Rabu, 17 Mei 2023
Aisyah, anak Abi yang sholehah... Semoga Allah SWT senantiasa melindungi jengkal langkahmu, merahmati sisa usiamu, dan menghujani dirimu dengan kasih sayang-Nya yang tak pernah putus, Nak.
Jujur, baru saja Abi mengetik baris pembuka untuk surat ini pada tanggal 17 Mei 2023, kelopak mata Abi sudah mendadak berkaca-kaca menahan haru. Ada sebuah harapan yang teramat besar yang Abi tumpukan di atas pundak kecilmu: Abi berdoa agar kelak di akhirat, engkau bisa menjelma menjadi wasilah penyelamat yang meringankan beban Abi di alam kubur nanti, Nak.
Kurang lebih sudah tiga bulan lamanya Abi absen dan tidak menuliskan pesan digital untukmu di blog Blank's Stories ini. Pesan ini sengaja Abi titipkan agar bisa kamu baca dan selami kembali maknanya kelak, di saat akal dan pikiranmu sudah mampu memahami apa saja rentetan takdir besar yang telah kita lalui bersama. Sepanjang tiga bulan masa jeda tersebut, ada begitu banyak dinamika besar yang telah menguji keteguhan hati keluarga kecil kita.
Ketakutan Terbesar Abi: Menghadapi Dua Kali Operasi di Usia Belia
Ujian terberat itu akhirnya datang, Nak. Dalam jarak waktu yang terhitung tidak terlalu jauh, engkau terpaksa harus naik ke meja operasi sebanyak dua kali pada titik posisi tubuh yang sama.
Sebagai seorang ayah, Abi sempat dirundung ketakutan yang teramat besar jika rentetan tindakan medis tersebut akan menyisakan trauma mendalam di dalam memori masa kecilmu. Ketakutan Abi bukan tanpa alasan; setiap kali Abi dan Umi membawamu pergi ke rumah sakit untuk melakukan sesi konsultasi dengan dokter spesialis bedah anak kepercayaan kita, dr. Ismar, engkau spontan akan langsung menangis sekencang-kencangnya.
Padahal, langkah kaki kita baru saja menyentuh area pintu masuk klinik, belum sampai masuk ke dalam ruangannya. Rupanya, engkau sudah sangat menghafal dengan baik bagaimana raut wajah dokter tersebut. Menyaksikan tangisan histerismu di depan pintu, dada Abi rasanya teriris, Nak. Abi teramat takut kamu didera trauma psikologis.
Namun, Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, seluruh rangkaian operasimu kini telah selesai dieksekusi dengan aman dan lancar. Sekarang, tubuh mungilmu sudah benar-benar bersih dan aman dari benjolan yang selama ini menyembul di depan dada di bawah lehermu itu.
"Harapan dan doa terdalam Abi, semoga ini menjadi operasi yang terakhir di dalam hidupmu dan tidak akan pernah ada lagi tindakan operasi-operasi lainnya di masa depan. Orang tua mana di muka bumi ini yang sanggup berdiri tegap menyaksikan tubuh anak kandungnya berlumuran darah pasca-operasi? Jujur, Abi secara mental mengaku tidak akan pernah sanggup melihat pemandangan itu lagi, Nak."
Lingkungan Baru di Jalan Ikhlas: Bebas Banjir dan Kaya Teman Bermain
Selain perjuangan di rumah sakit, ada sebuah kabar pembaharuan yang cukup melegakan. Kita sekarang sudah resmi pindah dari rumah kontrakan lama yang berada di Jalan Merpati. Dipicu oleh adanya beberapa kendala dan permasalahan di lingkungan lama, Abi dan Umi akhirnya sepakat untuk mengemas barang and mencari atmosfer hunian yang baru.
Detail Lokasi Kediaman Baru kita: - Alamat Baru : Jalan Ikhlas, Pekanbaru - Patokan Lokasi : Area dekat bangunan SDN 133 Pekanbaru - Karakteristik : Lingkungan ramah anak, aman, dan bebas banjir
Alhamdulillah, keputusan pindah rumah ini berbuah manis. Lingkungan di Jalan Ikhlas ini berjalan sangat bagus dan kondusif. Di sekitar kompleks rumah kita yang baru ini ada banyak sekali anak-anak kecil yang usianya sebaya denganmu. Dampaknya, sekarang engkau memiliki banyak sekali teman untuk berinteraksi dan bermain bersama. Kondisi ini tentu jauh berbeda dengan rumah kontrakan kita yang lama, di mana lingkaran pertemananmu sangat terbatas—hanya memiliki Abi, Umi, dan seorang tetangga saja sebagai teman bermain.
Milestone Usia 1 Tahun Lebih: Hobi Manjat dan Drama Tuas Dispenser
Di usia yang sekarang, tingkat kecerdasan dan kelincahan fisikmu berkembang dengan sangat pesat. Engkau sudah sangat pandai berlari ke sana kemari tanpa kehilangan keseimbangan, serta sudah mulai memahami dengan baik beberapa instruksi lisan yang Abi berikan.
Setiap kali Abi melangkah pulang ke rumah selepas menunaikan kewajiban mengajar di sekolah, Umimu selalu menyambut Abi di pintu dengan rentetan cerita unik tentang kejadian apa saja yang sudah kamu lakukan sepanjang hari. Dan kamu harus tahu, Nak, Umimu selalu memasang ekspresi yang sangat excited dan penuh semangat setiap kali mendongengkan tingkah lakumu itu kepada Abi.
Umi bercerita bahwa sekarang engkau sedang gandrung-gandrungnya melakoni hobi baru: memanjat. Segala bentuk undakan atau jenjang yang tertangkap oleh radar matamu di dalam rumah, pasti akan langsung kamu daki dengan penuh rasa ingin tahu.
Subuh engkau juga sudah mulai pandai memegang gelas untuk minum sendiri, sudah paham bagaimana cara memberikan kode khusus jika sedang ingin meminta ASI dari Umi, serta sudah sangat fasih mempraktikkan gerakan cium tangan ke punggung tangan Abi dan Umi.
Bahkan, ada satu kenakalan kecilmu yang sering kali membuat kami tertawa: engkau sudah pandai menarik-narik tuas dispenser air di ruang tengah. Akibat hobi barumu yang suka memainkan air dispenser itu, Umimu sampai terpaksa memutar posisi badan dispensernya menghadap ke arah tembok bagian belakang. Imbasnya, sekarang malah Abi dan Umi yang harus bersusah payah dan kesulitan setiap kali ingin mengambil air minum. Namun, demi melihat keselamatanmu, semua repot itu kami lalui dengan senyuman. Mendengar tumpukan cerita jenaka dari Umi sepulang kerja seperti itu terbukti ampuh melunturkan seluruh rasa lelah dan penat yang Abi rasakan di sekolah.
Pengalaman Pertama Naik Motor Berdua dan Doa di Balik Nama "Assyifa’"
Ada satu momen kedekatan kita yang sangat berkesan bagi Abi belakangan ini. Abi sempat sekali mengajakmu ikut serta pergi menunaikan ibadah shalat berjamaah di musholla dekat rumah baru kita. Tak disangka, pengalaman pertama itu rupanya membuatmu ketagihan, Nak. Sekarang, setiap kali melihat Abi sudah bersiap-siap memakai pakaian rapi untuk pergi shalat ke musholla, engkau akan langsung bergerak cepat mendekati dan memegangi baju Abi. Engkau rupanya sudah mengerti pertanda bahwa kamu akan ditinggal pergi beribadah jika tidak ikut bersiap.
Tak hanya itu, Abi juga sudah mulai memberanikan diri untuk mengajakmu berkendara naik sepeda motor berdua saja—murni berdua, di mana engkau Abi gendong di depan tanpa ada keberadaan Umi yang menjaga di posisi jok belakang. Hebatnya, sepanjang roda motor Beat kita berputar membelah jalanan Pekanbaru, engkau bisa duduk anteng dan tenang sekali menikmati embusan angin tanpa ada drama menangis sama sekali.
Jujur, Nak... Abi sudah benar-benar tidak sabar untuk menantikan momentum di mana engkau sudah pandai berbicara secara lancar dan fasih. Abi ingin menjadi orang pertama yang mengajarimu banyak hal hebat tentang kehidupan di bumi ini.
Kamu harus tahu sebuah rahasia kecil, Nak. Abi dan Umi memendam sebuah cita-cita dan doa yang teramat besar agar kelak saat dewasa, engkau bisa tumbuh menjadi seorang Dokter Spesialis. Itulah alasan fundamental mengapa kami sepakat menyematkan nama "Aisyah Assyifa’" kepadamu sejak lahir. Kata "Assyifa" memiliki esensi makna sebagai obat atau penyembuh. Harapan terbesar kami, semoga kelak dengan izin dan ridha Allah SWT, lewat perantara kedua tanganmu, engkau bisa menyembuhkan dan meringankan rasa sakit dari banyak orang di dunia ini.
Abi cukupkan dulu ya untuk postingan di bagian kehamilan dan pasca-operasi ini, Anakku sayang. Kita sambung kembali untaian ceritanya di postingan blog selanjutnya. Salam sayang penuh cinta dari Abimu untukmu.
Pekanbaru, 17 Mei 2023
Oleh: Abi Aisyah
Komentar
Posting Komentar