Cerita • Perjalanan • Puisi

Apa yang Kau Tanam Itulah yang Kau Tuai: Refleksi Pendidikan Karakter Anak

Sebagai manusia, kita memang tempatnya lupa, khilaf, dan salah. Itulah mengapa kita perlu diingatkan berkali-kali tentang hal yang sama, walaupun hal tersebut sudah sering kita dengar, atau bahkan mungkin kita sendiri yang sering mengucapkannya kepada orang lain.

Pembahasan kali ini adalah tentang sebuah pepatah lama yang sangat mendalam: "Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai."

Saya tidak ingin membahas topik yang terlalu berat. Di sini, saya hanya ingin berbagi pemikiran ringan yang harapannya bisa membuka pola pikir kita bersama mengenai cara kita mendidik generasi penerus.

Fitrah Kebaikan dan Fenomena Anak Zaman Sekarang

Sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia bahwa saat kita berbuat baik, maka kebaikan itu sendiri yang akan kembali kepada kita. Namun, hukum alam ini juga berlaku dalam hal pengasuhan anak.

Pernahkah Anda berpikir, mengapa anak-anak zaman sekarang sepertinya sangat dimanja oleh orang tuanya? Mengapa polanya terasa jauh berbeda dengan apa yang kita alami dulu?

Untuk melihat dampaknya, mari kita coba bandingkan dua kilas balik berikut ini.

1. Aturan Waktu Maghrib: Dulu vs Sekarang

Saya teringat masa kecil saya dulu, sekitar kelas 4 sampai 6 SD (kisaran umur 10 sampai 12 tahun) di kampung Buatan II. Ketika saya pulang petang dan hampir azan Maghrib berkumandang, Ibu akan memarahi saya habis-habisan. Kadang-kadang Ibu bisa saja memukul (dalam konteks mendidik), tetapi lebih seringnya Ibu akan mengoceh panjang lebar.

Kenapa Ibu sampai semarah itu? Analisis saya sederhana:

  • Saya belum mandi sore dan pastinya berkeringat karena tergolong anak yang hiperaktif (dan pastinya bau!).

  • Waktu shalat Maghrib sudah sangat dekat.

Saat saya kecil, ibadah shalat menjadi fokus utama para orang tua di kampung kami. Ibu saya tidak ingin saya melewatkan shalat Maghrib berjemaah di masjid, karena sehabis itu agenda wajib saya adalah mengaji bersama Ibu.

Sekarang, mari kita bandingkan dengan fenomena yang terlihat mata saat ini. Beberapa kali saya melihat anak-anak masih asyik bermain sampai Maghrib. Bahkan ada yang baru sampai di rumah ketika shalat Maghrib sudah selesai, dan si anak sama sekali tidak dimarahi atau diberikan ultimatum bahwa perbuatannya keliru. Orang tua membiarkannya begitu saja. Apakah esensi waktu Maghrib dan ibadah sudah tidak begitu penting lagi hari ini?

2. Sikap Orang Tua Terhadap Guru di Sekolah

Kilas balik kedua adalah tentang rasa hormat kepada guru. Saat saya kecil dulu, jika saya berbuat salah di sekolah lalu dimarahi oleh guru, kemudian saya mengadu ke Ayah atau Ibu di rumah, bukannya dibela, saya justru akan ditambah marahi oleh orang tua.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang kerap kita lihat hari ini. Ketika si anak berbuat salah di sekolah lalu ditegur oleh gurunya, sesampainya di rumah ia mengadu kepada orang tua. Alih-alih menasihati anaknya, sang orang tua justru mendatangi sekolah untuk memarahi atau bahkan menuntut sang guru. Apakah sistem pendidikan guru sekarang yang berubah, ataukah mentalitas kita sebagai orang tua yang bergeser?

Hubungan Pola Asuh dengan Hukum "Menanam dan Menuai"

Lantas, apa hubungannya semua fenomena di atas dengan pepatah "apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai"?

Kaitannya sangat erat. Karakter kita yang ada sekarang adalah hasil kerja sama dari didikan orang tua dan guru-guru kita di masa kecil. Apa yang kita lakukan kepada anak-anak kita hari ini tidak akan terlihat hasilnya besok atau lusa, melainkan 10 atau 20 tahun yang akan datang.

  • Jika kita menanamkan pendidikan karakter, kedisiplinan, dan rasa hormat kepada anak sejak dini, kita akan memanen seorang dewasa yang bertanggung jawab dan berakhlak mulia di masa depan.

  • Sebaliknya, jika hari ini kita membiarkan kelalaian, mengajarkan ketakutan salah tempat, atau memaklumi penyimpangan, hasilnya juga akan terlihat nanti. Anak-anak tersebut akan tumbuh dengan pola pikir keliru yang kita pupuk sejak mereka masih kecil.

Pola asuh adalah investasi jangka panjang. Apa yang kita tanam di dalam jiwa anak-anak hari ini, itulah kualitas masa depan yang akan kita tuai kelak. Sebuah pepatah lama yang akan selalu relevan sepanjang hidup kita.

Ditulis oleh: Blank Postingan Asli: Senin, 27 Desember 2021

Komentar

Posting Komentar