|
| Foto dari Puncak Paku |
Ini merupakan kelanjutan kisah dari cerita sebelumnya, yaitu petualangan seru kami menuju Kawasan Wisata Mandeh Bagian I. Mari kita simak kelanjutan ceritanya!
Sabtu, 13 Maret 2021
Aku terbangun jam 3 subuh karena kedinginan oleh embusan AC yang begitu sejuk. Karena amat sangat malas untuk bangkit mengambil selimut, kuputuskan untuk bangun saja sekalian. Rencananya aku ingin menunaikan shalat Tahajjud di Masjid Al Hakim. Namun ternyata, ketika aku sampai di depan gerbang masjid tersebut, pagarnya masih dikunci rapat.
Aku pun berjalan pulang kembali ke penginapan. Sialnya, aku lupa bahwa sistem pintu di penginapan itu jika sudah keluar harus membawa kartu akses, jika tidak kita tidak akan bisa masuk kembali. Aku sempat bingung dan berniat untuk tidur saja di kursi depan penginapan, tetapi urung karena banyak nyamuk dan ukuran kursinya juga kecil. Beruntung, setelah kucoba mengirimkan pesan WhatsApp ke Ustadz Boy, ternyata beliau terbangun dan langsung membukakan pintu untukku. Akhirnya, aku menunaikan shalat Tahajjud di pelataran penginapan.
Menjelang masuk waktu Subuh, aku sudah bersiap menuju masjid demi mengejar shaf terdepan. Selesai melaksanakan shalat Subuh, kami langsung menikmati sarapan pagi berupa lontong bungkus. Pihak penginapan sengaja mematangkan menu bungkusan itu lebih awal karena rencana awal kami harus berangkat jam 6 pagi, sehingga dapur mereka belum siap menyediakan sarapan prasmanan jam segitu. Sebagai bentuk tanggung jawab, ketua mobil membawakan sarapan untuk anggotanya, dan aku harus bolak-balik ke penginapan para ustadzah untuk mengantarkan jatah makanan tersebut.
Selesai sarapan, kami langsung bertolak menuju ke Kawasan Mandeh dengan rute melewati Teluk Bayur dan Pantai Caroline. Ini menjadi kali kedua bagiku menginjakkan kaki di Teluk Bayur dan Pantai Caroline, setelah perjalanan pertama bersama keluarga besar saat arah pulang dari acara bibiku yang sempat kuceritakan pada bagian pertama kemarin. Selepas melintasi jalur tersebut, aku dibuat takjub oleh pemandangan alam yang tersaji. Di sepanjang jalan, hamparan pulau-pulau kecil berpadu indah dengan air laut yang berwarna biru pekat. Kami sempat melipir singgah sebentar di Puncak Paku untuk berfoto karena pihak pengelola setempat sudah menyediakan spot berfoto yang ciamik.
Kami tiba di area pelabuhan sekitar jam 7 atau 8 pagi. Setelah mendengarkan instruksi singkat (*briefing*) mengenai rute perjalanan oleh pemandu wisata, kami langsung menaiki kapal kecil untuk berlayar menuju pulau-pulau yang akan dikunjungi. Selama berada di atas kapal, aku lebih banyak terdiam sambil merenungi betapa indahnya panorama yang terpampang di depan mata, maklum saja aku tergolong jarang menyaksikan pemandangan seindah itu.
Destinasi pertama yang kami tuju adalah titik penyelaman permukaan (*snorkeling*). Begitu kapal berhenti, seluruh peserta langsung antusias turun ke laut untuk menyaksikan keindahan bawah laut secara langsung. Meskipun kakiku sempat terluka karena terkena goresan karang tajam, rasa perih itu tertutup oleh rasa kagum. Ini adalah pengalaman pertama kalinya aku melakukan *snorkeling* dan melihat kekayaan bawah laut dengan mata kepala sendiri. Masyaallah, sungguh mempesona! Aku melihat beragam jenis ikan karang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Suasana laut sangat ramai, bahkan beberapa rekan yang tidak bisa berenang pun tetap nekat menceburkan diri demi tidak melewatkan kesempatan langka ini. Selepas puas menikmati *snorkeling*, kapal bergerak menuju spot lompat tebing (*cliff jumping*) yang memiliki variasi ketinggian hingga 15 meter. Karena aku menyukai tantangan, aku langsung memilih titik tertinggi 15 meter tersebut dan melompat sebanyak dua kali, ditambah sekali lompatan di titik ketinggian 7 meter. Sungguh pengalaman yang memacu adrenalin!
Setelah puas memacu adrenalin, kami merapat ke sebuah pulau untuk menikmati makan siang. Agenda kemudian berlanjut dengan keseruan bermain wahana air banana boat dan donut boat. Jadwal perjalanan kami benar-benar padat dan tersusun rapi tanpa ada waktu yang terbuang sia-sia. Sebagai penutup rangkaian wisata air, kami bergerak menuju Air Terjun Sungai Gemuruh untuk mandi sekaligus membilas badan menggunakan air tawar agar terbebas dari sisa air asin. Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian kering, aku menyempatkan diri memesan segelas Pop Mie hangat, menu wajib yang tidak boleh ketinggalan.
Saat perjalanan pulang menyusuri laut dengan kapal kecil, aku termenung dalam durasi yang cukup lama. Aku tersadar bahwa selama hidup ini, aku baru mencicipi sebagian kecil dari keindahan ciptaan Allah Azza Wa Jalla. Langkah kakiku baru seputar Pekanbaru, Kampar, dan rute terjauh barulah sampai di Kawasan Mandeh ini. Namun, bentang alam ini sudah sukses membuatku takjub luar biasa. Air mataku sempat menetes berkali-kali karena haru, meski buru-buru kuhapus agar tidak terlihat kawan yang lain. Bahkan hingga kapal bersandar di pelabuhan, memori keindahan laut itu masih melekat kuat di benakku. Betapa kerdilnya diri kita ini di hadapan kemegahan ciptaan-Nya, apalagi di hadapan Allah yang Maha Besar.
Setelah merapikan barang di pelabuhan, kami segera mencari masjid terdekat untuk menunaikan shalat Jamak, kemudian langsung melanjutkan perjalanan darat menuju Bukittinggi. Rencananya, kami akan menghabiskan malam terakhir rangkaian rihlah di sekitaran Jam Gadang. Namun, perjalanan menuju ke sana memakan waktu yang cukup panjang, ditambah faktor cuaca yang memaksa kami menembus guyuran hujan lebat hingga baru tiba di hotel sekitar jam 8 malam. Medan jalan yang basah menuntut tingkat kewaspadaan yang tinggi dari para pengemudi.
Setibanya di Hotel Paviliun, panitia langsung membagikan kunci kamar kelompok. Kali ini aku menempati satu kamar bersama Ustadz Taufiq, Ustadz Ihsan, dan Ustadz Didi. Aku sudah cukup akrab dengan mereka karena pada agenda pendakian Gunung Marapi bersama Azzuhra Group beberapa waktu lalu, mereka juga ikut dalam tim. Malam itu, sebelum mengistirahatkan badan, aku memilih mandi air hangat terlebih dahulu karena sempat terkena percikan air hujan saat mencari makan malam di luar. Aku sengaja menahan kantuk karena ada satu unit mobil rombongan Al Kindi yang dikemudikan Ustadz Muslim belum tiba di lokasi, mereka berjalan beriringan dengan mobil Pak Abrar. Setelah memastikan seluruh tim mereka mendarat dengan selamat di hotel, barulah aku bisa tidur dengan tenang. Mau bagaimanapun, aku mengemban amanah sebagai koordinator perjalanan dari unit Al Kindi. Jika secara keseluruhan operasional dipegang oleh Ustadz Eko dari pusat; beliau bertindak sebagai Eko Senior, sedangkan aku sebagai Eko Junior.
Ahad, 14 Maret 2021
Memasuki hari Ahad pagi, panitia memberikan kelonggaran agenda bebas bagi peserta. Sebagian rekan-rekan memilih untuk memanfaatkan fasilitas kolam renang hotel, sedangkan aku dan beberapa ustadz lainnya mencoba fasilitas ruang kebugaran (*gym*) yang disediakan hotel, hitung-hitung melakukan olahraga ringan (meskipun niat utamanya murni hanya ingin mencoba fasilitasnya saja, hehe).
Setelahnya, kami diarahkan oleh Ustadz Eko untuk menikmati sarapan pagi. Kami dari jajaran asatidz (ustadz-ustadz) memilih melipir sarapan di area Los Lambung Pasar Bukittinggi, sedangkan para ustadzah menikmati sarapan pagi premium ala hotel berbintang. Skema pembagian tempat sarapan ini sudah disepakati bersama sejak awal di Pekanbaru, sehingga tidak ada kendala atau kecemburuan di lapangan. Selesai menyantap makanan, beberapa peserta memanfaatkan waktu luang untuk berburu oleh-oleh khas. Ustadz Eko memberikan batas waktu maksimal jam 10 pagi seluruh peserta sudah harus berkumpul kembali di area hotel.
Karena aku dan Ustadz Ihsan tidak memiliki daftar barang yang ingin dibeli, kami memilih menghabiskan waktu dengan berjalan santai mengitari pelataran Jam Gadang. Sebenarnya kami berniat untuk melanjutkan langkah kaki menuju ke Ngarai Sianok, tetapi karena kami lupa tidak membawa masker medis (yang menjadi syarat wajib protokol setempat), niat tersebut terpaksa kami urungkan. Kami pun memilih melangkah kembali ke hotel, sementara Ustadz Ihsan mendadak berbalik arah karena baru teringat ada buah tangan yang harus dibelinya. Tak berselang lama, seluruh tim melakukan persiapan pulang ke Pekanbaru sambil mengemas tumpukan kerupuk sanjai yang sudah dipesan kolektif sebelumnya. Aku pribadi memilih tidak memesan buah tangan agar praktis dan tidak menambah beban bawaan di dalam mobil. Kami resmi bertolak pulang sekitar pukul 10 lewat, sempat berhenti sejenak di SPBU Sarilamak untuk menunaikan shalat Jamak Zuhur dan Ashar, lalu tiba di kawasan megah Kelok Sembilan sekitar pukul 1 siang untuk menikmati makan siang bersama.
Di titik Kelok Sembilan inilah kami menggelar prosesi penutupan acara rihlah, sekaligus melakukan sesi perekaman video singkat mengenai kesan dan pesan dari masing-masing unit selama perjalanan berlangsung. Setelah seluruh rangkaian seremonial rampung, mobil bergerak menuju Pekanbaru. Detail perjalanan pulang yang panjang sengaja tidak aku ulas di sini.
Bagiku pribadi, agenda rihlah kali ini membawa makna yang sangat mendalam dan meninggalkan kesan yang membekas di hati. Aku benar-benar dibuat takjub oleh keindahan ekosistem bawah laut yang baru pertama kali kusaksikan secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Untuk pesan penutup, aku ingin menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada jajaran manajemen Yayasan Sinar Mulia Sejahtera serta Yayasan Al Fatih Pekanbaru yang telah sudi memberikan kesempatan berharga yang luar biasa ini kepadaku. Aku tidak tahu pasti kapan momentum indah seperti ini akan terulang kembali. Jika di kemudian hari ada agenda rihlah jilid berikutnya—dan aku sangat berharap itu ada—aku memastikan diri ingin ikut kembali guna menjelajahi mahakarya ciptaan Allah di belahan bumi yang lain. Terima kasih banyak, Tim!
Berikut lampiran dokumentasi foto perjalanan. Karena terlalu asyik menikmati keindahan alam, aku jadi tidak terlalu banyak mengabadikan gambar:
|
| Pemandangan laut Mandeh dari ketinggian |
|
| Dokumentasi bersama di area Pelabuhan Wisata |
|
| Pesona perairan Mandeh yang menakjubkan |
|
| Momen kontemplasi mensyukuri kebesaran Ilahi |
|
| Gedung Hotel Paviliun Bukittinggi |
|
| Fasilitas kolam renang tepat di belakang area kamar |
|
| Fasilitas pusat kebugaran (gym) hotel |
By: Blank
Komentar
Posting Komentar