Pengalaman hidup adalah guru terbaik, dan terkadang pengalaman paling berharga justru lahir dari sebuah keisengan yang berujung pada ujian mental yang sesungguhnya. Kejadian ini berlangsung pada malam tanggal 13 Januari 2016, sebuah malam yang memberiku satu pelajaran hidup baru tentang bagaimana rasanya mencari rezeki di jalanan.
Semua bermula dari candaan santai di sekretariat organisasi. Saat itu kondisi kami memang belum pada makan malam. Tiba-tiba, Opung (Riandi) melempar ide spontan, "Ngamen yok!" Ide gila itu langsung disambut antusias oleh kawan-kawan yang ada di sekret, "Ayoklah, lumayan buat nambah-nambah duit jajan." Niat iseng kami semakin bulat setelah didorong dan diberi modal awal sebesar 10 ribu rupiah oleh Bang Iby sebagai pelapis perut sebelum berangkat.
Perjuangan Mengumpulkan Keberanian dan Memutus Urat Malu
Awalnya, tim kecil ini terdiri dari aku, Opung, dan Ridho. Kami berangkat bertiga bonceng tiga menggunakan motor Satria FU milikku. Kami sempat singgah di kedai Bude depan kampus untuk membeli roti, gorengan, dan susu kedelai menggunakan modal awal tadi sebagai pengisi energi. Di titik ini, nyali kami sempat ciut dan ada yang mengajak pulang, namun modal nekat akhirnya menang. Di tengah jalan, Randa menelepon ingin bergabung, sehingga pasukan kami bertambah menjadi dua sepeda motor.
Destinasi pertama yang kami tuju adalah Warung Nasi Goreng Binjai di dekat Riau Pos. Lucunya, sesampainya di sana, kami malah parkir agak jauh dan menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk mengumpulkan keberanian! Karena tempat itu adalah langganan kami makan, rasa gengsi dan malu mendadak menyerang. Akhirnya kami memutuskan pindah mencari tempat yang tidak ada satu orang pun mengenali kami.
Pilihan jatuh pada sebuah Warung Pecel Lele di simpang Jalan Delima. Kami memarkir motor agak jauh di depan ruko orang. Proses maju-mundur cantik kembali terjadi; butuh waktu setengah jam lagi hanya untuk memutus urat malu. Memang, memulai sesuatu untuk pertama kali adalah bagian paling berat.
Begitu mental terkumpul, aku dan Ridho langsung turun membawakan lagu "Sayidan" milik Shaggydog (maaf ya mas-mas Shaggydog, kami pinjam lagunya untuk cari makan, hehe). Luar biasa, bukaan pertama kami langsung mendapatkan uang sebesar 6 ribu rupiah. Senangnya bukan main! Nice try!
Menyusuri Jalanan Malam Kota Pekanbaru
Setelah sukses di titik pertama, kepercayaan diri kami mulai terkerek naik. Kami mulai menyusuri Jalan Delima untuk mencari spot yang ramai:
Spot Kedua (Simpang Ardath): Kami mencoba mengamen di sebuah warung nasi goreng sebelum tanjakan. Di sini proses mengumpulkan keberanian sudah tidak selama yang pertama. Bermodalkan lagu "Go Green" dari Momonon, kami berhasil mengantongi 4 ribu rupiah.
Spot Ketiga (Jalan Soekarno-Hatta): Kami menyasar deretan warung nasi goreng malam yang jika siang hari berfungsi sebagai showroom mobil. Kali ini Randa ikut turun bernyanyi, dan alhamdulillah menghasilkan 4 ribu rupiah lagi.
Kami sempat beristirahat sejenak di pinggir jalan sambil menghitung pendapatan. Di momen itulah kami saling merenung, ternyata mencari uang itu sama sekali tidak mudah.
Setelah tenaga pulih, kami melanjutkan aksi ke Spot Keempat di Warung Nasi Goreng Binjai depan SPBU Panam. Karena mental sudah terlatih, kami hanya butuh waktu sebentar untuk langsung beraksi dan membawa pulang 6 ribu rupiah.
Petualangan malam itu akhirnya kami tutup di tempat yang seharusnya menjadi lokasi pertama kami, yaitu Nasi Goreng Binjai dekat Riau Pos. Uniknya, di sana kami malah bertemu dengan senior kami, Bang Helmi, yang sedang nongkrong. Herannya, beliau tidak memberi sepeser pun uang, mungkin isi dompetnya juga lagi mengalami krisis, hehe. Tapi tidak mengapa, dari pengunjung lain di spot terakhir ini kami tetap mendapatkan total 6 ribu rupiah.
Akhir Perjalanan: Makan Malam Paling Nikmat Hasil Keringat Sendiri
Sepulang mengamen, kami langsung pergi ke toko kelontong untuk membelanjakan uang hasil jerih payah tersebut. Kami membeli beras, mi instan, dan telur untuk menu makan bersama di sekretariat. Malam itu, kami baru bisa menikmati makan malam setelah jam 12 lewat. Rasanya? Luar biasa nikmat, karena makanan itu dibeli dari uang hasil keringat dan perjuangan sendiri.
Bagi orang awam, mengamen mungkin terlihat sangat mudah; tinggal bernyanyi, lalu menodongkan kotak uang. Namun, setelah merasakannya sendiri, kami tahu bahwa tantangan terbesarnya bukan pada olah vokal, melainkan pada bagaimana mengalahkan ego dan mengumpulkan keberanian untuk tampil di depan umum.
Bagiku pribadi, malam itu telah menambah satu portofolio pengalaman hidup yang sangat mahal untuk diceritakan di hari tua nanti. Mengamen adalah ajang terbaik untuk menguji mental dan menghancurkan rasa gengsi yang tidak perlu.
Pekanbaru, 6 Februari 2016
Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)
Baca Juga Berita Riau Terbaru hari Ini Disini Horas Sumut News
BalasHapusArtikel Bermanfaat, Trims.. Jgn Lupa Baca Berita Riau Terbaru di Horas Sumut News