Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 10

 Kamis, 3 Oktober 2022

Tidak terasa, lembaran catatan cinta untukmu ini sudah resmi menyentuh bagian kesepuluh, Anakku. Sepanjang bulan September kemarin, Abi benar-benar tidak menemukan waktu yang senggang untuk menuliskan sesuatu di blog ini. Baru di awal bulan Oktober inilah, Abi kembali bisa duduk tenang menghadap papan ketik untuk mengabadikan jengkal ceritamu di Blank's Stories.

Memasuki bulan Oktober ini, tepatnya pada tanggal 12 Oktober nanti, engkau akan genap berumur 6 bulan, Nak. Usia 6 bulan adalah momentum emas yang sangat dianjurkan oleh dunia medis untuk memulai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Namun, sebelum benar-benar menginjak angka 6 bulan—tepatnya saat usiamu baru 5 bulan setengah—Umimu sudah berinisiatif memberikanmu menu perkenalan berupa buah-buahan segar, mulai dari alpukat, buah naga, pepaya, hingga mangga, serta sudah mulai mengenalkanmu dengan minum air putih.

"Ada cerita unik selama fase perkenalan buah ini, Nak. Akibat pencernaanmu yang baru belajar mengolah makanan, warna kotoran (pup) milikmu mendadak berubah-ubah secara ajaib. Ketika engkau menyantap alpukat, esoknya pup mu berubah menjadi warna hijau. Lalu saat engkau lahap memakan buah naga, seketika pup mu berubah menjadi warna merah terang. Semuanya berjalan sangat selaras dan kompak dengan warna buah apa yang kamu telan hari itu."


Milestone Usia Menjelang 6 Bulan: Kegigihan Merangkak dan Tantangan Fase Oral

Di usiamu yang segini, sudah semakin banyak variasi kepandaian yang kamu pamerkan di depan Abi dan Umi. Engkau sekarang sedang bersemangat tinggi belajar merangkak. Walaupun dalam prosesnya engkau masih sangat sering terjatuh dan terjerembap, engkau sama sekali tidak kapok. Abi perhatikan, engkau tumbuh menjadi sosok anak perempuan yang sangat gigih dan pantang menyerah.

Seiring dengan kemampuanmu yang mulai bisa berpindah tempat dengan cepat, akhir-akhir ini Umimu juga sudah mulai kewalahan dan kesulitan untuk bergerak menyelesaikan urusan rumah. Umi sempat bercerita pada Abi, baru ditinggal ke belakang sebentar untuk mengurusi jemuran pakaian, engkau tahu-tahu sudah merangkak jauh sampai ke sudut rumah dan sibuk meraih barang-barang kecil di lantai.

Kondisi ini tentu sangat membahayakan jika sampai tertelan, karena saat ini engkau memang sedang berada di puncak-puncaknya fase oral—sebuah istilah medis di mana bayi memiliki kecenderungan suka memasukkan benda apa saja yang berhasil diraihnya ke dalam mulut.

Selain urusan merangkak, ada satu misteri lagi yang sedang Abi dan Umi selidiki belakangan ini. Akhir-akhir ini engkau menjadi sering terbangun di rentang malam hari, lalu tiba-tiba menangis atau merengek gelisah. Kami sedang mencari tahu bersama, apakah siklus terbangun malam ini adalah hal yang wajar karena faktor pertumbuhan (growth spurt), ataukah memang ada faktor eksternal lain yang sedang membuat tidurmu menjadi tidak nyaman, Nak.


Potret Perjuangan Umi: Belajar Membuat Kue dan Menitipkannya ke Kedai

Nak, ada satu kabar produktif tentang Umimu yang ingin Abi ceritakan di sini. Akhir-akhir ini, Umi sedang gemar sekali bereksperimen membuat aneka macam kue di dapur kontrakan kita, mulai dari donat, roti manis, hingga camilan lainnya.

Melihat hasil buatannya yang enak, Umi menanam rencana dan niat mulia untuk mencoba jualan kue kecil-kecilan demi membantu menambah kepulan asap dapur dan modal tabungan kita. Beberapa hari yang lalu, Umi bahkan sudah memberanikan diri untuk penitipkan produk donat buatannya ke dua kedai kelontong di dekat rumah.

Namun, realitas dunia bisnis memang tidak selalu berjalan mulus, Nak. Dari tumpukan donat yang dititipkan tersebut, di masing-masing kedai ternyata baru laku terjual sebanyak 2 potong kue saja. Umi sempat bercerita, beliau ingin memproduksi kue lagi, namun harus bersabar menunggu sampai ada perputaran modal berikutnya yang terkumpul.

Satu hal yang harus kamu tahu, Umimu itu sangat pintar dan berbakat dalam urusan bikin kue. Nanti kalau engkau sudah tumbuh besar, kamu harus rajin belajar ilmu membuat kue langsung dari Umi ya, Nak.


Bayi Murah Senyum yang Dinantikan Celotehnya

Di luar itu semua, Abi benar-benar merasa bahagia melihat engkau tumbuh dengan sangat sehat, ceria, dan kian hari kian pintar. Setiap kali ada tetangga atau orang baru yang berpapasan dan bertemu denganmu, mereka selalu melontarkan pujian yang sama: mereka bilang Aisyah adalah tipe bayi yang teramat murah senyum dan sangat ramah kepada siapa saja.

Abi menaruh harapan besar, semoga karakter keramahan dan kehangatan sikapmu ini akan terus terjaga dan melekat erat di dalam dirimu sampai engkau tumbuh dewasa kelak, Nak.

Saat ini engkau juga sudah mulai rajin mengeluarkan ocehan-ocehan kecil dari mulutmu, seolah-olah sedang sangat ingin berbicara dan bercerita panjang lebar kepada kami. Walaupun untuk saat ini Abi dan Umi murni belum bisa memahami apa makna di balik susunan bahasamu itu, Abi berjanji: nanti jika lidahmu sudah pandai berbicara dan kita sudah bisa mengobrol dua arah dengan lancar, Abi akan menceritakan banyak sekali kisah hebat dan seru untukmu.

Abi sudahi dulu ya untuk lembaran catatan di bagian kesepuluh ini, Anakku tercinta. Mari kita sambung kembali ceritanya di postingan blog selanjutnya.


Pekanbaru, 3 Oktober 2022

Oleh: Abi Aisyah

Komentar

Posting Komentar