Karya sastra berupa puisi sering kali menjadi alarm pengingat yang paling jujur di tengah isu sosial dan kerusakan alam yang terjadi di sekitar kita. Puisi berikut ini merupakan sebuah refleksi mendalam mengenai keserakahan manusia yang mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi masa depan bumi.
Ditulis dari sudut pandang keresahan personal, bait-bait ini menyuarakan jeritan alam yang hancur akibat kebakaran hutan, penebangan liar, hingga bencana banjir dan longsor yang sejatinya adalah buah dari ulah manusia itu sendiri.
Kau hancurkan nafasmu
Hutan lebat ubah jadi kota
Kau kotori nafasmu
Lagi hutan kau bakar
Alam jahat?
Kau jahat
Kau paksa banjir
Lagi hutan tebang tak tanam
Sampah diparit gembung
Kau paksa longsor
Tanah tanah kikis sikit sikit
Batu batu ambil jual
Alam jahat?
Kau jahat
Tamak, rakus, serakah
Bentuk makhluk tak tahu diri
Ego buat tinggi bukan harta dibawa mati
Alam marah elak diri
Kutuk orang tak salah lindungi diri
Bangsat. . Sadar kau
Alam jahat?
Bukan, kau yang jahat
Pekanbaru, Januari 2016
Makna di Balik Puisi
Melalui untaian kata yang lugas dan berani, puisi ini secara terang-terangan menyindir ego manusia yang kerap menyalahkan alam saat bencana melanda. Padahal, parit yang tersumbat sampah, hutan yang gundul tanpa reboisasi, dan bukit yang dikeruk demi keuntungan pribadi adalah bukti nyata siapa dalang sebenarnya.
Semoga karya ini tidak hanya menjadi pelipur lara, tetapi juga pengingat bagi kita semua untuk kembali menjaga, merawat, dan memuliakan alam tempat kita berpijak.
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
tulisanya bagus
BalasHapusMakasih, sering2 mampir ya
Hapus