Cerita • Perjalanan • Puisi

Kepada Anakku Tersayang Part 11

 Rabu, 2 November 2022

Setiap fase dalam membesarkan anak selalu membawa paket ujian dan kebahagiaannya masing-masing. Tepat pada tanggal 2 November 2022, saat Abi kembali duduk merangkai kata dalam surat ini, engkau sudah resmi memasuki usia 7 bulan di dunia, Nak. Tumbuh kembangmu sejauh ini Alhamdulillah masih berada di dalam skala grafik yang baik dan normal.

Namun, sebulan belakangan ini, hati Abi dan Umi sempat dibuat tidak tenang. Kami menemukan ada sebuah benjolan kecil di area depan dadamu, tepatnya di bawah leher. Bentuknya menyembul keras menyerupai tulang, dan kondisi fisik tersebut tak pelak membuat Umimu dirundung rasa khawatir yang teramat sangat.

Demi mendapatkan kepastian medis, kami langsung membawamu pergi berobat ke Rumah Sakit (RS) Syafira Pekanbaru untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, dokter Deddy namanya. Setelah melakukan pemeriksaan intensif, dokter menjelaskan bahwa benjolan tersebut kemungkinan dipicu oleh adanya infeksi. Engkau pun akhirnya diberikan dua jenis obat bubuk (puyer), yaitu paracetamol bubuk dan satu lagi obat racikan khusus untuk infeksinya.


Ketegangan di Tengah Isu Obat Sirup Nasional yang Di-stop

Momen berobat kita hari itu bertepatan sekali dengan situation pelik yang sedang melanda dunia kesehatan anak di Indonesia. Kala itu, Umimu baru saja mendengar kabar dan berita masif bahwasanya penggunaan seluruh jenis obat sirup untuk anak resmi di-stop pemakaiannya untuk sementara waktu oleh pemerintah.

Kondisi tersebut tentu saja menambah tumpukan rasa panik dan khawatir di dalam dada kami. Kami sempat bertanya-tanya mengapa dokter tetap meresepkan paracetamol bubuk untukmu. Rupanya, alasan dokter memberikan obat penurun panas tersebut adalah karena saat mendatangi rumah sakit untuk mengecek benjolan di lehermu, kondisi tubuhmu memang sedang mengalami demam.

Namun setibanya kita kembali di rumah, paracetamol puyer tersebut sengaja tidak dicekokkan oleh Umimu. Alasan Umi cukup logis, karena menjelang sore hari, suhu panas di tubuhmu perlahan sudah mulai turun secara alami. Walhasil, obat yang murni kamu konsumsi selama beberapa hari itu hanyalah obat racikan infeksinya saja, Nak.

Beberapa hari setelah rutin meminum obat racikan tersebut, rasa sakit yang kamu rasakan perlahan mulai terlihat berkurang. Abi dan Umi seketika bisa bernapas agak sedikit lega. Namun, saat surat ini Abi ketik, draf obatnya sudah hampir habis sedangkan benjolan di bawah lehermu itu ternyata masih ada. InsyaAllah, dalam waktu dekat kami berencana untuk membawamu kembali berkonsultasi ke rumah sakit demi menanyakan perkembangan benjolan itu secara lebih detail kepada dokter.


Milestone Bulan Ke-7: Langkah Pertama dan Kursi Makan Baru

Di luar urusan kesehatan, saat ini engkau sedang berada di tahap yang sangat seru: belajar berjalan. Walaupun posisi berdirimu belum sepenuhnya kokoh dan masih sangat sering terjatuh, engkau sudah mulai rajin Abi latih untuk melangkahkan kaki kecilmu di lantai. Harapan terbesar Abi sederhana saja, Nak; Abi hanya ingin melihat engkau dan Umi selalu berada dalam keadaan yang sehat walafiat.

"Bicara soal kesehatan, saat ini posisi Abi sebenarnya sedang terserang gejala batuk. Akibatnya, Umi dengan tegas melarang Abi untuk mencium wajahmu sementara waktu karena takut virus batuk ini menular pada tubuh mungilmu. Jujur, larangan itu terasa sangat berat bagi Abi, Nak. Sebab, rasanya belum pernah ada satu hari pun yang Abi lewatkan tanpa mencium pipimu sejak engkau lahir ke dunia."

Karena engkau tumbuh menjadi anak perempuan yang teramat aktif dan lincah, Umimu belakangan ini mulai mengeluh sering merasa kerepotan dan kewalahan setiap kali tiba sesi menyuapimu makan. Merespons kendala tersebut, Abi dan Umi akhirnya memutuskan untuk membelikanmu beberapa perlengkapan baru berupa mainan, sepeda bayi, serta sebuah kursi makan khusus (feeding chair). Keberadaan kursi makan ini terbukti sangat membantu Umi agar proses pemberian MPASI-mu bisa berjalan dengan lebih tertib dan rapi.


Target Finansial Baru: Berburu Rumah Kontrakan yang Ideal

Nak, ada satu rencana besar yang saat ini sedang Abi dan Umi ikhtiarkan bersama. Kami sedang gencar-gencarnya mencari unit rumah kontrakan baru untuk kita huni. InsyaAllah, jika dalam waktu dekat kami berhasil menemukan unit bangunan yang dirasa cocok dan pas di hati, kita akan segera mengemas barang dan pindah dari sini.

Ada beberapa faktor krusial yang melatarbelakangan mengapa Abi dan Umi menanam tekad yang kuat untuk segera angkat kaki dan pindah rumah, di antaranya:

Faktor Rencana Pindah Rumah:
1. Faktor Finansial : Menyesuaikan kembali alokasi biaya pengeluaran bulanan keluarga agar lebih sehat.
2. Faktor Geografis: Rumah kontrakan yang kita huni sekarang sering sekali terendam banjir setiap kali intensitas hujan turun lebat di Pekanbaru.
3. Faktor Kenyamanan: Umimu sering kali merasa resah dan kurang nyaman dengan kondisi tata letak dapurnya saat ini.

Doa dan harapan Abi, semoga langkah ikhtiar pindah rumah ini dipermudah oleh Allah SWT, sehingga kita bisa segera mendapatkan hunian yang jauh lebih bagus, nyaman, aman dari terjangan banjir, dan membawa keberkahan yang berlipat untuk masa kecilmu.

Abi cukupkan dulu cerita untuk bagian ini ya, Nak. Nanti kita sambung lagi kisah pencarian rumah kita di postingan berikutnya.


Pekanbaru, 2 November 2022

Oleh: Abi Aisyah

Komentar

Posting Komentar