Cerita • Perjalanan • Puisi

Sajak Sore Selasa

Selasa, 10 Mei 2022

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Ada momen-momen tertentu dalam hidup di mana alam seolah memaksa kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas, duduk diam, dan mendengarkan isi kepala kita sendiri. Salah satunya adalah sore itu.

Saat hujan deras mengguyur bumi Pekanbaru dan menahan langkahku di dalam ruang kelas sembilan yang sunyi, jemari ini tiba-tiba ingin menari di atas keyboard. Larik-larik kalimat ini lahir dari rasa rindu yang membuncah, rasa gundah, sekaligus potret jujur dari sebuah sudut ruang sekolah tempatku mengabdi.

Sajak Terjebak Hujan di Kelas Sembilan

Hujan turun deras,

Membuatku tak bisa pulang menemui istri dan anakku.

Bukan sembarang kelas,

Kelas sembilan tempatku menunggu.

Yang sakit sembuh lekas,

Risihku memikirkan itu.

Penikmat garis keras,

Film misteri kegemaranku.

Kaki menjulur, tangan menari di atas keyboard,

Menulis cerita jujur, sambil melihat white board.

Bersandar di tembok, punggung pegal perut lapar,

Ingin cepat pulang, bertemu istri dan anak tersayang.

Bukan mengulur, tapi manfaatkan waktu untuk menulis,

Bukan mengusir bosan, tapi tak ingin menikmati gerimis.

Jarum jam berputar cepat,

Terasa sedang di pinggiran black hole.

Di kelas terlihat air yang jatuh dari atap yang bocor,

Baterai HP dua persen, harapan terakhir tinggal laptop.

Charger tak kubawa,

Mengandalkan power HP dari pagi.

Diluar semakin gelap, buatku semakin gundah,

Kalau tak cukup reda, hujan ini kutembus sudah.

Tertahan rindu di sudut kelas, Blank

Komentar

Posting Komentar