Cerita • Perjalanan • Puisi

Rihlah Guru Al Kindi ke Sumatera Barat: Perjalanan, Kebersamaan, dan Banyak Cerita (Bagian I)

Pada tanggal 22 Agustus 2026, kami, rombongan guru-guru Al Kindi, pergi rihlah ke Sumatera Barat (Sumbar). Tim yang berangkat berjumlah 43 orang, dengan formasi 35 ustadzah dan 8 ustadz. Para ustadzah berada di dalam bus, sedangkan para ustadz menggunakan Luxio hitam milik sekolah.

Rihlah ini merupakan salah satu bentuk reward dari Yayasan Al Fatih Pekanbaru untuk para guru atas kerja keras dan dedikasinya dalam mendidik murid-murid.

Bagiku pribadi, ini bukanlah rihlah pertama bersama guru-guru. Sudah beberapa kali aku mengikuti kegiatan serupa, di antaranya:

  1. Pendakian Gunung Merapi Take Top bersama guru ikhwan se-Azzuhra Group.
  2. Rihlah ke Kawasan Mandeh bersama guru se-Azzuhra Group.
  3. Pendakian Gunung Merapi bersama para ustadz Al Kindi.
  4. Rihlah guru Al Kindi ke Sumbar tahun 2024.

Untuk rihlah kali ini, kegiatan berlangsung selama 3 malam 2 hari.

Sabtu Malam: Memulai Perjalanan Menuju Alahan Panjang



Sabtu sore, kami berangkat sekitar pukul 17.30 menuju Alahan Panjang, tepatnya ke kawasan Danau Diatas, dengan tujuan bermalam di Masjid Ummi.

Sebelum berangkat, tim di briefing terlebih dahulu oleh ustadz Affan, untuk memastikan segala hal sebelum keberangkatan agar tak ada yang tertinggal.

Tim ustadz yang menggunakan mobil Luxio harus terlebih dahulu mampir ke rumah Pak Abrar untuk menjemput titipan beliau. Pak Abrar sendiri sudah berada di Sumatera Barat terlebih dahulu.

Setelah urusan tersebut selesai, barulah kami melanjutkan perjalanan.

Awal perjalanan masih terasa sangat seru. Candaan masih banyak, energi juga masih penuh. Maklum saja, baru berangkat. 😄

Formasi kami di dalam mobil Luxio cukup menarik.

Baris depan:
Supir: Pak Afdhal
Di sampingnya: Ustadz Muslim

Baris kedua:
Ustadz Ardi, Ustadz Anwar, dan Ustadz Asri

Baris ketiga:
Ada aku, Ustadz Eko, kemudian Ustadz Sandi dan Ustadz Gustian.

Kami yang duduk di bagian belakang ini memang bagian tim heboh saja. 😂

Sebelum berangkat, seluruh peserta memang sudah dibagi ke dalam beberapa kelompok. Para ustadz menjadi satu kelompok karena jumlahnya hanya 8 orang, sedangkan para ustadzah dibagi menjadi 3 kelompok.

Sekitar pukul 20.24, kami singgah di RM Kurnia, yang berada setelah Tol Pekanbaru-Kampar.

Sebenarnya beberapa orang sudah makan sebelum berangkat sore tadi, tetapi entah kenapa setelah beberapa jam perjalanan rasa lapar kembali muncul. Akhirnya kami berhenti juga untuk makan.

Sekitar pukul 21.00, perjalanan kembali dilanjutkan.

Setelah itu, kami beberapa kali berhenti di perjalanan. Ada yang ingin membeli snack, ada yang ingin buang air kecil, dan ada juga yang sekadar ingin tidur sebentar.

Maklum, supir kami bukanlah supir lintas yang terbiasa membawa kendaraan dalam perjalanan jauh. Jadi kami harus menjaga kondisi agar perjalanan tetap aman dan nyaman.

Ahad, 23 Agustus 2026

Subuhnya, kami sudah berada di Masjid Sumani, Sumatera Barat.

Sebenarnya niat awal kami adalah mengejar sholat Subuh di Masjid Ummi. Namun, ternyata perjalanan tidak memungkinkan kami sampai tepat waktu.

Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di Masjid Sumani, melaksanakan sholat Tahajjud, kemudian menunaikan sholat Subuh di sana.

Sekitar pukul 06.00, kami kembali berangkat dari masjid menuju Danau Diatas.

Pagi itu suasananya terasa sangat sejuk. Pemandangan alam Alahan Panjang benar-benar indah. Di kiri dan kanan jalan, kami melihat hamparan sawah yang masih hijau. Udara pagi Sumatera Barat terasa begitu berbeda dengan suasana Pekanbaru.

Sekitar pukul 08.05, kami sudah sampai di Masjid Ummi.

Di sana kami membersihkan diri sekaligus sarapan. Makanan sudah dipesan sebelumnya di sekitar Masjid Ummi, sehingga kami tidak perlu lagi mencari tempat makan. Kami tinggal duduk sesuai kelompok masing-masing dan menikmati sarapan.

Para ustadz sarapan di bagian belakang Masjid Ummi dengan pemandangan Danau Diatas yang sangat cantik. Sementara para ustadzah makan di bagian depan pelataran masjid.

Petualangan Naik Jeep Dimulai

Sekitar pukul 09.00, kami sudah bersiap untuk naik Jeep.

Rute yang kami ambil adalah menuju kebun strawberry, Danau Talang, dan sebuah kafe. Untuk nama kafenya, aku lupa. 😄

Paket mobil Jeep ini sebenarnya sudah dipesan jauh-jauh hari. Satu mobil Jeep hanya bisa diisi sekitar 4–5 orang, sehingga kami menyewa 9 mobil Jeep, lengkap dengan paket drone untuk mendokumentasikan perjalanan.

Rute Pertama: Kebun Strawberry

Rute pertama adalah kebun strawberry.

Ini adalah pertama kalinya aku melihat kebun strawberry secara langsung sekaligus memetik buahnya sendiri.

Selama ini yang tertanam di kepalaku adalah bahwa strawberry merupakan buah yang asam. Karena itu, aku termasuk orang yang kurang menyukainya.

Namun, ketika kemarin berada langsung di kebunnya dan mencicipinya, ternyata rasanya tidak seasam yang selama ini kubayangkan.

Akhirnya aku malah memetik sambil makan. 😂

Bahkan muncul keinginan untuk membawa strawberry tersebut pulang untuk istri dan anak-anakku.

Aku sempat bertanya kepada kakak yang berada di kebun tersebut apakah strawberry ini bisa bertahan sampai Pekanbaru. Katanya bisa.

Ya sudah, aku percaya saja.

Aku pun memetik strawberry, kemudian membawanya untuk ditimbang.

Hasilnya sekitar Rp30.000.

Aku berharap buah strawberry tersebut bisa sampai di Pekanbaru dengan selamat. 😄

Rute Kedua: Danau Talang

Setelah dari kebun strawberry, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Talang.

Di sana kami menikmati pemandangan danau sekaligus berfoto menggunakan drone di pinggir danau dengan latar mobil-mobil Jeep yang kami gunakan.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah kafe.

Mungkin orang Jeep-nya sudah bekerja sama dengan orang kafe, jadi kami tetap diarahkan untuk singgah di sana walaupun sebenarnya tidak semua dari kami membeli sesuatu. 😄

Ketika Jeep Mogok

Qodarullah, setelah keluar dari kafe, salah satu mobil yang dinaiki oleh Ustadzah Laila, Ustadzah Lisna, Ustadzah Rini, dan Ustadzah Santi mengalami kerusakan.

Mobil tersebut tidak mau hidup.

Hampir setengah jam abang-abang Jeep mengutak-atik kendaraan tersebut, tetapi tetap tidak berhasil.

Akhirnya kubilang kepada orang Jeep tersebut, "Antar saja dulu ustadzahnya, kami menunggu di sini."

Di mobil kami saat itu ada aku, Pak Afdhal, Ustadz Asri, dan Ustadz Ardi.

Untungnya, masih ada satu Jeep yang kosong dan seorang abang Jeep yang siap mengantarkan kami kembali ke Masjid Ummi.

Akhirnya kami pun kembali menuju masjid.

Menuju Pariaman

Sekitar pukul 12.00, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Masjid Kapal Al Fauzan yang berada di Pariaman untuk melaksanakan sholat.

Karena sedang safar, kami melaksanakan sholat dengan jama' dan qashar.

Sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh ke arah Pariaman, kami sempat singgah terlebih dahulu untuk berfoto-foto di kebun teh yang berada di Alahan Panjang. Kebetulan lokasinya masih searah dengan perjalanan pulang.


Bus Ustadzah Mengalami Bocor Ban

Perjalanan kembali menghadirkan cerita.

Di Padang, bus yang dinaiki para ustadzah mengalami bocor ban. Akibatnya, mereka harus menunggu di sana.

Yang cukup membuatku merasa tidak enak, sampai sekitar pukul 15.30 sore, mereka ternyata belum makan siang.

Makanan memang sudah kami pesan sebelumnya, yaitu kami para ustadz yang berada di mobil Luxio.

Setelah kami menghampiri lokasi bus yang mengalami bocor ban, barulah para ustadzah makan. Mereka akhirnya makan di kedai-kedai milik warga yang berada di pinggir jalan.

Semangat terus para ustadzah! 😄




Masjid Kapal Al Fauzan

Sekitar pukul 16.50, kami akhirnya sampai di Masjid Kapal Al Fauzan.

Aku cukup takjub melihat desain masjid ini.

Sebelumnya aku mengetahui bahwa masjid berbentuk kapal seperti ini ada di Pontianak, tempat Ustadz Luqmanul Hakim berdakwah. Ternyata di Pariaman juga ada masjid dengan konsep yang serupa.

Setelah melaksanakan sholat jama' qashar, kami menyempatkan diri untuk berfoto sebentar di masjid tersebut.

Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan menuju Pantai Tiram.

Awalnya, rencana kami adalah menuju Pantai Katapiang. Namun, atas arahan Pak Abrar, kami akhirnya menuju Pantai Tiram karena beliau juga sudah menunggu di sana.

Menikmati Sunset di Pantai Tiram

Sekitar pukul 17.40, kami sampai di Pantai Tiram.

Waktunya benar-benar pas untuk menikmati suasana sore dan melihat matahari terbenam.

Ketika kami tiba, Pak Abrar sudah menunggu di sebuah pondok yang berada di depan pantai.

Kami kemudian masuk ke kawasan pantai dengan membayar tiket sekitar Rp2.000 per orang.

Pantai-pantai di Pariaman memang banyak yang relatif murah. Bahkan sebagian besar pantainya bisa dikatakan gratis, hanya perlu membayar sekitar Rp2.000 untuk biaya masuk. Berbeda dengan beberapa kawasan wisata di Padang yang kebanyakan sudah dikelola secara komersial dan dikenakan biaya masuk.

Kami bermain di pantai sampai menjelang adzan Maghrib.

Sebagian besar teman-teman memilih untuk berfoto-foto. Sementara aku dan Ustadz Sandi memilih untuk berenang.

Maklum, kapan lagi bertemu pantai?

Di Pekanbaru tidak ada pantai. 😄

Sekitar lima menit menjelang adzan Maghrib, kami mulai keluar dari pantai.

Namun, qodarullah, ketika hendak keluar, Ustadzah Surya mengalami kram pada kaki.

Kami hanya bisa membantu memandu dan memberikan arahan, sementara ustadzahnya sendiri yang mengeksekusi penanganannya.

Mungkin karena sudah cukup lelah berjalan dan bermain di pantai.


Malam di Puncak Anai

Setelah dari Pantai Tiram, kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Anai (Anailand) yang berada tepat di depan I Bumi, tempat makan yang cukup viral di Sumatera Barat.

Sekitar pukul 20.30, kami akhirnya sampai di Anailand.

Setelah tiba, kami membersihkan diri, melaksanakan sholat, makan malam, kemudian beristirahat.

Sebelum benar-benar menutup hari yang panjang itu, beberapa tim PJ rihlah terlebih dahulu melakukan briefing untuk mempersiapkan agenda pada hari berikutnya.

Setelah briefing selesai, barulah kami semua beristirahat.

Hari pertama perjalanan rihlah pun akhirnya selesai.

Tapi ternyata, perjalanan masih menyimpan banyak cerita untuk hari berikutnya.

Bersambung di postingan berikutnya...

Komentar

Posting Komentar