3 Maret 2022
| Dokumentasi di Pintu Masuk G. Marapi |
Cerita petualangan yang akan aku bagikan kali ini seharusnya sudah lama terbit pada tahun 2020 lalu. Namun, karena satu dan lain hal, coretan ini baru bisa benar-benar aku rampungkan dan ceritakan sekarang di tahun 2022—tepat dua tahun setelah kegiatan tersebut berlangsung. Jeda waktu yang cukup lama ini mungkin akan membuat beberapa detail kecil agak terlupa dari ingatanku, maklum saja ya. Tapi, itulah indahnya sebuah perjalanan mendaki gunung; esensi ceritanya biasanya terpatri kuat dan sangat susah untuk dilupakan.
Langsung saja kita menuju ke TKP. Aku akan membagikan kisah ini secara runut per hari agar kalian yang membaca bisa ikut merasakan alur perjalanannya dengan mudah. Sebelum masuk ke inti cerita, mari kita tengok sedikit latar belakang di balik pendakian ini.
Gagasan untuk mendaki gunung ini sebenarnya murni datang dari inisiasi Bapak Pembina Yayasan Al Fatih Pekanbaru, yaitu Pak Abrar. Beliau jugalah yang awalnya paling bersemangat untuk ikut serta mendaki. Namun sayang seribu sayang, menjelang hari-H keberangkatan, ada kendala mendesak yang membuat beliau terpaksa batal ikut.
Alhasil, tim yang akhirnya berangkat kemarin berjumlah 7 orang saja dengan formasi: Ustadz Affan (yang bertindak sebagai driver tunggal karena di antara kami hanya beliau yang memiliki SIM), lalu ada Ustadz Angga, Ustadz Said, Ustadz Ardi, Ustadz Dayu, Ustadz Muslim, dan aku sendiri, Ustadz Eko. Sepekan sebelum keberangkatan, kami sudah berkumpul melakukan briefing matang mengenai perlengkapan tim serta melakukan patungan iuran dana untuk operasional. So, check this out!
Rabu, 19 Agustus 2020: Drama Rental Mobil dan Packing Malam
Sore hari setelah jam pulang sekolah usai, kami langsung bergerak cepat menyiapkan perlengkapan outdoor dan mem-packing barang bawaan pribadi. Kami semua sepakat untuk berkumpul kembali di sekolah selepas menunaikan Sholat Ashar.
Aku dan Ustadz Said mendapatkan tugas penting, yaitu menjemput mobil yang akan kami sewa ke daerah Rumbai nun jauh di sana. Momen penjemputan mobil ini menjadi pengalaman pertama kalinya aku berkunjung langsung ke rumah Ustadz Said. Ternyata letak rumahnya cukup jauh dari pusat aktivitas kami. Di sepanjang jalan aku sempat bergumam dan berpikir, "Jam berapa kawan ni harus berangkat dari rumah setiap harinya ya? Sementara jam masuk kerja di sekolah kami adalah pukul 06.45 WIB pagi." Sungguh sebuah perjuangan dedikasi yang luar biasa.
Proses peminjaman mobil ini memakan waktu yang cukup lama. Mobil yang akan kami rental ini adalah milik tetangga dekat Ustadz Said, dan kebetulan unitnya sedang dibawa pergi oleh pemiliknya ke arah Jalan Sudirman. Alhasil, kami terpaksa harus menunggu beberapa jam di kediaman Ustadz Said sembari meluruskan badan.
Begitu mobil yang dinanti tiba, kami langsung tancap gas menuju ke sekolah. Tentu saja posisi kemudi dipegang oleh Ustadz Said, sebab aku pribadi jujur belum terlalu mahir dan lincah untuk membawa mobil membelah arus lalu lintas di dalam kota.
Sesampainya kami di sekolah, kawan-kawan yang lain ternyata sudah merampungkan urusan packing mereka. Tinggal aku dan Ustadz Said saja yang tertinggal. Kami pun bergegas mengepak barang seadanya lalu bersiap berangkat. Roda mobil baru mulai berputar meninggalkan area sekolah sekitar jam setengah sepuluh malam. Perjalanan malam itu tidak bisa langsung menuju jalur lintas, karena ada beberapa logistik kelompok yang harus kami sewa terlebih dahulu, seperti tenda camping.
Kami mengarahkan kendaraan menuju ke Shelter Adventure Riau, sebuah usaha penyewaan alat outdoor milik seniorku saat aktif di Wanapalhi dulu. Setelah urusan sewa-menyewa rampung dan jarum jam sudah menunjukkan sekitar pukul 11 malam, perut kami mulai berontak kelaparan. Kami pun memutuskan untuk menepi sejenak menikmati sepiring nasi goreng hangat sebelum benar-benar melakukan perjalanan jauh.
Tepat jam 12 malam, kami resmi bertolak meninggalkan kawasan Panam, Pekanbaru. Lucunya, begitu mobil mulai berjalan, Ustadz Dayu langsung "menghilang dari peradaban". Beliau langsung tertidur sangat nyenyak di kursi belakang sepanjang perjalanan malam, dan hanya akan terbangun secara ajaib setiap kali mobil berhenti di minimarket untuk membeli camilan.
Kamis, 20 Agustus 2020: Jalur Lintas, Registrasi, hingga Mendirikan Tenda di Cadas
Sekitar jam 3 subuh, kami memutuskan untuk menghentikan mobil sejenak di sebuah SPBU daerah Pangkalan. Aku agak lupa nama pastinya, yang jelas SPBU tersebut berada di sebelah kanan jalan jika kita berkendara dari arah Pekanbaru menuju Sumatera Barat. Kami terpaksa berhenti karena Ustadz Affan sudah sangat mengantuk dan butuh memejamkan mata beberapa saat. Mengingat di antara kami belum ada yang berpengalaman menyetir mobil untuk rute antarkota yang ekstrem, posisi Ustadz Affan tidak memiliki driver cadangan.
Setelah supir kami selesai beristirahat, perjalanan pun dilanjutkan. Kami berhenti kembali untuk menunaikan ibadah Sholat Subuh di sebuah musholla tepat setelah melewati Kelok Sembilan sekitar jam 5 pagi.
Selesai sholat, roda kendaraan kembali berputar menembus kabut pagi. Kami sepakat untuk mencari sarapan di dekat landmark Kota Bukittinggi. Bukan tepat di bawah Jam Gadang-nya, melainkan di sekitaran area tersebut. Pilihan kami jatuh pada sebuah kedai bernama "Mie Pangsit Bukit Apit".
Setelah perut terisi penuh, kami langsung bersiap menuju ke kaki Gunung Merapi. Namun, sebelum berbelok masuk ke jalan simpang jalur pendakian, Ustadz Said mendadak ada urusan darurat ke toilet, sehingga kami harus mampir sebentar di sebuah masjid dekat Pasar Limapuluh Koto.
Kami akhirnya mendarat di pos registrasi pendakian Gunung Merapi sekitar jam 7 pagi. Seluruh tim langsung beristirahat melepas lelah di dalam musholla yang berada di dekat area parkir kendaraan. Bagi kalian yang sudah sering mendaki Merapi, kalian pasti sangat familiar dengan posisi musholla yang satu ini.
Saat teman-teman yang lain sedang asyik rebahan melepas penat setelah berjam-jam di mobil, tiba-tiba Ustadz Dayu bersuara dengan lantang, "Ayolah berangkat lagi, sudah lama ini kita istirahat!" Sontak kami semua melirik ke arahnya sambil menahan senyum. Padahal, sepanjang perjalanan di dalam mobil beliau tidur dengan sangat pulas, sementara kami yang lain terpaksa terjaga semalaman untuk menemani Ustadz Affan mengobrol agar mata sang supir tidak mengantuk di jalan. Setelah beristirahat sekitar satu jam dan menyelesaikan proses administrasi registrasi, kami pun melangkahkan kaki memulai pendakian. Seperti ritual pendaki pada umumnya, di awal-awal trek yang landai, semangat kami untuk mendokumentasikan perjalanan lewat foto masih sangat menggebu-gebu. Tapi lihat saja kelanjutannya nanti, stamina akan berbicara.
Sekitar jam setengah 12 siang, langkah kami tiba di area Pesanggrahan. Di titik ini, kami memutuskan untuk beristirahat total, mengisi perut dengan makan siang, sekaligus menjama' sholat agar perjalanan ke atas nanti menjadi lebih tenang tanpa beban pikiran. Kami baru kembali mengayunkan kaki meninggalkan Pesanggrahan sekitar jam setengah dua siang. Trek yang mulai menanjak kami lalui dengan selingan canda tawa yang tiada habisnya. Intensitas istirahat kami pun cukup sering, karena di dalam Tim Al Kindi berlaku aturan ketat: jika ada satu orang saja yang merasa penat, maka seluruh tim wajib berhenti. Tidak boleh ada yang berjalan mendahului sendirian di depan.
Kami akhirnya tiba di kawasan Cadas sekitar jam setengah enam sore saat langit mulai meremang gelap. Kami langsung mengadakan briefing kilat untuk membagi tugas agar efisiensi waktu kerja maksimal sebelum malam menjemput. Setelah tenda kokoh berdiri, agenda kami lanjutkan dengan memasak menu makan malam.
Kebetulan, tepat di dekat lokasi tenda kami terdapat sebuah pondok jualan milik warga yang sedang kosong dan tidak digunakan. Kami pun menumpang masak di sana. Keberadaan pondok tersebut sangat membantu karena sudah dilengkapi dengan meja dan kursi kayu yang bisa kami manfaatkan untuk duduk bersantai. Selesai makan malam, kami mengobrol ringan sejenak menikmati angin malam Cadas sebelum akhirnya masuk ke dalam tenda untuk beristirahat total, sebab esok subuh kami harus muncak.
Jumat, 21 Agustus 2020: Dinginnya Cadas dan Jejak Misterius Menuju Puncak
Berada di ketinggian gunung di kala malam menghadirkan sensasi dingin yang menusuk tulang, jauh dari apa yang biasa kami rasakan di dataran rendah Pekanbaru. Walaupun aku pribadi terhitung sudah beberapa kali mendaki gunung, tetap saja rasa dingin malam itu terasa sama ekstremnya dengan apa yang dirasakan oleh kawan-kawanku yang baru pertama kali muncak. Ada yang mendadak tersentak bangun jam 2 malam karena kedinginan, ada pula yang terjaga jam 3 subuh. Di sinilah pentingnya kesiapan logistik; jika perlengkapan tidur dan pakaian hangat tidak siap, risiko terkena hipotermia nyata adanya.
Malam itu tenda kami bagi menjadi dua kelompok. Tenda pertama diisi oleh aku, Ustadz Affan, dan Ustadz Ardi karena kami bertiga secara visual dinilai memiliki proporsi badan yang masuk kategori BIG. Sementara empat ustadz lainnya yang memiliki postur badan lebih kurus menempati tenda yang satunya lagi.
Tepat jam setengah lima subuh, kami semua sudah terbangun, menunaikan Sholat Subuh berjamaah di tengah dingin yang menggigit, lalu bergegas bersiap menuju Puncak Gunung Merapi. Tenda beserta barang bawaan yang berat sengaja kami tinggal di Cadas. Kami hanya membawa satu tas backpack kelompok dan satu tas samping yang diisi dengan bahan masakan untuk sarapan di atas nanti, serta satu tas kecil khusus untuk mengamankan barang berharga seperti ponsel dan dompet pribadi.
Sekitar jam 5 pagi, kami mulai menapakkan kaki di jalur batu menuju puncak. Trek dari Cadas menuju titik tertinggi ini menghadirkan tantangan tersendiri dan memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan. Kami akhirnya berhasil menapakkan kaki di area Tugu Abel yang legendaris tepat pukul tujuh pagi.
Setelah puas berfoto mengabadikan momen keberhasilan di tugu tersebut, kami kembali melakukan briefing pembagian tugas: satu tim bertugas pergi mencari sumber air, sementara tim lainnya menunggu di area lapangan atas. Mengingat dari 7 orang anggota tim hanya ada 4 orang yang sudah pernah naik ke Merapi, maka tim pencari air kami bagi dengan formasi Ustadz Angga, Ustadz Said, dan aku sendiri.
Untuk 4 orang lainnya yang tinggal, kami titipkan amanah kepemimpinan kepada Ustadz Dayu. Pertimbangan kami saat itu adalah karena berdasarkan cerita pribadinya, beliau mengaku sudah pernah mendaki Gunung Merapi sebelumnya.
Namun, sesaat setelah tim kami berpisah dan mulai berjalan menjauh, kami yang masih bisa memantau pergerakan mereka dari kejauhan mendadak dibuat heran. Aturan awalnya mereka harus berhenti dan menunggu di area lapangan, tetapi dari kejauhan kami melihat rombongan Ustadz Dayu justru terus berjalan lurus mengarah ke bibir puncak atas.
Merasa khawatir mereka tersesat, kami pun berteriak sekencang mungkin memanggil tim tersebut untuk kembali turun. Setelah diinterogasi, barulah rahasia besar Ustadz Dayu terbongkar! Beliau memang sudah pernah mendaki Gunung Merapi sebelumnya, tetapi dulu perjalanannya hanya sampai di area Cadas saja karena ada kawannya yang sakit, sehingga mereka memutuskan turun dan gagal muncak. Jadi, pendakian bersama Al Kindi ini sebenarnya adalah pengalaman pertama kalinya beliau menginjakkan kaki di puncak tertinggi Merapi! Mengetahui fakta menggelikan itu, kami akhirnya mengarahkan mereka untuk menunggu di sebuah titik aman yang mudah dipantau dari kejauhan sementara kami merampungkan tugas mengambil air.
Sekembalinya kami dari mata air dengan jerigen terisi penuh, sebuah kejutan kembali menanti: rombongan yang tadi kami tinggalkan ternyata sudah tidak ada lagi di lokasi semula! Kami sempat didera rasa panik karena kehilangan jejak mereka di tengah area atas yang luas. Beruntung, mataku yang jeli mendadak menangkap sebuah coretan jejak unik yang sengaja mereka guratkan di atas tanah. Di tanah itu tertulis pesan singkat: "Tim Al Kindi pindah ke lapangan."
Mengikuti petunjuk tulisan di tanah tersebut, kami berjalan menelusuri jalur ke arah atas. Benar saja, tak jauh dari posisi tulisan itu, kami menemukan mereka sedang duduk beristirahat dengan santai. Alasan mereka terpaksa memindahkan posisi tunggu adalah karena kabut tebal mendadak turun menyelimuti area sekitar dan menghalangi pandangan mata, sehingga mereka berinisiatif mengamankan diri ke tempat yang dirasa lebih terbuka dan aman.
Setelah seluruh tim kembali berkumpul utuh, kami langsung membuka logistik untuk memasak sarapan pagi. Menu utama kami pagi itu adalah PopMie hangat yang memang sudah diagendakan sejak awal. Namun, karena kami sadar bahwa kalori dari sebungkus mi instan tidak akan cukup untuk memulihkan stamina pendakian, kami pun menambahkan asupan gizi dengan menyeduh Energen hangat serta menyantap beberapa keping biskuit Roma Kelapa. Di atas puncak Merapi, di bawah kepungan kabut pagi, sarapan sederhana itu rasanya jauh lebih nikmat daripada makanan restoran bintang lima.
| At Jembatan Bambu |
| Istirahat di Pesanggrahan |
Mantap pak ustad
BalasHapusKapan ndaki lagi bg?
Hapus