![]() |
| Air Terjun Aek Martua yang bawah |
Rabu, 20 Januari 2016 menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tidak akan terlupakan. Tepat sebelum menghadapi pekan Ujian Akhir Semester (UAS), kami memutuskan untuk sejenak melepas penat dan melakukan perjalanan menuju Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau.
Berangkat dari Pekanbaru, tim kami terdiri dari 7 orang petualang: Blank, Ayim, Randa, Rizal, Tia, Uul, dan Yuli. Target utama kami adalah menaklukkan Air Terjun Aek Martua. Namun, perjalanan ini ternyata menghadirkan cerita persaudaraan yang jauh lebih luas dari sekadar sebuah destinasi.
Sambut Hangat di Universitas Pasir Pangaraian (UPP)
Sebelum menuju ke lokasi air terjun, kami singgah terlebih dahulu di kampus Universitas Pasir Pangaraian (UPP) untuk mengunjungi kawan-kawan Mapala Polipera. Kedatangan kami disambut dengan sangat luar biasa hangat.
Di sekretariat mereka, suasana sudah ramai karena ada Bang Eko dari Mapedallima Universitas Islam Riau (UIR) serta kawan-kawan dari komunitas Vespa yang juga sedang bertamu. Sambil melepas lelah setelah perjalanan panjang dari Pekanbaru, kami memanfaatkan momen ini untuk beristirahat dan saling bertukar cerita.
Memasuki waktu malam, kawan-kawan Polipera dan seorang simpatisannya mengajak kami berkunjung ke Hapanasan, salah satu objek wisata air panas populer di Rokan Hulu. Di sana, kami menghabiskan malam dengan merendam kaki di air hangat, menyeduh kopi, memancing di sungai kecil, dan tentu saja diiringi canda tawa serta banyolan khas anak gunung. Selain pemandian air panas, Hapanasan juga dilengkapi fasilitas seperti wall climbing, flying fox, dan area taman yang asri.
Menjelajahi Goa Sikapir dan Menaklukkan "Tanjakan Penyesalan"
Keesokan harinya pada Kamis pagi, petualangan berlanjut. Kami diajak mengunjungi Goa Sikapir. Ini adalah momen tebus penasaran bagi saya, karena pada ekspedisi tahun 2013 lalu kami hanya sempat mengunjungi Goa Mata Dewa saja.
Setelah dari goa, barulah kami bersiap menuju tujuan utama: Air Terjun Aek Martua. Karena kawan-kawan Polipera yang lain memiliki agenda masing-masing, perjalanan kami kali ini ditemani oleh Weni. Sebelum nanjak, kami singgah di rumah Bang Syukron, salah satu senior Polipera, untuk menitipkan helm sekaligus dijamu makan siang bersama.
Perjalanan darat dimulai setelah kami melewati jembatan gantung, sementara sepeda motor kami titipkan dengan aman di rumah warga setempat. Kami berjalan kaki menyusuri hutan dan perbukitan. Sebelum menghadapi trek menanjak yang terkenal, kami sempat mengambil persediaan air bersih langsung dari mata air sungai terdekat.
Di sinilah kami harus melewati trek ikonik bernama "Tanjakan Penyesalan". Menurut penuturan Weni, dinamakan demikian karena tanjakannya yang cukup panjang, terjal, dan benar-benar menguras tenaga hingga membuat siapa pun yang lewat seolah 'menyesal' telah datang. Namun, setelah berjalan kaki sekitar 2 jam menembus hutan, lelah itu mendadak sirna.
Pesona dan Magisnya Air Terjun Aek Martua (Air Bertuah)
Dalam bahasa Mandailing, Aek Martua memiliki arti Air Bertuah. Dan keindahannya memang seolah memiliki magis tersendiri. Rasa penat selama perjalanan langsung terbayar lunas begitu kami melihat pemandangan air terjun yang bertingkat.
Tingkat teratas menjulang cukup tinggi, sementara tingkat di bawahnya memiliki ketinggian sekitar 7 hingga 8 meter. Sayangnya, ada sedikit coretan tangan jahil (vandalism) di beberapa batu besar yang agak merusak estetika alamnya.
Tanpa mengulur waktu, kawan-kawan langsung menceburkan diri dan mandi hingga malam hari. Sebagian lagi bertugas memasak dan menyalakan api unggun, meskipun apinya tidak bertahan lama karena material kayu di sekitar lembab akibat tempias air terjun.
Di keheningan malam Aek Martua, saya dan Yuli sempat berkolaborasi menulis bait puisi dan menciptakan sebuah nada untuk reff lagu baru, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk istirahat lebih awal karena faktor kelelahan.
Ramah Tamah dan Kembali ke Pekanbaru
Hari Jumat pagi dihabiskan dengan kembali menikmati kesegaran air terjun. Beberapa kawan yang masih penasaran bahkan mencoba naik ke tingkatan air terjun yang berada di atas, sementara saya memilih untuk bersantai di tingkat bawah.
Setelah makan siang, kami mengemas perlengkapan dan bersiap pulang. Kami berpamitan kembali dengan Bang Syukron lalu menuju ke sekretariat Mapala Polipera. Mengingat kondisi fisik kami yang masih kelelahan, kawan-kawan Polipera menyarankan agar kami menginap satu malam lagi di homestay mereka.
Malam terakhir di Pasir Pangaraian diisi dengan menghadiri acara ramah tamah memperingati HUT KSR PMI Unit Universitas Pasir Pangaraian atas ajakan dari Weni. Keesokan harinya, Sabtu sekitar pukul 11.00 WIB, dengan tenaga yang sudah pulih penuh, kami berpamitan untuk bertolak kembali menuju Kota Pekanbaru.
Pekanbaru, Januari 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
![]() |
| Plang Hapanasan |
![]() |
| Plang Goa Sikapir |
![]() |
| Blank dibelakang (pengganggu), Weni Kiri, Tia Kanan |
![]() |
| Handsome Guys with WANAPALHI Scarf |
![]() |
| Behind Waterfall, sampai lembab hp gara gara take ini |
![]() |
| Malam di Hapanasan |
![]() |
| Goa Mata Dewa |








Komentar
Posting Komentar