Cerita • Perjalanan • Puisi

Bumi Dahulu vs Sekarang

Selasa, 25 Oktober 2022

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Berbicara tentang kondisi bumi di masa lalu, aku tidak akan membawa kalian bercerita terlalu jauh ke zaman purba, seribu tahun lalu, atau satu abad yang silam. Kisah itu terlalu berjarak dan pastinya tidak akan terasa relate dengan kehidupan kita sekarang. Aku hanya ingin menarik garis waktu yang lebih dekat, menceritakan kembali kisah dari zaman Atuk (kakek dalam bahasa Melayu) ketika beliau masih hidup, sekitar rentang tahun 1960-an hingga tahun 2000-an awal.

Aku masih ingat betul memori kala itu. Saat aku sedang duduk bersantai di depan kedai sambil menunggu pembeli datang, Atuk berjalan menghampiriku dari dalam kedai. Beliau berdiri di sampingku sembari menatap lurus ke arah pemandangan di depan kedai yang hamparan hutannya sudah mulai menipis.

"Dulu di sini hutannya lebat sekali, Ko," kata Atuk menyebut namaku, Eko, sambil menunjuk ke arah rerimbunan pohon. "Dulu, waktu orang-orang masih sering berkebun atau para pembalak liar masuk ke dalam, suara auman harimau itu masih sering terdengar jelas. Suara harimau itu, meskipun jaraknya terdengar jauh dari tempat kita berdiri, getarannya bisa membuat lutut kita gemetar seketika," kenang Atuk dengan mimik wajah yang sangat meyakinkan. Dari obrolan kecil di depan kedai itulah, cerita kami berlanjut membahas banyak hal tentang bagaimana alam perlahan-lahan mulai berubah rupa.

Kenangan masa kecilku tidak hanya tertambat pada cerita Atuk tentang hutan. Aku juga ingat betul bagaimana dulu aku dan adikku masih sering diberikan izin oleh Bapak untuk mandi dan berenang di aliran Sungai Siak. Maklum, posisi rumah kami memang cukup dekat dengan area sungai. Namun, jika melihat kondisi sepuluh tahun belakangan ini, pemandangan orang mandi di sungai boleh dikatakan sudah tidak ada lagi. Kata Bapak, air Sungai Siak yang dulunya jernih dan menyegarkan kini sudah tercemar parah oleh pembuangan limbah dari pabrik-pabrik industri yang tidak bertanggung jawab.

Ada satu kejadian di sungai yang tidak akan pernah aku lupakan. Pernah suatu hari, air sungai mendadak berubah keruh membuat ikan-ikan di dalamnya menjadi mabuk. Akibatnya, kami bisa dengan sangat mudah menangkap ikan-ikan tersebut karena gerakannya yang sudah tidak lincah lagi. Kami bahkan tidak memerlukan tangguk (alat tangkap ikan berbentuk saringan besar) untuk menjaringnya, cukup meraupnya dengan satu tangan kosong. Kejanggalan mulai terasa saat ikan-ikan hasil tangkapan tersebut digoreng di rumah; bau amisnya jauh lebih menyengat dan tidak biasa. Itu menjadi tanda nyata bahwa ikan yang kami tangkap sudah tidak sehat akibat racun limbah pabrik yang mengontaminasi habitat mereka.

Tiga Akar Penyebab Perubahan Wajah Bumi

Poin penting yang ingin aku garis bawahi di sini adalah kondisi bumi dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Menurut pandanganku, ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab kenapa perbedaan drastis ini bisa terjadi:

  1. Ledakan Jumlah Penduduk: Jumlah manusia yang berkembang dengan sangat pesat secara otomatis meningkatkan kebutuhan akan ruang hidup. Hal inilah yang menjadi pemantik utama pembukaan lahan-lahan baru untuk dijadikan area pemukiman warga.

  2. Masifnya Pembangunan Infrastruktur: Seiring bertambahnya populasi, fasilitas pendukung pun harus dibangun secara besar-besaran. Mulai dari rumah tinggal, sekolah, perkantoran, rumah sakit, hingga kawasan pabrik. Semua pembangunan fisik ini membutuhkan ruang yang luas, yang artinya kita harus mengorbankan area hutan. Belum lagi kebutuhan material kayu dan papan untuk bahan bangunan yang semuanya ditebang dari jantung hutan kita.

  3. Lompatan Teknologi dan Polusi: Di masa lalu, masyarakat lokal lebih akrab dengan alat transportasi dan perangkat sederhana bebas polusi seperti sepeda, gerobak, atau katrol penimba air manual. Sekarang, modernisasi membawa kita pada penggunaan sepeda motor, mobil, becak motor, helikopter, pesawat, mesin air, laptop, hingga mesin rumput. Harus kita akui, mayoritas teknologi yang kita gunakan sehari-hari saat ini memang menghasilkan emisi gas buang berupa asap dan polusi udara.

Mengenal Ancaman di Balik Selimut Polusi

Polusi udara kini telah menjelma menjadi salah satu akar permasalahan lingkungan paling krusial yang wajib kita carikan solusinya bersama-sama. Namun, sebelum melangkah ke ranah solusi, aku ingin mengajak kalian semua untuk menggali lebih dalam mengenai apa saja faktor penyumbang polusi terbesar di sekitar kita.

Jika kita petakan, penyumbang polusi udara terbesar didominasi oleh gas buang dari kendaraan bermotor yang memadati jalan raya setiap hari. Faktor berikutnya adalah bencana tahunan kebakaran hutan, asap tebal hasil pembakaran dari cerobong pabrik raksasa, kebiasaan masyarakat membakar sampah di pekarangan rumah, pembuangan sampah rumah tangga langsung ke aliran sungai, hingga faktor alamiah seperti fenomena letusan gunung berapi.

Kondisi kita saat ini seolah-olah sedang hidup di bawah kungkungan "selimut polusi". Selimut polusi yang tebal inilah yang menahan panas matahari di permukaan bumi, membuat suhu global semakin meningkat, dan memicu terjadinya perubahan iklim secara global.

Bagaimana proses ilmiah itu bisa terjadi? Berdasarkan data yang dikutip dari situs resmi Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (Ditjen PPI) Kementerian LHK, perubahan iklim dipicu oleh melonjaknya konsentrasi gas karbon dioksida ($CO_2$) dan gas-gas polutan lainnya di atmosfer, yang kemudian menciptakan fenomena efek gas rumah kaca.

Dampak buruk dari perubahan iklim ini nyata dan sangat merugikan kelangsungan hidup manusia, di antaranya:

  • Sektor Pertanian Terancam: Banyak petani yang harus menelan pil pahit karena gagal panen akibat pergeseran cuaca ekstrem yang memicu kekeringan dan krisis ketersediaan air bersih.

  • Ancaman Wabah Penyakit: Angka penyebaran penyakit meningkat tajam karena kondisi suhu yang hangat membuat kuman, bakteri, dan virus berkembang biak jauh lebih cepat.

  • Krisis Air Bersih: Terjadi penurunan kualitas yang signifikan serta pengurangan kuantitas cadangan air alami di dalam tanah.

  • Kepunahan Keanekaragaman Hayati: Kerusakan ekosistem hutan membuat satwa liar kehilangan habitat aslinya, sehingga banyak spesies hewan yang kini berada di ambang kepunahan.

  • Naiknya Permukaan Air Laut: Mencairnya gunung-gunung es di kutub utara dan selatan memicu naiknya volume air laut, yang mengancam menenggelamkan sebagian besar daerah pesisir pantai.

  • Degradasi Mutu Hutan: Kualitas dan kuantitas hutan kita terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Aksi Nyata Anak Muda Menghajar Selimut Polusi

Kita semua paham bahwa hutan adalah kunci utama sekaligus solusi alami untuk meredam laju polusi dan perubahan iklim. Hutan bekerja sebagai pabrik penghasil Oksigen (O2) terbesar sekaligus bertindak sebagai spons raksasa yang menyerap emisi Karbon Dioksida (CO2) di udara, serta menjadi daerah resapan air alami yang menjaga kestabilan tanah (informasi detail mengenai manfaat ekologis ini bisa kalian baca juga di situs Dinas Lingkungan Hidup).

Mengingat dampaknya yang sudah di depan mata, aku ingin mengetuk hati kalian semua, terkhusus bagi para generasi muda, mari kita rapatkan barisan dan bergerak bersama mengatasi perubahan iklim ini. Gerakan ini membutuhkan sinergi dari segala aspek kehidupan. Kita harus bersama-sama "menghajar" selimut polusi ini agar bumi kita bisa bernapas lega kembali.

Aku pribadi sudah mencoba memulai langkah kecil ini sejak zaman aktif di bangku kuliah dulu, sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Lewat wadah organisasi mahasiswa pecinta alam di kampus, aku ditempa untuk melakukan aksi-aksi nyata, yang esensinya masih terus aku rawat dan terapkan hingga hari ini:

  • Gerakan Menanam Pohon: Sejak kuliah sampai sekarang, aku masih konsisten menanam pohon di mana pun ada kesempatan. Bayangkan jika satu orang anak muda berkomitmen menanam satu pohon saja di lingkungan rumahnya, lalu dikalikan dengan total jumlah penduduk Indonesia, insyaAllah polusi udara di negara kita akan berkurang drastis.

  • Pembuatan Lubang Biopori: Mempraktikkan pembuatan lubang resapan air biopori di sekitar lingkungan tinggal untuk membantu meminimalisir risiko banjir saat musim hujan.

  • Disiplin Mengelola Sampah Pribadi: Menanamkan prinsip kuat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Saking kuatnya prinsip ini menancap di kepalaku, kantong celanaku sering kali penuh sesak oleh bungkus makanan atau sampah kecil karena aku belum menemukan tong sampah di jalan. Bagiku, lebih baik mengantongi sampah sendiri dulu daripada harus mengotori bumi.

Ini adalah bentuk gerakan kecilku untuk merawat bumi ini. Saatnya kita beraksi bersama melalui gerakan anak muda #MudaMudiBumi untuk menghajar #SelimutPolusi. Mari bergabung dalam gerakan kolaboratif #TeamUpForImpact demi menyelamatkan masa depan lingkungan kita melalui tagar #UntukmuBumiku.

Catatan Gagasan: Jika Aku Menjadi Pembuat Kebijakan

Sebagai penutup, jika suatu hari nanti aku diberikan amanah dan kesempatan untuk menyusun sebuah kebijakan regulasi formal dalam hal penanggulangan polusi, ada beberapa langkah strategis yang akan aku eksekusi:

  1. Optimalisasi Transportasi Publik: Mendorong dan mewajibkan masyarakat untuk beralih menggunakan moda transportasi massal seperti bus kota atau kereta api guna menekan angka emisi gas buang kendaraan pribadi secara signifikan.

  2. Menggalakkan Budaya Bersepeda: Menganjurkan warga untuk menggunakan sepeda sebagai alat transportasi jarak dekat. Kita bisa mengambil contoh dari regulasi di Jepang; meskipun mereka adalah salah satu negara produsen kendaraan terbesar di dunia, mayoritas masyarakatnya justru lebih memilih berjalan kaki, bersepeda, atau naik kereta umum untuk mobilitas harian.

  3. Reboisasi Korporasi Wajib: Menggencarkan penanaman pohon di area perkotaan serta menerapkan sanksi tegas kewajiban reboisasi hutan bagi perusahaan-perusahaan skala besar yang bergerak di industri pulp and paper.

  4. Sanksi Hukum Pencemaran Air: Menerapkan hukuman pidana dan denda yang berat bagi siapa pun, baik perorangan maupun korporasi, yang terbukti membuang limbah atau sampah ke area sungai dan laut.

  5. Hukuman Berat Pembakar Hutan: Memberikan sanksi hukum paling maksimal tanpa tebang pilih bagi para pelaku pembakaran hutan.

  6. Ekonomi Kreatif Berbasis Sampah: Memperbanyak program edukasi dan fasilitas daur ulang sampah kering terpadu untuk diubah menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.

Nah, itulah sedikit pandangan dan refleksiku mengenai perbandingan kondisi bumi dahulu versus bumi sekarang. Semoga aksi-aksi kecil yang kita lakukan hari ini bisa membantu bumi kita pulih dan kembali lestari untuk dinikmati oleh generasi anak cucu kita kelak.

Penulis: Prima Eko Putra

Komentar

Posting Komentar