Lanjutan cerita sebelumnya dari >>>> Pendakian G. Marapi Bagian 1
Setelah puas mengisi tenaga dengan menikmati PopMie dan beberapa camilan di area Cadas, kami segera bersiap melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Bagaimanapun juga, target utama kami adalah harus berhasil mencapai titik tertinggi dari Gunung Marapi Sumatra Barat ini. Untuk menuju ke sana, kami mengambil jalur pendakian dari sebelah kiri Tugu Abel. Pertimbangannya karena jalur ini posisinya paling dekat dari tempat kami beristirahat dan mengambil persediaan air tadi.
Sesampainya di puncak tertinggi, rasa lelah mendadak menguap begitu saja. Kami langsung mengabadikan momen-momen berharga di atas awan tersebut sambil bercanda ria menikmati indahnya alam ciptaan Allah SWT.
Ketegangan di Bibir Kawah Marapi
Puas menikmati keindahan puncak, kami pun mulai bergerak turun. Kali ini kami memilih rute yang berbeda, yaitu melewati jalur sebelah kanan yang mengitari bibir kawah Gunung Marapi. Di tengah perjalanan turun inilah, terjadi sebuah momen mendebarkan yang sukses membuat aku dan Ustadz Affan benar-benar cemas setengah mati.
Kejadiannya bermula saat Ustadz Said mendadak menyandarkan badannya ke sebuah batu besar. Masalahnya, batu tersebut posisinya berada tepat di pinggir jurang kawah yang menganga dalam. Posisi badan beliau saat itu bertumpu seperti orang yang sedang melakukan gerakan push-up di batu, yang tingginya kira-kira setinggi lutut orang dewasa.
Orang pertama yang menyadari bahaya tersebut adalah Ustadz Affan. Dengan nada suara yang bergetar panik, dia langsung berteriak, "Ustadz Said! Ustadz Said!"
Begitu aku menoleh dan melihat posisi Ustadz Said, jantungku rasanya mau copot. Aku pun refleks ikut berteriak histeris, "Awas, Ustadz Said!"
Alhamdulillah, tak berselang lama beliau langsung tersadar dari lamunannya dan segera menjauh dari bibir kawah. Setelah ketegangan itu reda, kami melanjutkan perjalanan turun menuju area perkemahan. Perjalanan dari puncak kembali ke tenda memakan waktu sekitar satu jam, dan kami tiba di tenda kurang lebih sekitar jam 11 siang. Kami langsung berbagi tugas mempersiapkan menu makan siang. Begitu selesai makan dan semua logistik rampung di-packing ke dalam carrier, hujan lebat tiba-tiba turun mengguyur Gunung Marapi. Alhasil, kami terpaksa berteduh sejenak di sebuah pondok jualan tempat kami mengisi perut kemarin.
Jalur Licin dan Komedi Jatuh Terpeleset
Begitu intensitas hujan mulai mereda, kami memutuskan untuk langsung bergegas turun dengan mengenakan raincoat (jas hujan). Jalur pendakian pasca-hujan berubah total menjadi medan yang sangat licin dan penuh lumpur. Kami semua harus ekstra hati-hati dalam melangkah, sebab terpeleset di medan gunung taruhannya sangat berbahaya; kita bisa menggelinding bebas ke bawah jurang. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding.
Meski medannya berbahaya, dasar mentalnya suka bercanda, beberapa momen jatuh terpeleset di antara kami justru berakhir menjadi bahan tertawaan untuk mengusir lelah. Namun, ada satu kondisi yang hampir berujung bahaya nyata, yaitu ketika Ustadz Dayu berjalan turun dengan kecepatan yang agak laju. Karena jalurnya turunan curam dan kondisinya sangat licin setelah hujan, beliau sempat kehilangan kendali dan tergelincir. Beruntung sekali, tepat di depannya ada sebuah batang pohon mati yang kokoh, sehingga beliau masih sempat menjadikannya tumpuan untuk mengerem badan. Mungkin kalau pohon mati itu tidak ada, Ustadz Dayu sudah merosot jauh ke bawah.
Nah, cerita paling lucu dan paling mengocok perut selama perjalanan turun terjadi saat kami sedang beristirahat di sebuah pos. Saat itu, rombongan depan sudah sampai di pos, sementara Ustadz Ardi masih berjalan di belakang menuju tempat kami. Di belakang Ustadz Ardi, agak jauh, menyusul Ustadz Dayu dan Ustadz Angga.
Di pos tempat kami beristirahat itu terdapat sebuah pondok jualan yang juga diisi oleh rombongan pendaki akhwat yang sedang melepas lelah. Ustadz Ardi yang posisinya sudah hampir sampai di dekat pondok, mencoba menunjukkan kepeduliannya dengan mengingatkan para pendaki akhwat tersebut, "Hati-hati, Buk, nanti jatuh..."
Ajaibnya, belum sempat kalimat itu selesai diucapkan secara sempurna, justru kaki Ustadz Ardi sendiri yang terpeleset luput dan beliau langsung jatuh terduduk di tanah! Instan karma yang begitu cepat. Respons kami yang melihat kejadian itu tentu saja langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak. Sebenarnya sebagai sesama kawan kami harus menolongnya, tapi apa daya, tubuh yang sudah kepalang letih membuat kami hanya bisa tertawa pasrah di tempat duduk.
Melihat kejadian menggelikan itu dari kejauhan, Ustadz Angga yang berjalan di belakang langsung memanfaatkan momen tersebut untuk melemparkan lelucon spontannya dengan logat Minang yang kental, "Jan di caliak, awak ndak ba'a do, awak maluuu!" (Jangan dilihat, aku tidak apa-apa kok, cuma aku malu!).
Seketika itu juga, tawa kami semakin pecah riuh rendah, bahkan rombongan pendaki akhwat beserta timnya yang ada di dalam pondok pun ikut tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah kami. Rasa lelah akibat trek licin mendadak hilang digantikan oleh tawa.
Setelah puas tertawa, kami kembali memanggul tas dan melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah pondok jualan berikutnya yang terletak di sebuah tikungan jalur yang agak luas. Bagi para pendaki kawakan Gunung Marapi, kalian pasti sudah sangat familiar dengan titik tikungan ini. Di sini kami beristirahat sekitar 30 menit sambil memesan segelas teh dan kopi hitam hangat ditemani makanan ringan, sebelum akhirnya melanjutkan langkah menuju ke Pesanggrahan.
Menembus Malam dengan Headlamp Minim
Kami akhirnya tiba kembali di basecamp Pesanggrahan sekitar jam setengah 6 sore, tepat menjelang petang. Kami beristirahat sejenak untuk menunaikan ibadah Sholat Maghrib yang dijama' sekalian dengan Isya. Pada momen ini kami sengaja menahan diri untuk tidak makan berat terlebih dahulu, karena rencana awalnya kami ingin memanjakan lidah dengan makan enak di rumah makan bawah nanti.
Setelah selesai membersihkan diri dan beristirahat, kami melanjutkan sisa perjalanan menuju ke pos awal pendakian. Namun, tantangan baru muncul: jalur berubah menjadi sangat gelap, licin karena sisa hujan, dan diperparah dengan kondisi lampu kepala (headlamp) kami yang sudah sangat minim dayanya. Aku baru teringat kalau aku lupa membawa baterai cadangan, padahal semalaman suntuk di area Cadas, aku membiarkan headlamp-ku terus menyala tanpa henti. Akibat keterbatasan cahaya ini, kami terpaksa berjalan dengan sangat lambat dan penuh kehati-hatian. Sekitar jam setengah 9 malam, kaki kami akhirnya mendarat dengan selamat di pos awal, beristirahat sejenak, lalu bersiap bergerak keluar area gunung.
Kami segera mencari rumah makan terdekat untuk menuntaskan hasrat makan malam kami. Kebetulan, tepat di sebelah rumah makan yang kami singgahi terdapat sebuah musholla yang cukup bersih. Kami pun mencoba meminta izin kepada pengurusnya untuk menumpang tidur di sana malam itu, dan alhamdulillah kami diizinkan. Sembari meluruskan badan yang remuk, beberapa kawan tampak saling berbalas mengurut kaki dan pundak karena keletihan yang luar biasa. Sekitar jam 11 malam, suasana musholla sudah hening karena kami semua sudah terlelap masuk ke alam mimpi.
Membilas Lelah di Kota Padang
Keesokan paginya, setelah menunaikan Sholat Subuh berjamaah dan merapikan barang bawaan, kami langsung tancap gas menuju Kota Padang. Sesuai rencana awal, hari kedua ini akan kami dedikasikan untuk bermain-main santai di area pantai.
Di tengah perjalanan menuju Padang, kami menyempatkan diri untuk singgah sarapan pagi di daerah sekitar Lembah Anai. Sambil menunggu makanan siap, tentu saja kami tidak lupa mengambil beberapa foto dokumentasi berlatar belakang alam yang asri. Perjalanan kemudian berlanjut, dan kami kembali melipir sebentar untuk mandi pagi di sebuah pemandian alami yang terletak di dekat kampung halaman Ustadz Angga di daerah Kayu Tanam. Karena airnya yang sangat segar, kami jadi keasyikan mandi-mandi di sana hingga lupa waktu.
Akibat durasi mandi yang molor di Kayu Tanam, kami baru tiba di Kota Padang sekitar jam 11 siang. Begitu sampai di area pantai, agenda langsung kami rapikan dengan makan siang bersama terlebih dahulu, dilanjutkan dengan sesi foto-foto ceria di tepi pantai dengan latar belakang hamparan Samudra Hindia. Sebelum bersiap bertolak pulang kembali menuju Pekanbaru, kami melaksanakan Sholat Zuhur dan Ashar secara Jama' Qashar di Masjid Raya Sumatera Barat yang megah.
Ada sedikit cerita jenaka sekaligus menyebalkan dalam perjalanan pulang kami di dalam mobil. Sepanjang jalur lintas, kami habis-habisan dikerjain oleh Ustadz Affan yang bertindak sebagai driver. Beliau sengaja memainkan ritme mengemudi dengan teknik "rem-gas-rem-gas" secara konstan. Gaya menyetir yang mirip wahana kora-kora itu sukses membuat perut beberapa dari kami bergejolak hebat, hingga akhirnya beberapa orang tumbang dan muntah di jalan, termasuk aku sendiri!
Sebelum benar-benar keluar dari ranah Minang, kami menyempatkan diri berhenti di salah satu toko pusat oleh-oleh Sanjai untuk membeli beberapa buah tangan yang akan dibawa pulang ke rumah. Dan seperti biasa, untuk detail perjalanan pulang yang membosankan di dalam mobil, tidak perlu aku ceritakan secara panjang lebar di sini.
Nah, itulah runtutan kisah petualangan dan pendakian seru kami saat menaklukkan Gunung Marapi beberapa waktu lalu. Artikel ini memang baru bisa terbit sekarang karena awalnya aku sempat berniat untuk mengedit video perjalanannya terlebih dahulu, dengan harapan tulisan blog dan videonya bisa naik secara bersamaan. Tapi apa daya, karena kesibukan harian, proyek video perjalanan itu tak kunjung selesai sampai saat ini. Daripada ceritanya terus mengendap di draf memori, lebih baik aku rilis sekarang agar bisa menjadi kenangan yang abadi.
Sekian cerita pendakian dariku, di bawah ini aku sertakan beberapa dokumentasi foto keseruan kami selama berada di atas sana. Sampai jumpa di cerita petualangan berikutnya!
By Ust. Eko
Waaaw..
BalasHapusThanks For Coming 😁
HapusKeren....
BalasHapusThanks Senior. .
Hapus