beristirahat total dan memulihkan diri di rumah masing-masing, dengan harapan pada proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di pekan depan, kesehatan para guru sudah membaik dan bisa kembali mengajar dalam keadaan yang benar-benar fit.


Hitungan Mundur Bulan Terakhir: Transisi Menuju Bertiga

Anakku tersayang, saat ini usiamu di dalam kandungan Umi sudah menginjak sekitar 32 pekan. Jika waktu terus berjalan tanpa hambatan, maka bulan Maret besok akan menjadi bulan terakhir bagi Abi dan Umi untuk menikmati momen hidup berdua saja.

InsyaAllah, di bulan April mendatang, peta kecil keluarga kita sudah resmi berubah menjadi bertiga: ada Abi, Umi, dan kehadiran dirimu, Aisyah. Kau tahu, Nak? Umimu sudah benar-benar berada di puncak rasa tidak sabar untuk bisa bertemu dan memelukmu, terlebih lagi Abi, Nak.

Kehadiranmu nanti akan menjadi penanda perdana bagi kami berdua memikul mandat sebagai orang tua di muka bumi. Kami sadar, masih ada segudang hal yang harus kami pelajari tentang tata cara mendidik anak yang baik. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, InsyaAllah kami akan mendidik dan membesarkanmu dengan sepenuh hati yang kami punya.

Berdasarkan rencana yang sudah kami susun bersama, di awal-awal kelahiranmu nanti, kita akan mengungsi dan tinggal sementara waktu di rumah kakek dan nenekmu di Jalan Hibrida. Kita akan menetap di sana menjelang Umimu selesai melewati masa nifas dan pulih total (lepas hari). Selama kita berada di Jalan Hibrida, Abi sesekali akan tetap mampir pulang ke rumah kontrakan kita untuk sekadar melihat-lihat keadaan dan membersihkan ruangan, agar rumah pertama kita itu tidak terkesan sepi dan terbengkalai.


Menanti Ramadhan yang Berbeda dan Pengorbanan Besar Umi

InsyaAllah, Hari Perkiraan Lahirmu (HPL) jatuh tepat di Bulan Suci Ramadhan. Itu artinya, atmosfer Ramadhan kali ini akan berjalan sangat berbeda dengan seluruh jengkal Ramadhan yang pernah Abi lalui di tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun ini terasa teramat istimewa; selain diiringi oleh keberadaan Umimu, engkau juga akan hadir secara nyata di tengah-tengah dekapan kami. Sebuah kehadiran yang dipastikan akan membawa perubahan-perubahan baru yang sangat berarti di dalam ritme hidup kami.

Memasuki fase trimester terakhir ini, perut Umimu sudah semakin membesar. Kondisi fisik ini tentu saja membuatnya mulai kesulitan untuk bergerak bebas. Ditambah lagi, engkau juga sedang sangat aktif bergerak dan menendang di dalam sana.

"Abi sering kali terenyuh melihat bagaimana Umi harus ekstra hati-hati, bahkan hanya untuk sekadar membalikkan posisi tidur di malam hari, demi menjaga agar posisinya tidak membahayakan keselamatanmu, Nak. Menyaksikan perjuangan itu, Abi langsung teringat pada sosok wanita hebat lainnya: mungkin pengorbanan dan rasa tidak nyaman seperti inilah yang dulu dirasakan oleh Omamu saat mengandung Abi puluhan tahun yang lalu."


Pesan Abadi untuk Anakku, Aisyah

Ada banyak sekali untaian cerita hidup yang ingin Abi sampaikan langsung kepadamu secara lisan nanti saat kamu sudah tumbuh besar, Nak. Namun, kita semua tahu bahwa usia manusia adalah rahasia mutlak milik Sang Pencipta.

Jika seandainya suatu saat nanti umur Abi tidak digariskan sampai untuk duduk bercerita panjang lebar denganmu di dunia, maka dengarkanlah lembaran cerita tentang sosok Abi melalui lisan Umimu. Atau, jika suatu saat nanti tulisan di dalam blog Blank's Stories ini masih berdiri tegak di jagat maya, kamu bisa membuka kembali lembaran ini untuk membaca beberapa pesan cinta yang sengaja Abi tuliskan khusus untukmu, Nak. Ketahuilah, Abi teramat sayang kepadamu.

Jika engkau sudah tumbuh besar nanti, jadilah manusia seperti apa yang kamu inginkan. Kejar dan raihlah cita-citamu setinggi langit. Namun, Abi titipkan satu pesan penting yang wajib kamu ingat baik-baik di dalam dada: segala keinginan dan langkah kakimu di dunia ini mutlak dibatasi oleh rambu-rambu syariat Islam. Kamu harus memegang teguh prinsip itu.

Abi sangat ingin sekali, jika jemari dan matamu sudah mampu membaca nanti, engkau meluangkan waktu untuk membaca dan menyelami kisah tentang Fatimah binti Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam—putri tercinta dari Baginda Rasulullah. Abi menaruh harapan yang besar, agar engkau bisa meneladani kesucian akhlak, kesabaran, dan keteguhan hati seperti yang dimiliki oleh Fatimah Radhiallahu 'Anha.

Besar sekali harapan Abi yang ditumpukan di atas pundak kecilmu, Nak. Abi berdoa agar kelak di akhirat, engkau bisa menjelma menjadi wasilah yang menyelamatkan Abi dari perihnya siksa api neraka, sekaligus menjadi penyebab yang menggandeng erat tangan Abi dan Umi untuk melangkah masuk bersama ke dalam indahnya Surga Allah. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Sekian dulu untaian nasihat dari Abi untuk malam ini ya, Nak. Abi tunggu kehadiranmu di dunia.


Pekanbaru, 26 Februari 2022

>> Kepada Anakku Tersayang Part 5 <<

Oleh: AbinyaAisyahyangbolak-balikkedapurhanyauntukngurusinmesincuci.

Komentar

Posting Komentar