Minggu, 3 Desember 2017
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Bicara tentang sikap, sifat, dan perilaku manusia merupakan dinamika sosial yang kita hadapi sehari-hari. Setiap individu terlahir dengan sifat-sifat dasar tertentu, baik itu yang bersinggungan dengan aspek positif maupun negatif. Menariknya, banyak orang yang peka dan jeli melihat celah ini, lalu berhasil mengonversi kecenderungan sifat manusia tersebut menjadi sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan.
Munculnya berbagai lini bisnis baru sering kali didasari oleh keterbatasan atau kepentingan waktu yang dihadapi manusia. Ambil contoh kehidupan mahasiswa; banyak dari mereka yang kesulitan membagi manajemen waktu antara urusan kos-kosan dengan padatnya jadwal perkuliahan. Akibatnya, mereka sering kali tidak sempat untuk sekadar mencuci baju sendiri, memasak, atau merawat diri dengan baik. Dari beberapa kondisi riil inilah kemudian timbul ekosistem bisnis seperti catering rumahan, rumah makan ampera, jasa laundry, salon kecantikan, hingga layanan transportasi dan pesan antar digital seperti Gojek, GoFood, dan GoClean. Siklus ini perlahan menjelma menjadi kebiasaan baru yang ikut mengubah karakteristik sifat generasi selanjutnya.
Teknologi Gawai dan Pergeseran Menjadi Perilaku Anti-Sosial
Kondisi ketergantungan yang ditimbulkan oleh kemudahan-kemudahan di atas lama-kelamaan mengkristal menjadi standar kebiasaan baru bagi generasi masa depan. Di masa yang akan datang, dipastikan bakal lahir inovasi bisnis lainnya yang bertujuan mempermudah segala pekerjaan domestik manusia. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar; rentetan fasilitas kemudahan ini lambat laun membawa perubahan drastis pada aspek sikap dan perilaku sosial kita.
Satu fenomena nyata yang paling terasa saat ini adalah mulai malasnya masyarakat untuk membangun jalinan sosialisasi melalui cara tatap muka langsung (*face-to-face*). Kehadiran media sosial dan perkembangan teknologi mutakhir telah memicu lahirnya perilaku anti-sosial. Hanya dengan menggenggam sebuah *gadget* atau gawai di tangan, seseorang kini bisa mengontrol dan melakukan aktivitas apa saja tanpa perlu beranjak sedikit pun dari kenyamanan kasur di dalam kamar rumah mereka.
Teori Adaptasi: Bagaimana Lingkungan Membentuk Karakter Kita
Secara psikologi sosiologi, pembentukan sikap, sifat, dan perilaku manusia itu sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat ia tumbuh. Sebagai ilustrasi, jika kita sehari-hari beraktivitas di lingkungan pasar, maka secara tidak langsung kita akan sangat menguasai teknik transaksi psikologis dan seni tawar-menawar barang karena atmosfer lingkungan memaksa kita untuk mempelajarinya.
Sama halnya jika kita menetap di lingkungan pondok pesantren; mau tidak mau, kita akan terbiasa mengikuti ritme dan kebiasaan religius orang-orang di sana. Mulai dari disiplin menjaga sholat lima waktu berjamaah, mendengarkan adzan, terbiasa mendengarkan ceramah atau khutbah, rajin mengaji, hingga mendalami khazanah ilmu agama Islam. Begitupun jika kita hidup di tengah-tengah lingkungan para pemulung, lama-kelamaan kita akan paham jenis barang apa yang bernilai ekonomis bagi mereka serta bagaimana alur perjuangan hidup harian mereka berjalan.
Kalian mungkin masih ingat dengan program acara realitas legendaris berjudul "TUKAR NASIB" yang dulu sempat jaya di layar televisi. Secara tidak langsung, esensi dari acara tersebut adalah mempertukarkan kondisi lingkungan dua orang yang berbeda kutub ekonomi. Ketika lingkungan mereka bertukar, masing-masing individu dipaksa mengerti dan merasakan langsung realitas di ekosistem baru tersebut, dan ujung-ujungnya secara otomatis akan melahirkan perubahan sikap yang signifikan pada diri mereka.
Strategi Mengubah Kebiasaan Buruk dan Perjuangan Melawan Kemalasan
Nah, merujuk pada teori adaptasi di atas, jika kita memiliki keinginan kuat untuk merubah suatu sikap buruk, langkah taktis pertamanya adalah dengan cara mencari lingkungan baru yang kondusif dan sesuai untuk menutupi kelemahan kita tersebut. Tentu teori ini tidak mutlak berlaku bagi semua orang. Ada kalanya sebagian manusia mampu merubah total sikap buruknya tanpa harus berpindah tempat atau berganti lingkungan sosial.
Hanya saja, jalur perjuangan internal yang harus ditempuh akan terasa jauh lebih berat dan berdarah-darah. Contoh riilnya adalah seseorang yang memiliki tekad kuat untuk berhenti merokok, namun dia memilih untuk tetap bertahan di dalam pusaran lingkaran pertemanan para perokok aktif; bisa dibayangkan betapa beratnya menahan godaan tersebut. Kita juga mungkin pernah mendengar kisah tentang seseorang yang tetap rajin dan istiqomah menegakkan ibadah sholat, meskipun dia hidup di tengah-tengah lokalisasi atau lingkungan prostitusi. Itu adalah bukti nyata bahwa merubah diri di lingkungan yang toxic membutuhkan energi perjuangan yang luar biasa besar karena tarikan pengaruh negatif di sekitarnya begitu kuat.
Tulisanku malam ini pada akhirnya kembali menjadi tamparan keras bagi diriku pribadi. Catatan ini menjadi pengingat tentang betapa beratnya perjuanganku selama ini untuk mendobrak dan mengubah sifat malasku sendiri.
Meskipun lingkungan sekitarku sebenarnya tidak begitu membawa pengaruh buruk, harus kuakui bahwa sifat malas ini terlanjur mengakar dan berubah wujud menjadi sebuah kebiasaan harian (*bad habit*), ditambah lagi posisi tawar pengaruhku di lingkungan masih tergolong lemah. Namun, semuanya harus dikembalikan lagi pada poros niat di dalam hati; jika orang lain di luar sana bisa berproses untuk berubah menjadi lebih baik, lantas mengapa aku tidak?
Salam perubahan dan refleksi diri,
Blank
Komentar
Posting Komentar