Cerita • Perjalanan • Puisi

Temankan Aisyah

Hari Kamis, 9 Juni 2022, menjadi salah satu tonggak waktu yang tidak akan pernah kami lupakan. Menjadi orang tua baru adalah sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa indahnya. Setiap sudut rumah, setiap embusan angin, dan setiap benda yang tampak di mata seolah-olah ingin kita ajak bersekongkol untuk menjaga kesucian, kesehatan, dan tumbuh kembang putri kecil kita.

Goresan bait-bait sederhana ini lahir dari lubuk hati terdalam Abi dan Umi. Sebuah puisi doa yang kami untai khusus untuk menemani hari-hari awal kehidupan putri pertama kami, Aisyah Assyifa. Puisi ini bukan sekadar rima, melainkan bentuk rasi harapan agar semesta dan seisinya ikut mendekap, menjaga, serta menuntun Aisyah dalam kebaikan sepanjang hayatnya.

Puisi Doa Semesta: Temankan Aisyah

Awan, temankan Aisyah awan,

Jangan sampai Aisyah tak punya kawan.

Langit, temankan Aisyah langit,

Jangan sampai Aisyah menjerit.

Burung, temankan Aisyah burung,

Jangan sampai Aisyah murung.

Hujan, temankan Aisyah hujan,

Jangan sampai Aisyah banyak jajan.

Angin, temankan Aisyah angin,

Jangan sampai Aisyah masuk angin.

Rumah, temankan Aisyah rumah,

Biar Aisyah jadi anak yang ramah.

Kabel, temankan Aisyah kabel,

Biar Aisyah tidak rewel.

Lampu, temankan Aisyah lampu,

Biar Aisyah rajin nyapu.

Bantal, temankan Aisyah bantal,

Biar Aisyah tidak nakal.

Motor, temankan Aisyah motor,

Biar Aisyah tidak berkata kotor.

Selimut, temankan Aisyah selimut,

Biar Aisyah jadi anak imut.

Kipas, temankan Aisyah kipas,

Biar Aisyah jadi anak yang cerdas.

Cerita Unik di Balik Coretan Dinding Kamar

Jika diperhatikan secara seksama, bait-bait di atas memasukkan beberapa kata yang tidak biasa untuk sebuah puisi doa, seperti kata "kabel", "lampu", hingga "motor". Kisah di baliknya sebenarnya sangat spontan. Puisi ini ditulis langsung oleh sang Abi pada larut malam ketika Aisyah kecil sedang terbangun dan enggan memejamkan mata.

Sambil menggendong dan menimang Aisyah di ruang tengah, tatapan mata Abi menyapu benda-benda yang ada di sekitar rumah. Kabel yang melingkar di sudut TV, lampu ruang tengah yang berpendar temaram, hingga suara motor yang sesekali lewat di depan pagar rumah. Seketika itu pula, untaian kalimat ini mengalir menjadi doa penenang agar kelak saat tumbuh besar, benda-benda sederhana di sekelilingnya pun bisa menjadi saksi kebaikan pertumbuhannya.

Kami membagikan tulisan ini di blog Blank's Stories bukan hanya sebagai arsip digital keluarga, tetapi juga sebagai pengingat bagi setiap orang tua di luar sana bahwa doa bisa dipanjatkan lewat media apa saja. Semoga tulisan sederhana ini membawa kehangatan bagi siapa pun yang membacanya.


Pekanbaru, 11 Juni 2022
Penuh cinta, Abi dan Umi Aisyah

Komentar

  1. KEREEENN TADDD NANGIS ANA DI BUATNYA 😄😄🥺🥺🥺🥺

    BalasHapus

Posting Komentar