Cerita • Perjalanan • Puisi

Aku Sudah Tua, Tapi Belum Dewasa: Refleksi Umur 29 Tahun, Didikan Bapak, dan Amanah Seorang Guru

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillah, segala bentuk syukur kita panjatkan kepada Allah عزوجل, serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Lama betul jemari ini tidak menari di atas papan kunci laptop. Sudah tiga bulan lebih blog ini sunyi. Aku harus jujur pada diri sendiri: aku terlalu sibuk menuruti rasa malas dan selalu sibuk mencari alasan demi alasan untuk tidak menulis—sebuah pembenaran ego yang sebenarnya sama sekali tak layak untuk dibenarkan.

Hari ini, izinkan aku membagikan sebuah catatan perenungan personal yang aku beri judul: "Aku Sudah Tua".

Ketika aku menyebut kata "tua", itu berarti yang sedang aku bahas adalah angka usiaku. Tahun ini aku resmi menginjak umur dua puluh sembilan tahun. Namun di balik angka yang terus merangkak naik itu, aku merasa diriku masih belum sepenuhnya dewasa. Sebab, dewasa itu bukan soal angka, melainkan masalah pikiran.

Kedewasaan bisa saja sudah tertanam di dalam diri anak-anak muda ataupun remaja, karena ia bicara tentang sudut pandang dan pola pikir yang matang. Dewasa adalah soal bagaimana kita bertanggung jawab atas amanah yang dibebankan, serta bagaimana kita disiplin dalam mengeksekusi sesuatu. Dalam hal disiplin, aku harus mengakui bahwa aku masih orang yang payah. Dewasa juga soal bagaimana kita menghadapi masalah—apakah kita memilih lari atau tegak berdiri melawan masalah tersebut hingga melaluinya dengan kemenangan. Dewasa juga tercermin dari bagaimana tindakan kita saat merespons sesuatu; dan aku, sampai hari ini, masih mudah tersulut emosi oleh api-api kecil. Aku belum dewasa, aku masih butuh banyak belajar.

Warisan Didikan Bapak dan Hilangnya Survival Skill Generasi Muda

Kau tahu apa yang sebenarnya membentuk dirimu menjadi dewasa? Benar, pengalaman hidupmu.

Sejak aku kecil, aku beruntung sering diajak oleh Bapak untuk melakukan pekerjaan fisik. Aku sering diajak menggergaji sesuatu, sehingga aku bisa memahami teknik menggergaji dengan baik sekarang. Aku sering diajak memalu atau membuat apa saja yang berhubungan dengan pertukangan. Aku juga sering diajak memperbaiki instalasi listrik rumah yang rusak, diajarkan bagaimana cara berenang yang benar, hingga diajak bermain teka-teki untuk mengasah logika.

Satu hal yang paling membekas, Bapak selalu mengajarkan aku untuk tetap tenang jika sedang berada di dalam masalah. Beliau bilang, kepanikan hanya akan membuat pikiran kita tidak bisa berpikir jernih. Jika kepanikan itu dituruti, ia akan mengakibatkan sesuatu yang buruk terjadi.

Ketika aku melihat realitas anak-anak zaman sekarang, terkadang aku miris. Hanya untuk menaikkan galon air ke atas dispenser saja, tidak jarang mereka kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mencuci karpet di rumah pun banyak yang tidak tahu langkah yang tepat—bahwa karpet itu harus dipukul-pukul terlebih dahulu dalam kondisi kering agar butiran pasir yang tenggelam di dalam seratnya bisa keluar.

Mungkin, mereka bersikap seperti itu karena memang tidak ada yang mengajari di rumahnya. Realitas ini membawaku pada satu kesimpulan: beberapa orang tua di luar sana sebenarnya belum siap ketika mereka menjadi orang tua. Mereka kurang belajar ilmunya dan hanya sekadar menikah begitu saja tanpa persiapan mental. Mungkin, absennya ilmu pengasuhan (parenting) inilah yang menjadi salah satu pemicu mengapa angka perceraian di negeri kita kian hari kian tinggi.

Menjaga Bumi Allah Lewat Nafas Organisasi

Pada umurku yang sudah menyentuh 29 tahun ini, aku merasa belum banyak berbuat hal besar untuk menjaga bumi Allah yang telah diamanahkan kepada manusia sebagai khalifah.

Beruntung, aku sempat tergabung dengan organisasi pencinta alam. Wadah inilah yang memberiku banyak pasokan pengetahuan tentang bagaimana cara memperlakukan alam secara terhormat. Paling tidak, ilmu dari organisasi itu aku terapkan dalam skala kecil kehidupan sehari-hariku: aku berkomitmen tidak membuang sampah sembarangan, aku tidak akan memaku batang pohon hanya untuk meletakkan spanduk, aku tidak mengotori sungai dengan sampah, dan aku juga tidak membakar sampah di sembarang waktu yang bisa mengganggu lingkungan sekitar.

Menjemput Amal Jariyah di Sisa Usia

Jika kita mengingat kembali sejarah, umur Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم di dunia ini disudahi pada angka enam puluh tiga tahun. Itu berarti, jatah umurku di dunia sekarang sudah berjalan hampir setengah dari umur Rasulullah. Sementara di sisi lain, aku merasa belum banyak berbuat apa-apa untuk menegakkan agama Allah ini.

Namun, aku tidak boleh menyerah pada keadaan. Saat ini, jalanku untuk berpartisipasi dan berkontribusi adalah dengan mendedikasikan diri menjadi seorang guru. Lewat profesi ini, aku memikul tanggung jawab untuk mendidik dan mengajarkan para murid tentang bagaimana cara membela dan menegakkan agama Allah di muka bumi.

Semoga ikhtiar kecilku sebagai guru ini bisa dicatat sebagai Amal Jariyah yang terus mengalir tanpa putus. Semoga lewat jalan pengabdian ini pula, Allah berkenan menyelamatkan diriku dari perihnya azab kubur dan azab neraka di akhirat kelak.

Aku sudah tua secara angka, tapi aku sadar aku belum sepenuhnya dewasa. Dan di sisa usia ini, aku akan terus belajar setiap harinya tentang bagaimana cara menjadi manusia yang dewasa seutuhnya.

Pekanbaru, 15 Mei 2023

Oleh: Prima Eko Putra (Blank's Stories)

Komentar

Posting Komentar