Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 7

 Selasa, 3 Mei 2022

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Waktu berjalan tanpa pernah meminta persetujuan kita, Anakku. Tepat pada tanggal 3 Mei 2022, saat Abi kembali duduk di sampingmu untuk mengabadikan jengkal cerita ini, engkau sudah resmi menginjak usia 3 pekan di dunia.

Dalam kurun waktu sesingkat itu, Abi dan Umi sudah dipaksa belajar banyak hal tentang bagaimana cara mengasuh seorang anak dengan baik. Namun, karena status kami murni adalah orang tua baru, jujur masih ada banyak sekali hal detail yang belum kami ketahui, Nak. Maafkan Abi dan Umi ya, jika dalam mengasuh dan merawatmu sehari-hari, kami terkadang masih terkesan meraba-raba di dalam ketidaktahuan.

Sepanjang 3 pekan kehadiranmu di tengah-tengah kami, ada begitu banyak dinamika dan drama kecil yang terjadi di dalam rumah. Abi sengaja mencatatnya satu per satu di lembaran Blank's Stories ini agar kelak bisa kita kenang bersama.


Drama Tali Pusar Lepas dan Kepanikan Saat Aisyah Tidak BAB Seminggu

Catatan pertama dimulai saat usiamu menginjak 4 hari, di mana tali pusarmu akhirnya lepas secara alami. Namun setelah momen itu, muncul sebuah ujian yang menguras energi dan pikiran kami: engkau kedapatan tidak Buang Air Besar (BAB) selama hampir sepekan lamanya!

Kondisi itu tak pelak membuat Abi dan Umi dirundung rasa khawatir yang teramat sangat, Nak. Apalagi saat kami raba, kondisi perut mungilmu terasa agak mengeras. Tidak ingin mengambil risiko, kami langsung menghubungi bidan keperasayaan kita, Bu Bidan Anri.

Begitu tiba di rumah, Bu Bidan langsung memberikan tindakan treatment penyelamatan berupa stimulus lembut pada bagian anusmu. Alhamdulillah, ikhtiar itu berhasil dan engkau akhirnya bisa kembali mengeluarkan BAB. Setelah peristiwa menegangkan tersebut, perlahan-lahan pola buang air besarmu mulai kembali berjalan normal dan teratur di kisahan 2 sampai 3 hari sekali.

Perubahan lain yang terjadi di usia 3 pekan ini adalah keputusan kami untuk menghentikan penggunaan popok kain. Engkau kini sudah resmi beralih menggunakan popok sekali pakai (pampers). Keputusan ini terpaksa kami ambil karena volume kencingmu sudah mulai bertambah banyak. Jika kami bersikeras tetap menggunakan popok kain konvensional, maka kasur dan pakaian akan sangat sering basah dan tumpang tindih, Nak.


Keberanian Memandikan Bayi dan Misteri Perut Kembung Mirip Kendang

Sampai detik ini, Umimu ternyata belum mengumpulkan keberanian mental yang cukup untuk memandikan tubuh mungilmu sendirian. Tugas mulia memandikanmu akhirnya dibagi rata antara nenekmu dan Abi.

Jika Abi sedang berada di rumah dan tidak ada jadwal mengajar, maka sesi mandi pagi atau soremu mutlak menjadi jatah dan urusan Abi. Namun, jika Abi sedang ada agenda dinas atau keperluan di luar rumah, barulah tugas memandikan tersebut didelegasikan kepada nenekmu, Nak. Abi ingin terbiasa merawatmu dengan tangan Abi sendiri sejak dini.

Di samping urusan mandi, ada satu hal lagi yang sering kali membuat Abi didera rasa cemas: perutmu sering sekali kembung. Abi bahkan sampai harus meluangkan waktu berjam-jam berselancar di Google untuk mencari tahu bagaimana metode terbaik mengatasi kembung pada bayi Newborn.

"Meskipun dalam kondisi perut kembung itu engkau sama sekali tidak menangis atau rewel, Abi tetap saja merasa khawatir jika permukaan perutmu mendadak mengeras. Apalagi kalau Abi berikan tepukan-tepukan kecil dengan jari, bunyinya terdengar nyaring sekali, persis seperti bunyi ketukan kendang."


Begadang Akhir Ramadhan dan Insting Protektif Menghalau Petasan

Memasuki fase usia 3 minggu, engkau juga mulai memiliki kebiasaan sering terbangun dan menangis di tengah malam. Siklus tidurmu yang belum teratur ini otomatis memangkas waktu istirahat kami. Bahkan, akibat jadwal begadang yang cukup intens menjaga dirimu di jam-jam krusial, Abi sampai beberapa kali terlewat untuk bangun menyantap makan sahur di akhir-akhir Bulan Ramadhan tahun itu.

Kau tahu, Nak? Di masa-masa ini, insting protektif Abi sebagai seorang ayah benar-benar diuji ke permukaan. Suatu malam, ada sekelompok orang yang dengan sengaja bermain petasan tepat di area depan rumah kita. Mendengar suara ledakan itu, engkau seketika langsung tersentak dan terkaget-kaget di dalam tidurmu.

Melihat ketenangan tidurmu diusik, emosi Abi langsung tersulut. Tanpa pikir panjang, Abi langsung keluar rumah dan mengusir orang-orang tersebut saat itu juga agar menjauh dari lingkungan rumah kita.

Bahan puncaknya pada malam 1 Syawal (malam takbiran), ada beberapa orang yang menyalakan kembang api jenis roket yang suaranya sangat menggelegar. Jujur, di dalam hati kecil Abi, ada keinginan yang teramat kuat untuk mendatangi dan menegur mereka secara langsung malam itu. Namun, Abi terpaksa menahan diri karena melihat jumlah massa mereka yang terlalu ramai ditambah jarak lokasinya yang lumayan jauh dari rumah. Abi hanya bisa mendekapmu erat agar engkau tidak ketakutan mendengar bisingnya suara di luar sana.


Gurat Senyum Pertama yang Menghapus Seluruh Lelah

Di balik segala tumpukan drama begadang dan kepanikan medis di atas, Abi selalu menemukan obat penawar terbaiknya di setiap pagi. Abi perhatikan, pertumbuhan fisikmu kini berjalan sangat pesat, Nak. Berat badanmu bertambah padat, dan panjang tubuhmu pun sudah mulai terasa mantap saat didekap.

Dan satu momen paling berharga yang paling Abi tunggu-tunggu adalah ketika engkau sudah mulai mampu menampakkan senyum-senyum kecilmu yang tulus dari bibir mungil itu saat terbangun. Demi Allah, setiap kali Abi melihat gurat senyumanmu itu, rasanya seluruh tumpukan rasa lelah, kantuk karena begadang, dan kekhawatiran Abi seketika menguap, berubah menjadi kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan angka apa pun.

Sehat-sehat selalu ya, Anakku Aisyah. Perjalanan kita baru saja dimulai.


Pekanbaru, 3 Mei 2022

Oleh: Abi Aisyah

Komentar

Posting Komentar