Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 5

 Minggu, 10 April 2022

Tinggal menghitung hari. Detik-detik menuju garis akhir sebuah penantian panjang kian hari kian terasa mendebarkan. Tepat pada tanggal 10 April 2022, saat Abi kembali duduk merangkai kata dalam surat ini, engkau sudah resmi berusia 39 pekan di dalam kandungan Umi. Artinya, kehadiranmu di dunia nyata untuk menemani hidup kami berdua sudah berada di pelupuk mata.

Demi menyambut hari bahagiamu, Abi dan Umi akhirnya mengambil keputusan besar untuk pindah sementara waktu ke kediaman nenekmu di Jalan Hibrida No.9. Langkah ini sengaja kami ambil sebagai bentuk antisipasi yang matang. Abi ingin memastikan ada pihak keluarga yang siaga menjaga Umimu tercinta saat Abi harus pergi bekerja di sekolah. Kekhawatiran terbesar Abi adalah jika hari kelahiranmu tiba-tiba datang di saat Abi sedang mengajar, keberadaan orang-orang di sekitar Umi di Jalan Hibrida tentu akan sangat membantu dan mempermudah segalanya, Nak.


Hasil USG Terakhir dan Komunikasi Dua Arah Bersama Bidan Anri

Sebagai langkah persiapan final, pada hari Sabtu tanggal 19 Maret yang lalu, kami kembali melakukan pemeriksaan USG untuk yang terakhir kalinya. Umimu ingin benar-benar memastikan bahwa kondisi engkau di dalam rahim dalam keadaan yang baik-baik saja tanpa kurang suatu apa pun. Gurat kekhawatiran seorang ibu wajar sekali muncul di fase-fase tua seperti ini.

Selain USG, kami juga intens melakukan konsultasi dengan bidan yang nanti akan membimbing persalinanmu, namanya Bidan Anri. Sesuai dengan wejangan yang diajarkan oleh Bu Bidan, setiap hari Umimu tidak pernah absen untuk mengajakmu mengobrol dua arah meskipun engkau masih berada di dalam kandungan. Ikhtiar sederhana ini terus Umi lakukan demi membangun jalinan komunikasi dan ikatan batin yang kuat antara ibu dan calon bayinya.

Makin hari, engkau tumbuh bertambah besar di dalam sana, Nak. Kondisi itu otomatis membuat perut Umi kian membesar dan membikin ruang geraknya menjadi sangat terbatas. Abi sering kali terenyuh menyaksikan betapa beratnya perjuangan Umi; bahkan hanya untuk mengubah posisi dari berbaring hendak ke posisi duduk saja, Umi membutuhkan usaha keras dan waktu yang lumayan lama.

Ditambah lagi, engkau juga sudah mulai memberikan sinyal-sinyal berupa kontraksi palsu. Gelombang kontraksi itu seolah menjadi alarm bahwa hari kelahiranmu sudah teramat dekat. Ada masanya di mana Umimu sudah merasa sangat lelah menunggu, namun ketika diperiksa, ternyata yang terjadi lagi-lagi hanyalah kontraksi palsu yang datang berulang kali.


Kolaborasi Hebat: "Aisyah Berjuang dari Dalam, Umi Bantu dari Luar"

Kau tahu apa saja rutinitas padat Umimu belakangan ini demi menjemput kehadiranmu?

Pagi-pagi sekali, sesaat setelah menunaikan ibadah shalat Subuh, Abi dan Umi langsung bersiap keluar rumah untuk "mengukur jalan". Kami berjalan kaki keliling lingkungan sekitar dengan harapan agar posisimu bisa terus turun masuk ke dalam rongga panggul Umi, sehingga mampu mempercepat proses persalinan.

Siang harinya, setelah Abi berangkat ke sekolah untuk mengajar, Umimu tidak mau berdiam diri. Ia tetap aktif menyelesaikan segala urusan domestik di rumah—mulai dari menyapu, mencuci pakaian, hingga membereskan segala sudut ruangan yang dirasa kurang rapi. Abi sebenarnya sudah berpesan berkali-kali agar Umi jangan terlalu kelelahan. Namun, namanya juga Umimu, selagi ada barang yang terlihat berantakan di depan matanya, semua pasti disikat bersih dan diselesaikan hari itu juga.

Tak berhenti di situ, Umi juga rutin berlatih menggunakan Gym Ball yang kami pinjam dari Mak Ngah-mu, Mak Ngah Ayi. Segala macam gerakan senam khusus ibu hamil dipraktikkan dengan penuh semangat oleh Umi. Semua keringat dan lelah itu dengan ikhlas lalui demi satu tujuan: agar engkau bisa cepat keluar dengan lancar, Nak.

Di posisi ini, Abi sadar tidak bisa menggantikan rasa lelah fisiknya. Porsi yang bisa Abi berikan adalah dengan terus menyuntikkan afirmasi-afirmasi positif, motivasi, serta kata-kata penyemangat setiap waktu agar mental Umimu tetap stabil dan terhindar dari stres. Sebab, jika pikiran Umi stres, hal itu akan berdampak kurang baik untuk dirimu di dalam sana.

"Kata Bu Bidan, engkau saat ini sedang sibuk bergerak mencari jalan keluar untuk bisa terlahir dari perut Umi. Sementara Umimu selalu mengucapkan satu kalimat indah yang terus Abi ingat: 'Aisyah berjuang dari dalam, Umi bantu dari luar.' Itulah kalimat sakti yang selalu diucapkannya sebagai pembakar semangat."


Menanti Ramadhan Perdana yang Penuh Cerita Seru

Ramadhan tahun 2022 ini adalah momen pertama kalinya bagi Abi dan Umimu menjalani ibadah puasa bersama-sama dalam satu ikatan keluarga. Di tahun-tahun sebelumnya, kami selalu melaluinya sendiri-sendiri di tempat yang berbeda.

Harapan dan doa terbesar kami saat ini, semoga engkau bisa lekas lahir dengan selamat ke dunia dan langsung bergabung bersama kami di rumah ini. Abi ingin agar madrasah Ramadhan kami tahun ini bisa berjalan dengan penuh warna dan cerita-cerita seru atas kehadiran dirimu di tengah-tengah kami.

Ketahuilah, Nak, Abi dan Umi teramat sangat sayang kepadamu. Sampai jumpa di dunia nyata, Anakku.


Pekanbaru, 10 April 2022

>> Kepada Anakku Tersayang Part 6 <<

Oleh: Abi Aisyah

Komentar

Posting Komentar